Menu

“Saya Diciptakan Allah Seperti ini”

Terompet-terompet itu ditinggalkan di rumah dan parade dibatalkan. Siaran pers dan tanda-tanda kampanye diam-diam dilupakan. Berita itu besar, tetapi tidak berisi apa yang beberapa orang harapkan. Pada 14 April 2003, Konsorsium Genom Manusia Internasional mengumumkan keberhasilan penyelesaian Proyek Genom Manusia—dua tahun lebih cepat dari jadwal. Laporan persnya berbunyi: “Genom manusia komplit dan Proyek Genom Manusia berakhir” (lihat “Human Genome Report …,” 2003, huruf tebal ditambahkan). Sebagian besar jurnal sains yang utama melaporkan kemajuan di bidang genetika, tetapi juga berspekulasi tentang bagaimana informasi itu sekarang akan digunakan. Satu informasi yang tidak pernah muncul dari Proyek Genom Manusia adalah identifikasi apa yang disebut “gen homoseksual.”

Homoseksualitas telah dipraktikkan selama ribuan tahun. Sederhananya, homoseksualitas didefinisikan sebagai hubungan seks antara jenis kelamin yang sama (yaitu, dua laki-laki atau dua perempuan). Sigmund Freud yang pertama kali mendalilkan bahwa hubungan orangtua dengan seorang anak pada akhirnya menentukan orientasi seks anak itu. Tetapi aspek “didikan” ini secara efektif telah memberi jalan pada sisi “sifat” persamaan tersebut. Bisakah beberapa perilaku (misalnya, alkoholisme, homoseksualitas, skizofrenia) dijelaskan oleh genetika? Apakah perilaku ini dan perilaku lain dipengaruhi oleh alam atau oleh didikan? Apakah mereka bawaan sejak lahir atau dipelajari? Beberapa orang percaya bahwa jawabannya akan ditemukan bersembunyi di tengah-tengah kromosom yang dianalisis dalam Proyek Genom Manusia.  

Kromosom X dan Y manusia (dua kromosom “jenis kelamin”) telah sepenuhnya diurutkan. Berkat kerja yang dilakukan oleh laboratorium di seluruh dunia, kita tahu bahwa kromosom X berisi 153 juta pasangan basa, dan menampung total 1.168 gen (lihat NCBI, 2004). Pusat Nasional untuk Informasi Bioteknologi melaporkan bahwa kromosom Y—yang jauh lebih kecil—mengandung “hanya” 50 juta pasangan basa, dan diperkirakan hanya mengandung 251 gen. Institusi pendidikan seperti Baylor University, Max Planck Institute, Sanger Institute, Washington University di St. Louis, dan yang lainnya telah menghabiskan waktu berjam-jam dan penelitian berbiaya jutaan dolar untuk menganalisis kromosom unik ini. Ketika data mulai mengalir, data itu membolehkan para ilmuwan untuk membuat peta gen—menggunakan urutan aktual dari Proyek Genom Manusia. Namun, baik peta untuk kromosom X maupun Y tidak mengandung “gen gay.”  

Sebenarnya apakah homoseks itu? Terlalu sering, spekulasi, emosi, dan politik memainkan peran utama dalam penilaiannya. Berikut ini adalah penyelidikan ilmiah tentang homoseksualitas manusia.

GENETIKA PERILAKU DAN HAK-HAK SIPIL

Dalam upaya untuk memengaruhi kebijakan publik dan untuk dapat diterima, pernyataan yang sering kali dibuat adalah bahwa kaum homoseks berhak atas hak yang sama seperti kelompok minoritas lainnya—dan tidak boleh dihukum, atau dilarang, dalam mengekspresikan homoseksualitas mereka. Perjuangan agar homoseksualitas diterima sering dibandingkan dengan gerakan “hak-hak sipil” ras minoritas. Karena kegagalan Amerika untuk menyelesaikan sepenuhnya masalah hak-hak sipil (yaitu kewarganegaraan yang penuh dan setara bagi ras minoritas), kaum liberal sosial, feminis, dan aktivis homoseks diberi “mantel bulu” yang sempurna untuk digunakan memajukan agenda mereka. Dengan menggunakan penyamaran kebebasan sipil bawaan, para aktivis homoseks mampu mengalihkan perhatian dari perilaku, dan memfokuskannya kepada “hak-hak.” 

Argumennya seperti ini: “Sama seperti orang tidak bisa menolak menjadi orang hitam, perempuan, atau Asia, saya juga tidak bisa menolak menjadi homoseks. Kita semua telah dilahirkan dengan cara ini, dan karena itu kita harus diperlakukan sama.” Namun begitu, argumen ini gagal memahami gerakan “hak-hak sipil” yang sebenarnya. Hukum sudah melindungi hak-hak sipil semua orang—hitam, putih, laki-laki, perempuan, homoseks, atau heteroseks. Orang homoseks menikmati hak-hak sipil yang sama seperti orang lain. Pertikaian muncul ketika undang-undang spesifik mencabut hak semua warga negara dari perilaku tertentu (misalnya, sodomi, dll.). Kita harus ingat bahwa undang-undang ini berlaku sama untuk semua anggota masyarakat. Oleh karena pencabutan hak-hak tertentu, kaum homoseks merasa seolah-olah hak-hak yang “setara” telah diambil (yaitu, perkawinan, keringanan pajak, dll.).   

Ciri-ciri warna kulit dan genetika lainnya dapat ditelusuri melalui pola pewarisan dan genetika Mendel yang sederhana. Kaum homoseks diidentifikasi bukan oleh satu ciri atau satu gen, melainkan oleh perbuatan mereka. Tanpa perbuatan, mereka tidak dapat dibedakan dari semua orang lain. Hanya ketika mereka mengubah perilaku mereka, mereka menjadi kelompok yang dikenali berbeda. Jika kita berasumsi sejenak bahwa homoseks adalah genetika, maka yang paling bisa orang simpulkan adalah bahwa kaum itu secara moral tidak bertanggung jawab dalam menjadi homoseks. Namun begitu, itu tidak berarti bahwa mereka secara moral tidak bertanggung jawab atas tindakan homoseksual! Semata memiliki gen itu tidak akan memaksa orang untuk melakukan perilaku itu. Misalnya, jika para saintis dapat mendokumentasikan ada “gen pemerkosaan,” kita tentu tidak akan menyalahkan orang yang memiliki gen ini, tetapi kita juga tidak akan membiarkan orang itu bertindak berdasarkan sifat pemerkosaan yang ia miliki. Neil Risch dan rekan kerjanya mengakui:    

Tidak banyak perbedaan pendapat bahwa orientasi homoseks laki-laki bukan ciri-ciri Mendel. Faktanya, secara apriori, orang akan mengantisipasi peran gen utama dalam orientasi homoseks laki-laki dibatasi oleh adanya tekanan selektif yang kuat terhadap gen semacam itu. Tidak mungkin satu gen utama yang mendasari ciri umum seperti itu dapat bertahan dari waktu ke waktu tanpa mekanisme penyeimbang yang luar biasa (1993, 262:2064). 

Evan S. Balaban, seorang ahli neurobiologi di Neurosciences Institute di San Diego, menulis bahwa 

pencarian pilar penopang biologis sifat-sifat manusia yang kompleks memiliki sejarah yang menyedihkan akhir-akhir ini. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti dan media telah menyatakan “penemuan” gen-gen yang terkait dengan alkoholisme dan penyakit mental serta homoseksualitas. Tak satu pun dari klaim itu … telah dikonfirmasi (seperti dikutip dalam Horgan, 1995).

Charles Mann setuju, dengan menyatakan: “Berkali-kali, para saintis telah mengklaim bahwa gen-gen tertentu atau chromosomal regions tertentu dikaitkan dengan sifatsifat perilaku, tetapi kemudian menarik kembali temuan mereka ketika temuan itu tidak bereplikasi” (1994, 264:1687). Tampaknya gen gay akan ditambahkan kepada kategori klaim yang tidak bereplikasi ini.

Masalah sebenarnya di sini adalah perbuatan homoseksual yang masyarakat anggap tidak bermoral dan, dalam banyak hal, ilegal. Karena tidak ada penelitian yang secara tegas menetapkan penyebab genetika yang mendasari homoseksualitas, maka pelbagai argumen yang menyatakan “hak yang sama” adalah tidak berdasar dan tidak masuk akal.  

STATISTIK NYATA

Siapa pun yang menonton tayangan televisi pada jam-jam utama dalam beberapa tahun terakhir telah mengamati tren peningkatan pertunjukan yang menampilkan tokoh-tokoh homoseks—dan bangga akan hal itu. Tampaknya seolah-olah komedi situasi modern butuh “tanda-tanda” homoseksual agar secara politis benar. Persepsinya adalah bahwa orang-orang ini berbagi apartemen, kantor, klub, dll., yang sama dengan orang-orang heteroseksual, dan bahwa kita perlu menyadari betapa homoseksualitas itu adalah hal yang lazim. Jadi, tepatnya bagian populasi apakah yang sebenarnya diwakili oleh homoseksual?

Laporan Kinsey Institute yang terkenal sering dikutip sebagai bukti bahwa 10% dari populasi adalah homoseksual. Dalam bukunya, Is It a Choice?: Answers to 300 of the Most Frequently Asked Questions About Gays and Lesbians, Eric Marcus menggunakan studi Kinsey untuk menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang adalah homoseks (1993). Yang benar, Kinsey tidak pernah melaporkan angka setinggi itu. Laporan Kinsey dengan jelas menyatakan bahwa: “Hanya sekitar 4 persen kaum laki-laki [yang dievaluasi] secara eksklusif homoseksual sepanjang hidup mereka…. Hanya 2 atau 3 persen dari kaum perempuan ini yang sepenuhnya homoseksual sepanjang hidup mereka” (lihat Reinisch and Beasley, 1990, p. 140). Namun begitu, ada alasan kuat untuk percaya bahwa persentase itu sebenarnya bahkan tidak setinggi ini.     

Meski tidak ada yang melakukan sensus dari rumah ke rumah, kita memiliki perkiraan yang cukup akurat. Yang menarik, statistik ini terungkap dalam laporan singkat amicus curiae (“teman pengadilan”) yang diajukan kepada Mahkamah Agung Amerika pada 26 Maret 2003, dalam kasus Lawrence vs. Texas (umumnya dikenal sebagai kasus sodomi Texas). Pada halaman 16 laporan hukum ini, catatan kaki 42 mengungkapkan bahwa 31 kelompok homoseks dan pro-homoseks mengakui hal berikut:     

Studi praktik seks yang paling banyak diterima di Amerika Serikat adalah National Health and Social Life Survey (NHSLS). NHSLS itu menemukan bahwa 2,8% laki-laki, dan 1,4% perempuan dari populasi mengidentifikasi diri mereka sebagai gay, lesbian, atau biseksual (Laumann, et al., 1994).  

Studi ini juga menemukan bahwa hanya 0,9% laki-laki dan 0,4% perempuan melaporkan hanya memiliki pasangan sesama jenis sejak usia 18 tahun—angka yang hanya mewakili 1,4 juta orang Amerika sebagai homoseks (berdasarkan laporan sensus terakhir, menunjukkan secara kasar 292 juta orang menetap di Amerika). Angka-angka akurat yang dihasilkan itu menunjukkan bahwa secara signifikan kurang dari satu persen populasi Amerika mengaku homoseks. Hasil NHSLS mirip dengan survei yang dilakukan oleh Minnesota Adolescent Health Survey (1986) tentang siswa sekolah umum. Survei menunjukkan bahwa hanya 0,6% dari anak-anak laki-laki dan 0,2% dari anak-anak perempuan mengidentifikasi diri mereka sebagai “mendekati atau 100% homoseks.”  

Sensus 2000 bahkan memberi lebih banyak perhatian pada subjek itu. Statistik keseluruhan dari Biro Sensus 2000 mengungkapkan:

  • Total populasi AS adalah 285.230.516.  
  • Total jumlah rumah tangga di A.S. adalah 106.741.426.  
  • Jumlah total rumah tangga sesama jenis yang belum menikah adalah 601.209.

Dengan demikian, dari populasi 106.741.426 rumah tangga, homoseks mewakili 0,42% rumah tangga tersebut. Itu kurang dari setengah persen! 

Tetapi karena kebanyakan orang bukan ahli matematika, kami ingin menjelaskan hal ini dengan cara yang dapat dipahami sebagian besar individu. Jika kita harus  memulai komedi situasi baru di televisi, dan ingin secara akurat menggambarkan rasio homoseks dalam masyarakat, kita akan butuh 199 aktor heteroseks sebelum akhirnya kita memperkenalkan satu aktor homoseks.    

Namun para aktor televisi modern yang terdiri dari tiga atau empat heteroseks sering memasukkan satu atau lebih aktor homoseks. Statistik dari sensus 2000 bukan angka yang diambil dari langit dan ditempatkan pada tanda atau situs Web politik untuk mempromosikan agenda tertentu. Ini adalah data sensus yang dikumpulkan dengan hati-hati dari seluruh populasi Amerika Serikat, yang berlawanan dengan cakupan terbatas pelbagai studi yang dirancang untuk menunjukkan penyebab genetik homoseksualitas.   

APAKAH HOMOSEKSUALITAS BERSIFAT KETURUNAN?

Ini adalah salah satu topik paling eksplosif dalam masyarakat saat ini. Pelbgai akibat sosial dan politik memengaruhi dasar negara Amerika. Tetapi apakah negara ini sedang diberitahu tentang kebenaran mengenai homoseksualitas? Apakah memang ada dasar keturunan bagi homoseksualitas?

Mantan kandidat presiden dari partai demokrat dan Gubernur Vermont Howard Dean menandatangani undang-undang yang mengesahkan perkawinan sipil untuk kaum homoseks di Vermont. Dalam membela tindakannya, ia berkomentar: “Bukti yang luar biasa adalah bahwa ada komponen genetik/keturunan yang sangat signifikan dan substansial pada orang homoseks. Dari sudut pandang agama, jika Allah menganggap homoseksualitas adalah dosa, ia tidak akan menciptakan orang-orang gay” (seperti dikutip dalam VandeHei, 2004). Dean tidak sendirian dalam pemikiran seperti itu.

Kebanyakan orang akrab dengan gagasan bahwa penelitian telah dilakukan yang diduga mendukung keberadaan gen gay. Namun, ide itu sudah lama dibuat. Hampir lima puluh tahun yang lalu, laporan Kinsey yang penting diproduksi menggunakan sejarah seks ribuan orang Amerika. Meski laporan itu terdiri dari beragam sampel, namun itu bukan sampel yang mewakili populasi umum (Kinsey, et al., 1948, 1953). Pada tahun 1994, Richard Friedman dan Jennifer Downey menerbitkan ulasan tentang homoseksualitas di The New England Journal of Medicine. Dalam meninjau karya Kinsey, mereka menulis: 

Kinsey melaporkan bahwa 8 persen laki-laki dan 4 persen perempuan secara eksklusif homoseksual untuk jangka waktu setidaknya tiga tahun pada waktu dewasa. Empat persen laki-laki dan 2 persen perempuan secara eksklusif homoseksual setelah remaja (1994, 331:923).

Dengan “informasi statistik” ini di tangan, beberapa orang berusaha mengubah cara pandang masyarakat dan komunitas medis terhadap homoseksualitas. Sebe-lum tahun 1973, homoseksualitas muncul dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), buku acuan resmi yang digunakan oleh American Psychiatric Association untuk mendiagnosis gangguan mental di Amerika dan di banyak bagian dunia. Homoseksualitas dianggap sebagai penyakit yang secara rutin dirawat oleh dokter. Namun begitu, pada tahun 1973, penyakit ini dihapus sebagai kelainan seks, berdasarkan pada klaim bahwa itu tidak memenuhi kriteria “tekanan dan kecacatan sosial” yang digunakan untuk mendefinisikan suatu kelainan. Saat ini, tidak ada penyebutan homoseksualitas dalam DSM-IV (selain dari bagian yang menggambarkan gangguan identitas gender), menunjukkan bahwa individu-individu dengan kondisi ini bukan kandidat yang cocok untuk terapi (American Psychiatric Association, 2000).     

Dokter yang merawat pasien karena homoseksualitas (untuk menghasilkan perubahan orientasi seks) sering dilaporkan kepada komite etika dalam upaya untuk menghentikan mereka. Robert Spitzer mengeluh:

Beberapa penulis memperdebatkan bahwa para petugas klinik yang berusaha untuk membantu klien mereka untuk mengubah orientasi homoseks mereka adalah melanggar kode etik profesional dengan memberikan “perawatan” yang tidak efektif, sering berbahaya, dan memaksakan kepada klien mereka keyakinan keliru bahwa homoseksualitas adalah gangguan dan butuh perawatan. (2003, 32: 403).

Dengan demikian, pentas telah diatur untuk penampilan “gen gay.”

SIMON LEVAY—PERBEDAAN OTAK

Studi “signifikan” pertama yang dipublikasikan yang mengindikasikan kemungkinan peran biologis bagi homoseksualitas berasal dari Simon LeVay, yang saat itu di Salk Institute for Biological Studies di San Diego, California. Pada 1991, Dr. LeVay melaporkan perbedaan halus antara otak laki-laki homoseksual dan heteroseksual (1991). LeVay mengukur daerah tertentu di otak (nukleus interstisial dari hipotalamus anterior—INAH) dalam jaringan postmortem dari tiga kelompok orang yang berbeda: (1) kaum perempuan; (2) kaum laki-laki yang dianggap heteroseksual; (3) dan kaum lakilaki homoseksual.

Temuan-Temuan Yang Dilaporkan LeVay

LeVay melaporkan bahwa gugus neuron (INAH) pada laki-laki homoseks memiliki ukuran yang sama seperti gugus neuron pada kaum perempuan, yang mana keduanya secara signifikan lebih kecil daripada gugus neuron pada laki-laki heteroseks. LeVay melaporkan bahwa inti dalam INAH 3 “lebih dari dua kali besarnya pada laki-laki heteroseks dibandingkan pada kaum perempuan. Namun begitu, inti itu juga lebih dari dua kali besarnya pada laki-laki heteroseks dibandingkan pada laki-laki homoseks” (1991, 253:1034). Perbedaan ini ditafsirkan sebagai adanya bukti kuat hubungan biologis terhadap homoseksualitas. Asumsi LeVay adalah bahwa dorongan homoseksual dapat didasarkan secara biologis—selama ukuran gugus neuron itu diterima sebagai ditentukan secara genetika.  

Masalah Dengan Studi LeVay 

Ketika melihat metodologi studi LeVay, salah satu masalah utama adalah bahwa studi ini tidak pernah direproduksi. Seperti yang William Byne tulis, karya LeVay

belum direplikasi, dan pelbagai studi neuroanatomi manusia semacam ini memiliki rekam jejak yang sangat buruk bagi reproduktifitas. Sesungguhnya, prosedur yang mirip dengan yang LeVay gunakan untuk mengidentifikasi nukleus telah menyesatkan para peneliti sebelumnya (1994, 270 [5]: 53, huruf tebal ditambahkan).  

Selain itu, dari sembilan belas subjek homoseks yang digunakan dalam penelitian ini, semuanya telah meninggal karena komplikasi terkena sindrom imunodefisiensi (AIDS). AIDS telah diperlihatkan menurunkan kadar testosteron, sehingga seharusnya diantisipasi bahwa mereka yang menderita kondisi itu akan memiliki INAH yang lebih kecil . Byne melanjutkan komentarnya tentang karya LeVay.  

Dimasukkannya beberapa otak laki-laki heteroseks dengan AIDS tidak secara memadai mengatasi fakta bahwa pada saat kematian, hampir semua lakilaki dengan AIDS memiliki kadar testosteron yang menurun sebagai akibat dari penyakit itu sendiri atau efek samping dari perawatan tertentu. Sampai saat ini, LeVay telah memeriksa hanya otak satu laki-laki gay yang tidak meninggal karena AIDS (270:53).      

Selain itu, dalam lingkungan sainstifik di mana kontrol dan standar adalah suatu keharusan, LeVay tidak memiliki riwayat medis lengkap dari individu yang dimasukkan dalam penelitiannya. Karena itu ia dipaksa menganggap orientasi seks para korban nonAIDS sebagai heteroseks, ketika beberapa orang mungkin tidak. Selain itu, ingatlah bahwa ia tidak memiliki bukti mengenai orientasi seks perempuan yang otaknya ia periksa. LeVay sendiri mengakui:   

Penting untuk menekankan apa yang tidak saya temukan. Saya tidak membuktikan homoseksualitas bersifat turunan, atau menemukan gen penyebab orang menjadi gay. Saya tidak menunjukkan laki-laki gay memang dilahirkan seperti itu, kesalahan paling umum yang orang lakukan dalam menafsirkan karya saya. Saya juga tidak menemukan pusat gay di dalam otak (seperti dikutip dalam Byrd, et al., 2001, orang tebal ditambahkan). 

Banyak yang berpendapat bahwa apa yang LeVay temukan dalam otak orangorang yang ia teliti hanya hasil dari perilaku sebelumnya, bukan penyebabnya. Mark Breedlove, seorang peneliti di University of California di Berkeley, telah menunjukkan bahwa perilaku seks berpengaruh pada otak. Dalam mengacu kepada penelitiannya sendiri, Breedlove berkomentar: ”Temuan ini memberi kita bukti untuk apa yang secara teori kita ketahui sebagai kasusnya—bahwa pengalaman seks dapat mengubah struktur otak, seperti halnya gen-gen dapat mengubahnya.… Memang mungkin bahwa perbedaan dalam perilaku seks menyebabkan (daripada disebabkan oleh) perbedaan di dalam otak” (seperti dikutip dalam Byrd, et al.). Dengan mengingat jenis penelitian ini, masuk akal bahwa gaya hidup homoseksual (dan/atau kondisi AIDS) dapat mengubah ukuran nukleus yang LeVay ukur.      

Apakah yang sebenarnya LeVay temukan? Sebenarnya, tidak banyak. Ia memang mengamati sedikit perbedaan di antara kelompok-kelompok itu—jika Anda menerima metode yang ia gunakan untuk mengukur ukuran gugus neuron (dan beberapa peneliti tidak mau menerimanya). Ketika masing-masing individu dipertimbangkan oleh dirinya sendiri, tidak ada perbedaan yang signifikan; perbedaan muncul hanya ketika individuindividu yang terlibat dalam penelitian itu dianggap sebagai kelompok homoseks vs.heteroseks. Hubbard dan Wald mengomentari kurangnya perbedaan ini:

Meski, rata-rata, ukuran nukleus hipotalamus yang dianggap signifikan oleh LeVay memang lebih kecil pada laki-laki yang diidentifikasi sebagai homoseks, data yang ia publikasikan menunjukkan bahwa kisaran ukuran sampelsampel individu itu hampir sama dengan laki-laki heteroseks. Yaitu, areanya lebih besar pada beberapa orang homoseks daripada pada banyak laki-laki heteroseks, dan lebih kecil pada beberapa laki-laki heteroseks daripada pada banyak laki-laki homoseks. Ini berarti bahwa, meski kelompok-kelompok itu menunjukkan beberapa perbedaan sebagai kelompok, tidak ada cara untuk memberitahu apa saja tentang orientasi seks seseorang dengan melihat hipotalamusnya (1997, p. 95-96, huruf tebal ditambahkan).  

Karena ia sendiri homoseks, tidak mengherankan bahwa LeVay mengulas: “… [O]rang yang berpikir bahwa gay dan lesbian dilahirkan seperti adanya mereka kemungkinan besar mendukung hak-hak gay.” Dalam sebuah artikel Newsweek, LeVay dikutip sebagai mengatakan, “Saya merasa jika saya tidak menemukan [perbedaan dalam hipotalamus], saya akan meninggalkan karier sainstifik sama sekali” (seperti dikutip dalam Gelman, et al., 1992, p. 49). Mengingat betapa (buruk) data LeVay yang dipelintir, dan bias pribadinya sendiri, tindakannya meninggalkan sains pada akhirnya mungkin menjadi pelayanan yang lebih luas.  

Plastisitas Otak—Satu Fakta Yang Diakui Oleh Semua Ahli Saraf

Saat ini, para saintis sangat menyadari fakta bahwa otak tidak tetap “melekat” atau permanen seperti yang pernah orang pikirkan—satu faktor penting yang tidak diakui oleh LeVay. Salah satu sifat plastis itu adalah kelenturan—banyak wadah terbuat dari plastik sehingga tidak pecah saat dijatuhkan. Dengan cara yang sama, otak pernah dianggap kaku, seperti stoples Ball® yang digunakan untuk mengawetkan bahan makanan—tetapi kita sekarang tahu bahwa otak itu “plastis” dan fleksibel, dan mampu mengatur ulang dirinya sendiri. Penelitian telah menunjukkan bahwa otak mampu mengubah bentuk hubungannya dan tumbuh lebih besar, sesuai dengan area khusus yang paling sering digunakan. Dengan mengingat bahwa sekarang ini kita tahu otak menunjukkan plas-tisitas, maka orang harus bertanya apakah tindakan menjalani gaya hidup homoseks itu sendiri mungkin bertanggung jawab bagi perbedaan yang LeVay catat? Mengomentari plastisitas otak, Shepherd menulis: 

Ketidakmampuan untuk menghasilkan neuron-neuron baru mungkin menyiratkan bahwa sistem saraf orang dewasa adalah mesin yang statis, “melekat.” Ini jauh dari kebenaran. Meski neuron baru tidak dapat dihasilkan, namun masing-masing neuron mempertahankan kemampuannya untuk membentuk proses baru dan koneksi sinaptik baru (1994).

Menariknya, sejak buku teks Shepherd diterbitkan, penelitian tambahan bahkan telah mendokumentasikan kemampuan neuron-neuron untuk dihasilkan di dalam areaarea tertentu di otak. Informasi ini harus dipertimbangkan ketika memeriksa pelbagai eksperimen anatomi komparatif seperti yang LeVay lakukan. Penataan ulang kortikal yang terjadi ini tidak sesederhana mencabut lampu dan menancapkannya di soket lain. Perubahan yang diamati oleh para peneliti menunjukkan bahwa jika otak diumpamakan seperti sistem kelistrikan rumah, maka banyak kabel di dalam tembok akan ditarik ke luar, disambungkan kembali ke berbagai koneksi di ruangan yang berbeda, beberapa stopkontak baru akan muncul, dan beberapa bahkan akan membawa tegangan yang berbeda. Karena adanya konektivitas yang besar sekali yang terjadi di dalam otak, maka “pemasangan ulang kabel” apa pun, pada dasarnya, akan memiliki efek pada beberapa area—seperti INAH3. Para saintis memahami hal-hal ini, namun karya LeVay masih disebutkan sebagai dianggap mendukung apa yang disebut gen gay

BAILEY DAN PILLARD— STUDI “KEMBAR” YANG TERKENAL

Salah satu studi yang paling sering dikutip yang digunakan dalam mempromosikan genetika orientasi seks adalah studi tahun 1952 oleh Kallmann. Dalam karya terkenal ini, ia melaporkan tingkat kesesuaian (atau asosiasi genetika) sebesar 100% untuk orientasi seks di antara kembar monozygotic (identik) (1952, 115:283). Hasil ini, jika benar, akan terbukti hampir tidak dapat dibantah bagi orang-orang yang meragukan penyebab biologis homoseksualitas. Namun begitu, Kallmann kemudian menduga bahwa kesesuaian yang sempurna ini adalah suatu rekaan, mungkin karena fakta bahwa sampelnya sebagian besar diambil dari orang-orang yang sakit jiwa dan yang dirawat di rumah sakit jiwa (lihat Rainer, et al., 1960, 22:259). Tetapi penelitian Kallmann membuka pintu untuk studi kembar dalam hal orientasi seks.

Michael Bailey dan Richard Pillard, peneliti di Northwestern University dan Boston University School of Medicine, melakukan percobaan serupa, memeriksa 56 pasang kembar identik, 54 pasang kembar fraternal, 142 saudara kembar non-kembar, dan 57 pasang saudara angkat (1991, 48:1089-1096). Bailey dan Pillard berusaha mengetahui apakah homoseksualitas diturunkan melalui garis keluarga, atau apakah orang dapat menunjuk kepada faktor lingkungan sebagai penyebabnya. Hipotesis mereka: jika homoseksualitas merupakan sifat bawaan, maka lebih banyak saudara kembar diantisipasi memiliki orientasi yang sama daripada saudara bukan kembar atau saudara nonbiologis.

PELBAGAI TEMUAN LAPORAN MEREKA

  • 52% dari kembar identik (monozigot) laki-laki homoseks adalah homoseks
  • 22% dari kembar fraternal (dizigotik) adalah juga homoseks
  • 11% dari saudara angkat laki-laki homoseks adalah homoseks
  • 9,2% dari saudara kandung non-kembar dilaporkan berorientasi homoseks

(Bailey dan Pillard, 1991, “A Genetic Study of Male Sexual Orientation”)

  • 48% dari kembar identik perempuan homoseks adalah juga homoseks 
  • 16% dari kembar fraternal (dizigotik) adalah juga homoseks 
  • 6% saudari angkat perempuan homoseks adalah juga homoseks (Bailey dan

Benishay, 1993, “Familial Aggregation of Female Sexual Orientation”)

MASALAH DENGAN STUDI BAILEY DAN PILLARD

Meski kedua penulis itu telah mengakui adanya beberapa kelemahan dengan penelitian mereka, tapi mereka masih dikutip dalam Science News yang berkata: “Penelitian kami menunjukkan bahwa orientasi seks laki-laki pada hakekatnya bersifat genetika” (seperti dikutip dalam Bower, 1992, 141:6). Namun begitu, pengamatan yang paling kentara adalah bahwa jelasnya tidak 100% kembar identik “mewarisi” homoseksualitas. Jika memang ada “gen gay,” maka semua kembar identik pasti sudah dilaporkan berorientasi homoseks. Namun begitu, di hampir setengah dari orang-orang kembar yang diteliti, satu saudara tidak homoseks. Dalam surat komentar bersifat teknis di Science, Neil Risch dan rekannya menunjukkan, “Saudara kandung dan saudara angkat menunjukkan angka yang kira-kira sama. Pengamatan yang belakangan ini menunjukkan bahwa tidak ada komponen genetika, melainkan komponen lingkungan yang dialami dalam keluarga” (1993, 262:2063). Faktanya, lebih banyak saudara angkat yang mengalami homoseksualitas daripada saudara kandung yangbukan kembar. Jika ada faktor genetika, hasil ini akan berlawanan dengan tren yang diharapkan. Byne dan Parsons mencatat:      

Namun begitu, tingkat kesesuaian untuk homoseksualitas pada saudara biologis non-kembar hanya 9,2—secara signifikan lebih rendah daripada yang disyaratkan oleh hipotesis genetika sederhana, yang, berdasarkan materi genetika bersama, akan memprediksi tingkat kesesuaian yang serupa untuk kembar DZ [dizigotik] dan saudara biologis non-kembar. Selain itu, fakta bahwa tingkat kesesuaian itu serupa bagi saudara biologis non-kembar (9,2%) dan saudara angkat yang tidak berkaitan secara genetika (11,0%) bertentangan dengan hipotesis genetika sederhana, yang akan memprediksi tingkat kesesuaian yang lebih tinggi bagi saudara kandung biologis (1993, 50:229).  

Studi kembar yang baru-baru ini diterbitkan gagal menemukan tingkat kesesuaian yang serupa. King dan McDonald mempelajari 46 laki-laki dan perempuan kembar yang homoseks. Tingkat kesesuaian yang mereka laporkan adalah 10%, atau 25% dengan kembar monozigot—tergantung pada apakah biseks ikut disertakan dengan homoseks. Tingkat untuk kembar dizigotik adalah 8% atau 12%, sekali lagi, tergantung pada apakah biseks disertakan (King dan McDonald, 1992). Byne dan Parsons berkomentar: “Angka ini jauh lebih rendah daripada yang dilaporkan oleh Bailey dan Pillard; dalam perbandingan tingkat kesesuaian  MZ [monozigot], termasuk biseks (25%), dengan angka yang sebanding dari Bailey dan Pillard (52%)” (p. 230). Mereka melanjutkan pengamatannya: “Selain itu, jika tingkat kesesuaian untuk kembar MZ dan DZ adalah serupa, maka pentingnya faktor genetika akan jauh lebih sedikit daripada yang diusulkan oleh Bailey dan Pillard” (p. 230, huruf tebal ditambahkan).       

Faktor lain yang mungkin memiliki pengaruh drastis pada hasil penelitian ini (dan pelbagai studi serupa lainnya) berpusat pada metodologi. Bailey dan Pillard tidak mempelajari sampel acak homoseksual. Sebaliknya, para subjek itu direkrut melalui iklan yang ditempatkan di pelbagai publikasi kelompok homoseks. Metode ini dapat dianggap dipertanyakan karena sangat tergantung pada jumlah pembaca publikasi tersebut dan pada motif orang-orang yang merespons. Dengan demikian, hal itu dapat mengarah kepada hasil yang diragukan—misalnya, tingkat kesesuaian yang meningkat pada kembar identik karena adanya partisipasi yang bersifat preferensial (lihat Baron, 1993). Hubbard dan Wald mengamati:  

Fakta bahwa saudara kembar laki-laki yang gay secara kasar dua kali lebih mungkin menjadi gay daripada saudara kandung lainnya menunjukkan bahwa faktor lingkungan terlibat, karena saudara kembar fraternal tidak lebih mirip secara biologis daripada saudara kandung lainnya. Jika menjadi saudara kembar memberikan pengaruh lingkungan, maka tidak mengherankan bahwa ini seharusnya bahkan lebih benar bagi kembar identik, yang dunia anggap sebagai “sama” dan memperlakukannya demikian, dan yang sering berbagi perasaan yang sama (1997, p. 97).

Dalam meringkas temuan mereka, Byne dan Parsons menyatakan: “Tinjauan yang kritis menunjukkan kurangnya bukti yang mendukung teori biologis” (50:228). Mengomentari laporan Bailey dan Pillard, peneliti Billings dan Beckwith menulis:

Sementara kedua penulis itu menafsirkan pelbagai temuan mereka sebagai bukti dasar genetika bagi homoseksualitas, kami berpendapat bahwa data sebenarnya memberikan bukti kuat bagi pengaruh lingkungan (1993, p. 60).

Ketika dievaluasi secara sainstifik, studi tentang orang kembar gagal memberikan dukungan yang valid bagi adanya “gen gay” yang didambakan.

DEAN HAMER—GEN GAY PADA KROMOSOM X

Dua tahun setelah laporan Simon LeVay, sebuah kelompok yang dipimpin oleh Dean H. Hamer dari National Cancer Institute diduga mengaitkan homoseksualitas lakilaki dengan satu gen pada kromosom X. Timnya menyelidiki 114 keluarga laki-laki homoseks. Hamer dan rekan-rekannya mengumpulkan informasi sejarah keluarga dari 76 laki-laki gay dan 40 pasangan laki-laki gay seraya mereka mencari insiden homoseksualitas di antara kerabat laki-laki gay.

Di banyak keluarga, laki-laki gay memiliki kerabat gay melalui garis ibu. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa satu gen untuk homoseksualitas mungkin ditemukan pada kromosom X, yang diturunkan dari ibu saja. Mereka lalu menggunakan analisis hubungan DNA dalam upaya untuk menemukan korelasi antara pewarisan dan orientasi homoseks.  

LAPORAN TEMUAN MEREKA

Karena banyak keluarga dengan prevalensi kerabat yang homoseks memiliki satu set penanda DNA yang sama pada kromosom X, kelompok Hamer mengasumsikan adanya etiologi genetika. Dari 40 pasang saudara homoseks yang ia analisis, Hamer menemukan bahwa 33 pasang memperlihatkan wilayah DNA yang cocok yang disebut q28—satu gen yang terletak di ujung lengan panjang kromosom X. Dalam meringkas temuan mereka, Hamer dan rekannya mencatat: “Eksperimen kami menunjukkan bahwa lokus (atau loki) yang terkait dengan orientasi seks terletak dalam sekitar 4 juta pasang DNA basa  di ujung lengan panjang kromosom X” (1993, 261:326, keterangan dalam tanda kurung dari aslinya). Penemuan ini mendorong Hamer dan rekan-rekannya untuk berspekulasi:      

Pengaitan kepada penanda pada Xq28, wilayah subtelomer dari lengan panjang kromosom seks, memiliki skor LOD [logarithm of the odds] multipoin 4.0, menunjukkan tingkat kepercayaan statistik lebih daripada 99 persen sehingga setidaknya satu subtipe orientasi seks laki-laki dipengaruhi secara genetika ( 261:321, huruf tebal ditambahkan).  

Penting untuk dicatat bahwa Hamer tidak mengklaim telah menemukan “gen gay,” atau bahkan satu set gen, yang mungkin berkontribusi bagi kecenderungan homoseksualitas. Menurut penulis staf Chicago Tribune, John Crewdson, apa yang Hamer akui telah ia temukan adalah “bukti statistik bahwa gen-gen semacam itu ada” (1995).  

MASALAH DENGAN STUDI HAMER

Salah satu masalah paling signifikan dengan pendekatan Hamer adalah bahwa ia dan rekan-rekannya tidak merasa penting untuk memeriksa apakah ada laki-laki heteroseks dalam keluarga ini yang memiliki penanda yang sama! Akankah tidak berguna untuk mengetahui apakah “gen gay” ini terdapat di dalam laki-laki heteroseks? Bahkan jika hanya sedikit dari mereka yang memiliki gen itu, ia mempertanyakan apa arti gen atau identifikasi diri . Selain itu, Hamer tidak pernah menjelaskan mengapa tujuh pasang saudara laki-laki lainnya tidak memperlihatkan penanda genetika yang sama. Jika ini adalah “gen” untuk homoseksualitas, maka orang harus berasumsi bahwa semua individu homoseks akan memiliki penanda khusus itu—namun itu tidak terjadi dalam penelitian Hamer.  

Dalam sebuah surat kepada Science, Anne Fausto-Sterling dan Evan Balaban menunjukkan beberapa masalah tambahan pada studi Hamer. Mereka menulis:  

Meski kami memuji aspek karya Hamer, yang lain,kami merasa penting juga untuk mengenali beberapa kelemahannya. Yang paling jelas dari ini adalah kurangnya kelompok kontrol yang memadai. Studi mereka menunjukkan kosegregasi suatu sifat (yang oleh Hamer, dkk. diberi label “homoseksualitas”) dengan penanda kromosom X dan kesesuaian sifat itu dalam diri saudarasaudara yang homoseks. Kosegregasi ini berpotensi bermakna jika ibu itu adalah heterozigot untuk sifat tersebut. Dalam hal ini, pemisahan kromosom tanpa penanda seharusnya muncul pada para saudara non-homoseks, tetapi Hamer, dkk. tidak menyajikan data untuk efek itu (1993, 261:1257, huruf tebal ditambahkan).      

Fausto-Sterling dan Balaban melanjutkan:

Kepekaan terhadap pelbagai asumsi tentang tingkatan latar belakang ini membuat data Hamer, dkk. kurang kuat dibandingkan ringkasan yang ditunjukkan dalam abstrak mereka.… Akhirnya kami ingin menekankan satu maksud yang dengannya kami yakin Hamer, dkk. akan setuju: korelasi tidak selalu menunjukkan sebab akibat (261:1257).   

Dengan kata lain, metodologi Hamer meninggalkan sesuatu yang harus ditindaklanjuti. Orang juga harus ingat bahwa pengambilan sampel Hamer tidak bersifat acak, dan, sebagai akibatnya, datanya mungkin tidak mencerminkan populasi sebenarnya.

George Rice dan rekan-rekannya dari Kanada memandang gen Xq28 dengan seksama. Mereka kemudian mengulas: “Jenis pendistribusian allele dan halo untuk semua penanda ini tidak meningkat melebihi harapan. Hasil ini tidak mendukung gen terkait-X yang mendasari homoseksualitas laki-laki” (1999, 284:665, huruf tebal ditambahkan). Rice, dkk., memasukkan 182 keluarga dalam studi mereka. Mereka mencatat: 

Tidak jelas mengapa hasil kami sangat berbeda dari studi asli Hamer. Karena penelitian kami lebih besar daripada Hamer dkk., kami tentu memiliki kekuatan yang memadai untuk mendeteksi efek genetika sebesar yang dilaporkan dalam penelitian itu. Meski demikian, data kami tidak mendukung keberadaan gen berefek besar yang memengaruhi orientasi seks pada posisi Xq28 (284:667).

Itu adalah cara bijak untuk mengatakan bahwa klaim apa pun yang menemukan

“gen gay” adalah berlebihan, jika tidak sepenuhnya salah, dan bahwa hasil studi terbaik Hamer adalah meragukan. Mengomentari studi Rice dan rekan-rekannya, Ingrid Wickelgren berkomentar: “… tim Ontario menemukan bahwa para saudara gay tidak lebih mungkin untuk berbagi penanda Xq28 daripada yang diantisipasi secara kebetulan …. Ebers menafsirkan semua hasil ini untuk berarti bahwa hubungan X  tidak ada sama sekali” (1999, 284:571, huruf tebal ditambahkan). 

Pada Juni 1998, psikiater Universitas Chicago Alan Sanders melaporkan pada pertemuan American Psychiatric Association bahwa ia juga tidak dapat memverifikasi hasil Hamer. Untuk mencari peningkatan hubungan Xq28, tim Sanders mempelajari 54 pasang saudara gay. Seperti yang ditunjukkan Wickelgren, tim Sanders menemukan “hanya petunjuk lemah—yang tidak signifikan secara statistik—dari satu hubungan Xq28 di antara 54 pasang saudara gay” (284:571). Mengomentari validitas penelitian Hamer, Wickelgren mengutip George Rice: “Secara keseluruhan, Rice mengatakan, hasilnya ‘menyiratkan bahwa jika ada keterkaitan [maka] itu sangat lemah [dan] itu tidak penting‘“ (1999, huruf tebal ditambahkan). Dua laboratorium independen gagal mereproduksi apa pun yang bahkan mirip dengan hasil Hamer. 

HOMOSEKSUAL DAPAT BERUBAH—BUKTI YANG MENENTANG GENETIKA

Orang yang lahir dengan penyakit diabetes tidak memiliki harapan untuk mengubah kondisinya. Demikian juga, anak yang lahir dengan sindrom Down akan membawa kelainan kromosom itu sepanjang hidupnya. Individu-individu ini adalah produk dari gen yang mereka warisi dari orang tua mereka. Homoseksualitas tampaknya sangat berbeda. Banyak orang telah berhasil mengubah orientasi seks mereka. [Sejujurnya, beberapa individu bereksperimen dengan berbagai pasangan seks—laki-laki/perempuan —sering, bolak-balik. Orang mungkin ingin mencari tahu apakah biseksualitas menunjukkan adanya “gen biseks?”] Namun begitu, ironisnya, penghapusan homoseksualitas sebagai sebuah julukan dari Diagnostic and Statistical Manual of Psychiatric Disorders oleh American Psychiatric Association telah mencegah banyak dokter untuk tidak berusaha memberikan terapi reparatif kepada kaum homoseks.   

Robert Spitzer melakukan penelitian terhadap 200 individu yang ia pilih sendiri (143 laki-laki, 57 perempuan) dalam upaya untuk melihat apakah para peserta itu dapat mengubah orientasi seks mereka dari homoseks menjadi heteroseks (2003, 32:403-417). Ia melaporkan beberapa perubahan minimal dari orientasi homoseks kepada heteroseks yang berlangsung setidaknya lima tahun (p. 403). Spitzer mengulas:

Mayoritas peserta memberikan laporan adanya perubahan dari orientasi homoseks yang dominan atau eksklusif sebelum terapi menjadi berorientasi kepada heteroseks hampir sepenuhnya atau secara eksklusif dalam tahun terakhir itu (p. 403).

Dalam meringkas temuannya, Spitzer menyatakan: “Dengan demikian, ada bukti bahwa memang terjadi perubahan dalam orientasi seks karena mengikuti beberapa bentuk terapi reparatif pada beberapa laki-laki gay dan kelompok lesbian.” Dengan demikian ia menyimpulkan: “Penelitian ini memberikan bukti bahwa beberapa laki-laki gay dan perempuan lesbian juga dapat mengubah fitur-fitur inti orientasi seks” (p. 415).

Enam tahun sebelumnya, National Association for Research and Therapy of Homosexuality (NARTH) merilis hasil penelitian selama dua tahun yang menyatakan:

Sebelum perawatan, 68 persen dari semua responden menganggap diri mereka sebagai homoseks eksklusif atau hampir sepenuhnya, dengan 22 persen lainnya menyatakan bahwa mereka lebih homoseksual daripada heteroseksual. Setelah perawatan, hanya 13 persen menganggap diri mereka sebagai homoseksual eksklusif atau hampir sepenuhnya, sedangkan 33 persen menggambarkan diri mereka sebagai heteroseks eksklusif atau hampir sepenuhnya (lihat Nicolosi, 2000, 86:1071).

Studi ini juga melaporkan:

Meski 83 persen responden menunjukkan bahwa mereka menjalani terapi terutama karena homoseksualitas, 99 persen dari mereka yang berpartisipasi dalam survei itu mengatakan mereka sekarang percaya bahwa pengobatan untuk mengubah homoseksualitas dapat menjadi efektif dan berharga (p.1071).

Data ini konsisten dengan proyek penelitian yang sedang dilakukan oleh Rob Goetze, yang telah mengidentifikasi 84 artikel atau buku yang mengandung beberapa relevansi dengan kemungkinan perubahan orientasi seks (2004). Dari data yang dilaporkan, 31 dari 84 penelitian menunjukkan hasil kuantitatif individu yang dapat mengubah orientasi seks. Ini bukan studi yang hanya berspekulasi pada kemampuan untuk berubah; mereka benar-benar memiliki angka-angka yang mendukungnya! Semua data ini bersumber pada peringatan dari Surgeon General, The American Academy of Pediatrics, dan semua asosiasi kesehatan mental utama, yang telah mengeluarkan pernyataan pendapat yang memperingatkan kemungkinan bahaya dari terapi tersebut, dan telah menegaskan bahwa tidak ada bukti bahwa terapi tersebut dapat mengubah orientasi seks seseorang. Misalnya, American Psychiatric Association Position Statement on Psychiatric Treatment and Sexual Orientation pada 1998 mencatat:

… tidak ada bukti sainstifik yang diterbitkan yang mendukung kemanjuran terapi reparatif sebagai pengobatan untuk mengubah orientasi seks seseorang … Risiko potensial terapi reparatif sangat besar, termasuk depresi, kecemasan, dan perilaku merusak diri sendiri (lihat American Psychiatric Association, 1999, p. 1131).

Dengan demikian, para dokter terperangkap dalam kesulitan standar ganda. Di satu sisi, mereka diberitahu bahwa “tidak etis” bagi petugas klinik untuk memberikan terapi reparatif karena homoseksualitas bukan gangguan yang dapat didiagnosis, dan dengan demikian orang seharusnya jangan berusaha untuk berubah. Namun, mereka berpendapat bahwa tidak banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menentukan efektivitas terapi reparatif. Pesannya keras dan jelas: ”Jangan lakukan ini karena tidak etis untuk meminta orang homoseks berubah. Namun begitu, sejujurnya, kita belum mengumpulkan cukup data untuk mengetahui apakah orang dapat dengan aman mengubah orientasi seks. “

Dalam situasi di mana orientasi seks sedang diukur, penelitian menghadapi masalah metodologis yang serius (yaitu, asesmen yang ditindaklanjuti, kemungkinan adanya bias, tidak ada riwayat seks yang terperinci, pengambilan sampel secara acak, dll.). Tetapi meski terdapat kekurangan serius dari studi perilaku seperti ini, ada data yang cukup untuk menunjukkan bahwa orang dapat mengubah orientasi seksnya dari homoseks menjadi heteroseks—sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika homoseksualitas disebabkan oleh genetika.

KESIMPULAN

Pertimbangkanlah masalah kelangsungan hidup yang jelas bagi individu yang diduga memiliki gen gay: individu-individu yang memiliki pasangan dari jenis kelamin yang sama secara biologis tidak dapat bereproduksi (tanpa menggunakan cara buatan). Karena itu, jika dugaan “gen gay” memang ada, populasi homoseksual pada akhirnya akan hilang sama sekali. Kita sekarang tahu bahwa secara ilmiah tidak akurat untuk menyebut “gen gay” sebagai agen penyebab dalam homoseksualitas. Bukti yang tersedia dengan jelas menetapkan bahwa tidak ada gen seperti itu yang telah diidentifikasi. Selain itu, ada bukti yang mendokumentasikan bahwa orang-orang homoseks dapat mengubah orientasi seks mereka. Keputusan di masa depan mengenai kebijakan tentang, dan/atau perlakuan terhadap, orang homoseks harus mencerminkan pengetahuan ini.   

REFERENSI

American Psychiatric Association (2000), Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, (Washington D.C.: American Psychiatric Association), fourth edition, text revision.

Bailey, Michael J., and Richard C. Pillard (1991), “A Genetic Study of Male Sexual Orientation,” Archives of General Psychiatry, 48:1089-1096, December.

Bailey, Michael J. and D.S. Benishay (1993), “Familial Aggregation of Female Sexual Orientation,” American Journal of Psychiatry, 150[2]:272-277.

Baron M. (1993), “Genetics and Human Sexual Orientation [Editorial],” Biological Psychiatry, 33:759-761.

Billings, P. and J. Beckwith (1993), Technology Review, July, p. 60.

Bower, B. (1992), “Gene Influence Tied to Sexual Orientation,” Science News, 141[1]:6, January 4.

Byne, William (1994), “The Biological Evidence Challenged,” Scientific American, 270[5]:50-55, May.

Byne, William and Bruce Parsons (1993), “Human Sexual Orientation,” Archives of General Psychiatry, 50:228-239, March.

Byrd, A. Dean, Shirley E. Cox, and Jeffrey W. Robinson (2001), “Homosexuality: The InnateImmutability Argument Finds No Basis in Science,” The Salt Lake Tribune, [On-line] URL: http://www.sltrib.com/2001/may/05272001/commenta/100523.htm.

Crewdson, John (1995), “Dean Hamer’s Argument for the Existence of ‘Gay Genes,’ “ Chicago Tribune, News Section, p. 11, June 25.

Fausto-Sterling, Anne and Evan Balaban (1993), “Genetics and Male Sexual Orientation,” [technicalcomment letter to the editor], Science, 261:1257, September 3.

Friedman, Richard C. and Jennifer I. Downey (1994), “Homosexuality,” The New England Journal of Medicine, 331[14]:923-930, October 6.

Gelman, David, with Donna Foote, Todd Barrett, and Mary Talbot (1992), “Born or Bred?,” Newsweek, pp. 46-53, February 24.

Goetze, Rob (2004), “Homosexuality and the Possibility of Change: An Ongoing Research Project,” [On-line], URL: http://www.newdirection.ca/research/index.html.

Hamer, Dean H., Stella Hu, Victoria L. Magnuson, Nan Hu, and Angela M.L. Pattatucci (1993), “A Linkage Between DNA Markers on the X Chromosome and Male Sexual Orientation,” Science, 261:321-327, July 16.

Horgan, John (1995), “Gay Genes, Revisited,” Scientific American, 273[5]:26, November.

Howe, Richard (1994), “Homosexuality in America: Exposing the Myths,” American Family Association, [On-line], URL: http://www.afa.net/homosexual_agenda/homosexuality.pdf.

Hubbard, Ruth and Elijah Wald (1997), Exploding the Gene Myth (Boston: Beacon Press).

“Human Genome Report Press Release” (2003), International Consortium Completes Human Genome Project, [On-line], URL: http://www.ornl.gov/TechResources/Human_Genome/project/50yr.html.

       Kallmann,    F.J.    (1952),    “Comparative    Twin    Study    on    the    Genetic    Aspects    of    Male

Homosexuality,” Journal of Nervous and Mental Diseases, 115:283-298.

King, M. and E. McDonald (1992), “Homosexuals Who are Twins: A Study of 46 Probands,” The British Journal of Psychiatry, 160: 407-409.

Kinsey, A.C. W.B. Pomeroy, C.E. Martin (1948), Sexual Behavior in the Human Male (Philadelphia, PA: W.B. Saunders).

Kinsey, A.C. W.B. Pomeroy, C.E. Martin, P. H. Gebhard (1953), Sexual Behavior in the Human Female (Philadelphia, PA: W.B. Saunders).

Laumann, Edward O., John H. Gagnon, Robert T. Michael, and Stuart Michaels (1994), The Social Organization of Sexuality: Sexual Practices in the United States (Chicago, IL: University of Chicago Press).

LeVay, Simon (1991), “A Difference in Hypothalamic Structure Between Heterosexual and Homosexual Men,” Science, 253:1034-1037, August 30.

Mann, Charles (1994), “Behavioral Genetics in Transition,” Science, 264:1686-1689, June 17.

Marcus, Eric (1993), Is It a Choice? (San Francisco, CA: Harper).

NCBI (2004), “Human Genome Resources,” [On-line], URL: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/genome/ guide/human/.

Nicolosi, Joseph, A. Dean Byrd, and Richard Potts (2000), “Retrospective Self-reports of Changes in Homosexual Orientation: A Consumer Survey of Conversion Therapy Clients,” Psychological Reports, 86:1071-1088, June.

Rainer, J.D., A. Mesnikoff, LC. Kolb, and A. Carr (1960), “Homosexuality and Heterosexuality in Identical Twins,” Psychosomatic Medicine, 22:251-259.

Reinisch, June M. and Ruth Beasley (1990) The Kinsey Institute New Report on Sex (New York: St. Martin’s Press).

Rice, George, Carol Anderson, Neil Risch, and George Ebers (1999), “Male Homosexuality: Absence of Linkage to Microsatellite Markers at Xq28,” Science, 284:665-667, April 23.

Risch, Neil, Elizabeth Squires-Wheeler, and Bronya J.B. Keats (1993), “Male Sexual Orientation and Genetic Evidence,” Science, 262:2063-2064, December 24.

Shepherd, Gordon M. (1994) Neurobiology (Oxford: Oxford University Press), third edition.

Spitzer, Robert L. (2003), “Can Some Gay Men and Lesbians Change Their Sexual Orientation?,” Archives of Sexual Behavior, 32[5]:403-417, October 5.

VandeHei, Jim (2004), “Dean Says Faith Swayed Decision on Gay Unions,” The Washington Post, p. A1, January 8.

Wickelgren, Ingrid (1999), “Discovery of ‘Gay Gene’ Questioned,” Science, 284:571, April 23.


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→