Menu

 “Tapi Bagaimana Dengan Perkawinan Daud Dan Batsyeba?”

Pandangan Yesus tentang perceraian dan perkawinan kembali benar-benar sangat singkat dan komprehensif. Menyingkirkan pasangan dan mengawini orang lain dapat dilakukan dengan hormat di hadapan Allah hanya dengan alasan pasangannya selingkuh (Matius 19:9). Terlepas dari kesederhanaan pernyataan seperti itu dari Allah, di sana sudah selalu ada orang-orang yang lebih suka mencoba untuk membenarkan diri sendiri atau orang lain ketimbang dengan rendah hati tunduk pada standar ilahi itu (bdk. Lukas 10:29; 16:15). Dalam kasus orang-orang Farisi, mereka dengan keras kepala melemparkan kepada Yesus pembenaran Perjanjian Lama mereka karena menolak untuk menerima kerasnya hukum perkawinan, perceraian, dan perkawinan kembali dari Allah: “Mengapa Musa …?” (Matius 19:7). Dengan cara yang sama, dalam upaya untuk menyingkirkan ajaran jelas Perjanjian Baru mengenai keberdosaan perkawinan zina dan perlunya pihakpihak yang terlibat untuk memutuskan hubungan berdosa itu, beberapa orang di zaman kini dengan keras kepala mengacukan kasus Perjanjian Lama Daud dan Batsyeba: “Jika Tuhan meminta perkawinan harus dibubarkan sekarang ini, mengapa Daud diizinkan untuk mengawini Batsyeba?”   

Pengamatan berikut ini layak mendapat pertimbangan:

Pertama, tidak ada kesamaan antara kawin zina yang sedang dibela sekarang ini dengan hubungan yang Daud dan Batsyeba pertahankan. Memang benar bahwa perselingkuhan Daud dengan Batsyeba selagi suaminya berada di medan perang merupakan perzinaan. Namun begitu, ia tidak memperumit atau memperkuat perselingkuhannya dengan menikahi Batsyeba. Ia kembali ke rumahnya sendiri (2 Samuel 11:4). Keduanya tampaknya tidak punya niat untuk semakin memperumit dosa mereka dengan membentuk ikatan kawin zina. Sebagai gantinya, ketika Batsyeba memberi tahu Daud bahwa ia hamil, Daud berupaya keras untuk menyembunyikan dosa itu dengan menjadikan kasus itu seolah-olah Uria adalah ayah anak itu (2Samuel 11:6–13). Pertobatan pada tahap situasi ini akan memerlukan pengakuan Daud akan dosanya dan tekadnya untuk tidak pernah mengulangi perilaku terlarang seperti itu. Daud bisa saja menyusun beberapa rencana lain, katakanlah, mengusir Uria karena beberapa pelanggaran peraturan militer. Dengan diusirnya Uria dari negeri itu, ia dapat mengambil Batsyeba sebagai istrinya sendiri. Dalam kasus seperti itu, Daud akan sudah hidup dalam perzinaan, dan satu-satunya tindakan yang disetujui secara ilahi adalah memutuskan hubungan perkawinan itu. Tetapi Daud tidak melakukan itu. Ketika upayanya gagal, ia memutuskan bahwa ia dapat “menutupi jejaknya” dengan menimbulkan kematian Uria (2Samuel 11:14–15). Selain dosa perzinaan, ia juga terlibat pembunuhan.    

Perhatikanlah bahwa Daud tidak melakukan semua omong kosong ini untuk membebaskan Batsyeba untuk ia kawini sendiri, tetapi menjaga agar Uria tidak mengetahui bahwa istrinya hamil oleh laki-laki lain. Jadi argumen yang menyatakan, “Anda sedang mengatakan orang harus membunuh pasangan dari orang yang mereka ingin nikahi,” tidak berlaku dalam diskusi ini. Menurut definisi, perzinaan melibatkan hubungan seks dengan orang yang pasangan sahnya secara Alkitabiah masih hidup. Perhatikanlah kata-kata Allah sendiri tentang hal ini:   

Sebab perempuan yang memiliki suami diikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya hidup. Tetapi jika suaminya meninggal, ia bebas dari hukum suaminya. Jadi, jika suaminya masih hidup, dan ia menikahi laki-laki lain, ia akan disebut pezina; tetapi jika suaminya meninggal, ia bebas dari hukum itu, sehingga ia bukan pezina, meski ia menikah dengan laki-laki lain (Roma 7:2–3, NKJV).

Betapapun tidak pantas jadinya tindakan Daud setelah kematian Uria itu, namun pernikahannya dengan Batsyeba bukan perzinaan dan karena itu tidak serupa dengan perkawinan haram yang dilakukan oleh begitu banyak orang sekarang ini di mana mantan pasangan hidupnya masih hidup.

Kedua, mengapa kita ingin menggunakan kasus Daud dan Batsyeba untuk mendapatkan wawasan tentang praktik perceraian dan pernikahan kembali yang dapat diterima? Bahkan ketika Kitab Suci tidak secara khusus mengutuk tindakan tertentu, kita tidak harus berasumsi bahwa Allah memaafkan atau menyetujuinya. Ada banyak contoh perilaku yang tidak pantas dalam Perjanjian Lama yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk digunakan sekarang ini sebagai pembenaran untuk perilaku yang sama sekarang ini. Abraham (Kejadian 12:13), Ishak (Kejadian 26:7), dan Yakub (Kejadian 27:19) semuanya berperilaku menipu. Yehuda melakukan percabulan (Kejadian 38:18). Musa gagal memercayai Allah sebagaimana mestinya (Bilangan 20:12). Apakah semua contoh ini tepat untuk ditiru? Daud, sendiri, bersalah atas pelanggaran tambahan terhadap hukum Allah. Ia menodai kemah suci dengan masuk dan secara tidak sah memakan roti yang dikuduskan (1Samuel 21:1–6; Matius 12:3–4). Ia mengabaikan peraturan Musa tentang cara mengangkut dan memperlakukan tabut perjanjian (2Samuel 6; 1Tawarikh 15:13). Ketergantungannya kepada kekuatan pasukan (sebagaimana dibuktikan dalam sensus militernya) membuat 70.000 orang kehilangan nyawa (2Samuel 24:15). Contoh-contoh seperti ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita tentang perlunya mematuhi instruksi Allah secara ketat (Roma 15:4). Aturan itu tentu tidak dirancang untuk mendorong kita menyantaikan perilaku etika kita sendiri dengan alasan bahwa orang lain melakukannya dalam Perjanjian Lama! Meski pada suatu waktu Daud benar-benar “orang yang berkenan di hati Allah” (1Samuel 13:14; Kisah 13:22), perilakunya di kemudian hari menunjukkan bahwa ia menjauh dari cita-cita ini.

Ketiga, dengan menggunakan logika yang sama dengan mereka yang meraba-raba kasus Daud dan Batsyeba untuk membenarkan kelanjutan ikatan perzinaan mereka sekarang ini, maka orang dapat dengan mudah membuat kasus untuk membolehkan poligami sekarang ini. Batsyeba hanya satu dari beberapa istri (bdk. 1Samuel 18:27; 25:42– 43; 1Tawarikh 3:2–5). Mungkin Joseph Smith, dengan 28 lebih istrinya, lebih dekat dengan kebenaran itu daripada yang kita duga sebelumnya?

Keempat, Daud dan Batsyeba tidak dimaksudkan sebagai model untuk memastikan persyaratan Allah tentang perceraian dan pernikahan kembali sekarang ini dalam arti apa pun. Sebab Kitab Suci sangat eksplisit tentang perasaan Allah tentang masalah mesum ini secara keseluruhan: “Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN” (2Samuel 11:27). Ia tidak harus memutuskan ikatan perkawinan itu dengan Batsyeba karena suaminya sudah meninggal dan ia bebas dari hukum itu (Roma 7:2). Namun begitu, Allah menjatuhkan ke atas Daud kesengsaraan dan pelbagai konsekuensi tidak menyenangkan yang tidak terkatakan untuk menghukum Daud, serta mengajarkan kepada kita tentang pandangan-Nya yang sebenarnya tentang kemesuman semacam itu. Tiga konsekuensi langsung ditimpakan ke atas Daud: (1) Natan mengatakan pedang tidak akan menyingkir dari keturunan Daud (2 Samuel 12:10), yang digenapi dalam kematian beruntun setidaknya yang menimpa tiga anak laki-lakinya—Amnon (2Samuel 13:29), Absalom (2Samuel 18:14), dan Adonia (1Raja 2:25); (2) Natan juga menyatakan kepada Daud bahwa istri-istrinya sendiri akan dinistakan secara memalukan di siang hari bolong di hadapan semua orang Israel oleh orang yang dekat dengan dia (2Samuel 12:11), yang secara menjijikkan terpenuhi ketika Absalom “menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel” (2Samuel 16:22); (3) Selanjutnya, Natan menyatakan nasib fatal anak yang dikandung Batsyeba oleh dosa Daud (2Samuel

12:14), dan itu terjadi tujuh hari setelah Natan menjatuhkan penghakiman itu (2Samuel 12:18). Semua narasi terperinci ini menunjukkan bahwa kita telah melewatkan satu poin utama jika kita berupaya membenarkan perilaku terlarang itu sekarang ini dengan alasan bahwa “Daud melakukannya.”  

Teman-teman, janganlah kita bertindak nekad dalam upaya yang putus asa untuk memunculkan sembarang argumen guna mempertahankan posisi kita. Mari kita menimbang data Alkitab secara adil, menangani Firman kebenaran secara benar, dan hanya menarik kesimpulan yang dibenarkan oleh bukti itu (1Tesalonika 5:21). Hanya dengan demikian kita dapat dibenarkan di hadapan Allah (2Timotius 2:15).


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→