Menu

“Yesus Tidak Menghukum Homoseksualitas”

Pada umumnya, budaya Amerika secara agresif mempromosikan gaya hidup homoseksual yang penuh dosa. Di tengah-tengah tekanan seperti itu, banyak orang yang menyebut diri mereka Kristen mengalah dan menerima gaya hidup sesat ini terlepas dari ajaran Allah yang secara jelas menentangnya (Butt, 2003). Beberapa tahun yang lalu, penyanyi country Carrie Underwood menyatakan bahwa iman Kristennya menuntunnya untuk mendukung perkawinan gay (Nilles, 2012). Sebenarnya, kehidupan dan ajaran Yesus Kristus tidak pernah dapat secara akurat dipahami sebagai menuntun orang untuk menyimpulkan bahwa perkawinan homoseksual adalah bermoral (Miller and Harrub, 2004).

Salah satu argumen paling umum yang dibuat untuk mendukung homoseksualitas adalah bahwa Yesus Kristus tidak secara eksplisit mengutuk praktik tersebut. Agaknya, karena Yesus tidak pernah menyatakan secara spesifik: “Homoseksualitas adalah dosa,” maka kegagalan-Nya untuk mencela gaya hidup itu dapat ditafsirkan sebagai berarti Ia menyetujuinya. Alasan ini penuh dengan kesalahan. 

Pertama, Yesus menjelaskan kepada para pengikut-Nya bahwa Ia tidak punya waktu untuk mengajarkan kepada mereka semua hal yang perlu mereka ketahui. Ia memberitahu mereka bahwa Roh Kudus akan mengingatkan kepada mereka segala hal yang telah Ia ajarkan, dan akan mencakup pengajaran tambahan yang Ia tidak punya waktu untuk membahasnya. Ia memberitahu para murid-Nya: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-13). Ketika kita melihat tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang terilham, kita melihat para penulis itu dengan berani dan secara khusus mengutuk praktik itu berdasarkan wahyu yang mereka terima dari Roh Kudus (Miller and Harrub, 2004). Dengan demikian, menyarankan bahwa ajaran Yesus di dalam Alkitab hanya “kata-kata berwarna merah” adalah salah. Sebaliknya, Ia menubuatkan bahwa lebih banyak pengajaran akan dilakukan setelah kedatangan-Nya kembali ke sorga dikarenakan fakta bahwa para rasul “tidak dapat menanggung” semua ajaran itu pada saat itu.

Kedua, bahkan jika Yesus tidak secara eksplisit mengutuk praktik itu (walaupun sebenarnya Ia melakukannya, seperti yang akan ditunjukkan nanti), itu tentu saja tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa Ia memaafkan praktik itu. Misalnya, di mana Yesus secara eksplisit menyatakan hubungan seks dengan binatang adalah salah? Di mana dalam Perjanjian Baru Yesus menyatakan poligami adalah salah? Di manakah “kata-kata berwarna merah” di dalam Alkitab yang secara khusus mengutuk pedofilia? Apakah kita mengira Anak Allah memaafkan penggunakan narkoba karena tidak ada pernyataan eksplisit dari mulut Yesus yang mengatakan “jangan menggunakan narkoba?” Gagasan bahwa diamnya Yesus pada suatu subjek berarti Ia menyetujui atau memaafkan praktik itu adalah tidak dapat dibuktikan.

Akhirnya, harus dipertimbangkan bahwa Yesus memang bicara menentang homoseksualitas. Pada banyak kesempatan, Yesus mengutuk dosa perzinahan (Matius 19:18), kemesuman seksual (Matius 19: 9) dan percabulan (Matius 15:19). Istilah-istilah ini menggambarkan segala jenis hubungan seks yang tidak berada dalam batas-batas perkawinan yang ditahbiskan oleh Allah. Yesus lalu melanjutkan untuk mendefinisikan dengan tepat apa yang Allah lihat sebagai perkawinan yang diizinkan secara moral. Ia menyatakan:

Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu lakilaki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Matius 19:4-6).

 Dengan mendefinisikan perkawinan sebagai antara satu laki-laki dan satu perempuan, Yesus secara efektif mengutuk semua pengaturan lainnya, termasuk tetapi tidak terbatas pada satu laki-laki dan dua perempuan, satu perempuan dan dua laki-laki, tiga laki-laki dan satu perempuan, tiga laki-laki dan tiga perempuan, satu laki-laki dan perempuan satu laki-laki, satu perempuan dan satu hewan, dll. Anda dapat melihat logika yang luar biasa dari hal itu. Bagi Yesus harus secara eksplisit mengutuk setiap kumpulan dan jumlah jenis kelamin perkawinan akan menjadi tindakan yang tidak masuk akal. Ketika Ia mendefinisikan perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, Ia dengan jelas menunjukkan bahwa pengaturan semacam itu adalah satusatunya yang diizinkan oleh Allah.

Beberapa tahun yang lalu seorang laki-laki bernama Cory Moore “secara hukum menikahi 2004 ES-335” gitar Gibson miliknya (“Man Marries Guitar,” 2007). Ia berkata: “Pada hari saya mendapatkan gitar itu, saya tahu ia adalah satu-satunya …. Saya tahu itu tampaknya aneh, tetapi saya benar-benar mencintai dia—seperti, sangat mencintai dia, dengan sepenuh hati. Saya hanya ingin membuat ini resmi” (2007).  Apakah kita dapat menyimpulkan bahwa karena Yesus tidak pernah secara khusus menghukum seorang laki-laki yang menikahi gitarnya maka Anak Allah menyetujui tindakan semacam itu? Bertanya sama dengan menjawab. Pada 2006, Sharon Tendler, perempuan berusia 41 tahun menikahi seekor lumba-lumba (“Woman Marries Dolphin,” 2006). Yesus tidak pernah mengatakan satu kata pun secara eksplisit tentang menahan diri untuk tidak menikahi lumba-lumba. Apakah itu berarti “kebisuan”-Nya harus dipandang sebagai persetujuan-Nya? Tidak sama sekali! 

Homoseksualitas adalah dosa. Sudah selalu begitu, dan akan selalu begitu. Para penulis Perjanjian Baru yang terilhami berulang kali mengajarkan hal itu. Yesus menjelaskan bahwa Roh Kudus akan memberi informasi kepada para penulis yang diilhami itu yang belum dapat mereka tanggung pada saat kepergian-Nya. Selain itu, Yesus secara eksplisit mendefinisikan perkawinan sebagai antara satu laki-laki dan satu perempuan. Tipu muslihat yang menyatakan bahwa Yesus menyetujui homoseksualitas karena Ia tidak pernah secara tegas mengutuknya tidak dapat dipertahankan secara logis, juga tidak dapat dipertahankan atas dasar alasan moral apa pun. Orang yang mengaku sebagai Kristen, namun mendukung homoseksualitas, adalah salah memahami ajaran Kristus dan perlu bertobat dan berhenti mendukung praktik jahat yang merusak yang Yesus kutuk (Matius 19:1-9).

REFERENSI

Butt, Kyle (2003), “Homosexuality—Sin, or Cultural Bad Habit?” Apologetics Press, http://www.

apologeticspress.org/apcontent.aspx?category=7&article=1239.

“Man Marries Guitar” (2007), http://www.messandnoise.com/discussions/865688.

Miller, Dave and Brad Harrub (2004), “An Investigation of the Biblical Evidence Against Homosexuality,” Apologetics Press, https://www.apologeticspress.org/apPubPage.aspx?pub=1&issue=557.

Nilles, Billy (2012), “Carrie Underwood Reveals She Supports Gay Marriage,” http://www. hollywoodlife.com/2012/06/11/carrie-underwood-supports-gay-marriage-christian/.

“Woman Marries             Dolphin”          (2006), http://www.theage.com.au/news/world/womanmarriesdolphin/2006/01/01/1136050339590.html.


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→