Menu

“Percaya” Dalam Yohanes 3:16

 
Dalam pengertian awal kata “percaya” kepada Yesus berarti secara mental mengakui Ia sebagai Anak Allah dan satu-satunya Juruselamat manusia. Jenis iman yang menyelamatkan dalam Yohanes 3:16 tentunya mencakup pengertian percaya ini, tapi itu juga mengandung lebih banyak lagi—seperti yang Yohanes 3 dan Alkitab tunjukkan secara keseluruhan.

Beberapa tahun yang lalu saya menanya seseorang apakah ia tertarik untuk belajar Alkitab secara pribadi. Ia menjawab pertanyaan saya dengan menyatakan bahwa ia mengetetahui Yohanes 3:16 dengan sangat baik dan bahwa Yohanes 3:16 adalah satusatunya ayat Alkitab yang ia butuhkan. Ia tampaknya yakin bahwa ia diselamatkan oleh Yesus karena ia “percaya” kepada Yesus. Saya telah menerima respons dasar yang sama dari berbagai individu selama bertahun-tahun. Mereka telah membaca atau mendengar kata-kata elok dari Yohanes 3:16 yang indah, menakjubkan, dan mungkin berulang kali. Dan tampaknya mereka yakin bahwa, karena mereka mengakui (atau secara mental menerima fakta tentang) keberadaan Yesus sebagai Anak Allah, maka mereka diselamatkan dari dosa mereka dan akan menerima hidup yang kekal di akhir zaman. Sudah cukup. Kasus selesai. Yaitu: “Allah adalah Allah yang pengasih. Dan karena saya ‘percaya’ kepada Yesus, saya tidak akan binasa, tetapi akan menerima hidup yang kekal.”

AYAT YANG SANGAT MENGESANKAN …  TAPI ALLAH MEMBERI KITA LEBIH DARI SATU AYAT

Yohanes 3:16 pastinya telah menjadi ayat favorit jutaan orang Kristen selama berabad-abad —dan memang benar begitu! Itu adalah pernyataan luar biasa dari Allah kita yang mahapemurah. Yohanes 3:16 dengan indah merangkum tema seluruh Alkitab: Allah sangat besar mengasihi manusia (keturunan-Nya yang sengaja tidak patuh) sehingga Ia memberikan karunia terbesar yang bisa Ia berikan, dan satu-satunya karunia yang berkuasa untuk menyelamatkan manusia dari dosa—pengorbanan yang sempurna, Anak Allah—dan siapa pun yang percaya kepada Dia akan diselamatkan dari hukuman dan akan menerima hidup yang kekal.

Saya menyukai Yohanes 3:16. Ayat itu dari pikiran Allah. Itu benar. Dan itu adalah ringkasan yang bagus tentang Injil Kristus. Tapi itu bukan satu-satunya ayat yang Allah berikan kepada manusia. Itu bukan satu-satunya ayat yang Roh Kudus ilhamkan untuk ditulis. Itu bukan satu-satunya kebenaran yang menyelamatkan jiwa yang Yesus pernah ucapkan atau yang Yohanes pernah tulis.1 Pemazmur menyatakan: “Keseluruhan firman-Muadalah kebenaran, dan setiap penghakiman-Mu yang adil bertahan selamalamanya” (119:160; KJV). Paulus menulis bahwa “Semua Kitab Suci diberikan melalui pengilhaman dari Allah” (2Timotius 3:16; KJV). Yesus berkata bahwa Roh kebenaran akan menuntun para rasul “ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13), yang kemudian mereka khotbahkan dan tuliskan (Efesus 3:1–5). Paulus menyatakan “seluruh maksud Allah” (Kisah 20:27). Baik Musa dan Yohanes memperingatkan tentang menambah atau mengurangi Firman Allah (Ulangan 4:2; 12:32;2 Wahyu 22:18–19). Ketika orang hanya menekankan satu kalimat dalam Kitab Suci untuk mengesampingkan semua yang lainnya, ia, pada dasarnya, tidak menghargai dan menolak segala sesuatu yang Tuhan ungkapkan demi manfaat kekal manusia, termasuk banyak kebenaran yang membantu untuk menafsirkan pernyataan ilahi lainnya dengan benar. 

Ayah manakah yang senang dengan anaknya yang hanya mendengarkan 1% dari apa yang ia katakan? Guru manakah yang akan meluluskan siswa yang hanya menyelesaikan 1% dari bacaan yang ditugaskan? Majikan manakah yang akan mentolerir para pekerja yang puas hanya mengetahui 1% dari apa yang perlu mereka ketahui—bahkan jika yang 1% itu termasuk pengetahuan paling mendasar tentang bisnis itu?

Jika Yohanes 3:16 “cukup,” mengapa Yesus mengajar dengan lebih banyak lagi? Mengapa Yohanes menulis lebih banyak lagi (dalam Injil Yohanes, juga 1, 2, dan 3Yohanes, dan Wahyu)? Dan jika Roh Kudus puas dengan manusia yang hanya mengetahui Yohanes 3:16, mengapa Ia mengilhami manusia untuk menulis ribuan pernyataan lainnya yang bermanfaat selama-lamanya (2Petrus 1:20–21)? Baik logika maupun Alkitab menuntut lebih daripada “seorang Kristen satu ayat.”

KEBODOHAN TENTANG PENAFSIRAN  SATU KATA DAN SATU AYAT

Satu Kata … Tanpa Konteks?

Apakah Anda mengacukepada kamus bahasa Inggris atau leksikon bahasa Yunani, sebagian besar kata memiliki lebih dari satu arti, dan beberapa kata memiliki banyak arti.3 Sebenarnya, menurut Guinness World Records, “Kata dalam bahasa Inggris yang memiliki arti paling banyak adalah kata kerja ‘set’, dengan 430 pengertian yang tercantum dalam Edisi Kedua Oxford English Dictionary … Kata itu memerintahkan entri paling panjang dalam kamus dengan 60.000 kata.“4 Beberapa kata dapat berfungsi sebagai kata benda dan kata kerja, tergantung pada bagaimana mereka digunakan dalam konteks tertentu.5 Kata-kata lainnya dapat digunakan nyaris sebagai kebalikan yang sepenuhnya. Misalnya, kata “mengabaikan [overlook]” dapat berarti “memeriksa,” atau itu dapat berarti “mengabaikan.”6 Satu-satunya cara untuk memahami kata itu dengan benar adalah dengan memahaminya dalam konteksnya .    

Kebenaran mendasar tentang penafsiran ini tentu berlaku untuk Kitab Suci. Bahkan kata-kata  paling mendasar, yang para penulis Alkitab gunakann ratusan atau ribuan kali, harus dipertimbangkan dengan cermat. Kata kerja bahasa Inggris “tahu”7 (dari bahasa Ibrani yada dan bahasa Yunani ginosko) ditemukan lebih dari 1.000 kali dalam New King James Version. Sering kali itu digunakan dalam arti hanya sadar akan sesuatu atau seseorang. Di lain waktu, itu digunakan dalam pengertian yang lebih intensif tentang keadaan sangat terinformasi mengenai, dan bahkan berpengalaman.8 Kadang-kadang itu bahkan digunakan untuk mengacu kepada hubungan seks (Kejadian 4:17; Matius 1:25). Orang sungguh tidak bisa tahu apa arti kata “tahu” tanpa konteksnya. ”Penafsiran satu kata”9 (dengan segala hormat) adalah bodoh dan berbahaya.

Satu Ayat … Tanpa Konteks?

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadak.” “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” Apakah arti ayat-ayat ini?10 Apakah kita tidak pernah boleh menghakimi?11 Dapatkah orang Kristen berharap untuk menjadi sangat kuat sehingga kita dapat mengangkat beban 10 ton jika kita inginkan (untuk alasan apa pun)? Haruskah kita benar-benar berharap menerima apa saja yang kita inginkan dari “jin” kita di sorga?12 Fakta sederhananya adalah, benar-benar memahami satu ayat Kitab Suci tapi mengesampingkan semua ayat lainnya adalah sama sia-sia dan berbahayanya dengan berpikir bahwa kita dapat memahami satu kata tanpa konteks apa pun. Ini tentu benar tentang Yohanes 3:16. 

Memang, Yohanes menulis “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya [Yesus] tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tetapi apa artinya “percaya” kepada Yesus? Itu mudah, bukan? Semua orang tahu apa artinya “percaya kepada” sesuatu atau seseorang. Dan jika tidak, orang dapat dengan cepat membuka kamus dan menemukan bahwa percaya dapat berarti hanya “mempertimbangkan sebagai benar atau jujur,” atau “menerima sebagai pendapat,” atau “menganggap” atau “berpikir.”13 Ini adalah beberapa definisi terkemuka modern dan penggunaan umum kata bahasa Inggris “believe [percaya].” Dengan demikian, banyak orang menyimpulkan, tanpa pengetahuan lebih lanjut tentang Kitab Suci, atau bahkan tanpa memikirkan lebih lanjut beberapa definisi lain tentang istilah Inggris modern “believe [percaya],”14 sehingga apa yang orang harus lakukan untuk menerima hidup yang kekal hanya dengan “mempertimbangkan,” “menduga,” atau “mengira” bahwa Yesus adalah Anak Allah. 

“PERCAYA” DAN TUJUAN INJIL YOHANES

Kita tentu saja tidak ingin mengurangi keharusan dan manfaat kekal orang berdosa belajar tentang Yesus dan bergerak dari (a) tidak tahu apa-apa tentang Dia, kepada (b) menjadi paham dan menerima bukti keilahian-Nya. Orang berdosa tidak bisa diselamatkan hanya oleh Allah yang adil dan kudus tanpa “mempertimbangkan” Juruselamat yang tidak berdosa, pengasih, dan berkorban15—“Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Lebih dari 2.000 tahun terakhir, miliaran orang telah secara tragis menolak Injil Kristus yang berdasarkan fakta dan menyelamatkan jiwa. Namun begitu, Yohanes menegaskan bahwa Yesus adalah ”Allah,” “firman,” “anak domba,” “roti hidup,” “terang dunia,” “pintu,” “gembala yang baik,” “kebangkitan dan kehidupan,“ “ jalan, kebenaran, dan hidup,“ “pokok anggur yang benar, “dan” Kristus, Anak Allah.“16 

Yohanes tidak hanya menyiratkan bahwa Yesus itu ilahi, tetapi ia menulis dengan tujuan untuk membuktikan hal itu. ”Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias,

Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya“ (20:30–31). Yohanes mengatur catatannya tentang Kabar Baik itu di seputar tujuh mujizat Yesus,17 termasuk Yesus berjalan di atas air, penyembuhan orang buta sejak lahir, dan membangkitkan Lazarus dari antara orang mati. Yesus melakukan pelbagai mujizat (dan Yohanes mencatatnya) untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Untuk merespons sekelompok orang Yahudi yang bertanya apakah Ia adalah Kristus atau bukan, Yesus menjawab,      

Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, … Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yohanes 10:25, 37–38).

Pada kesempatan lain, Yesus membela keilahan-Nya, dengan mengatakan, “Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku” (Yohanes 5:36). Saat berada di Bumi, Yesus “dibuktikan oleh Allah … dengan pelbagai mujizat dan hal-hal mengherankan dan tanda-tanda yang Allah adakan melalui Dia” (Kisah 2:22; NASB). Seperti yang akan sudah diharapkan dari Pribadi yang mengaku sebagai Allah yang berinkarnasi (Yohanes 1:1–3, 14; 10:30), Kitab Suci mencatat (dan khususnya Yohanes) bahwa Yesus mengadakan pelbagai mujizat di sepanjang pelayanan-Nya dalam upaya untuk memberikan bukti yang cukup tentang pesan dan sifat ilahi-Nya.  

Bagia milyaran ateis, agnostik, skeptis, Yahudi, dan Muslim mana saja di seluruh dunia untuk diselamatkan dari dosa-dosa mereka, pertama-tama mereka harus mendengarkan dan mempelajari tentang(Yohanes 6:45) pembelaan yang sangat kuat (apologia) yang Yohanes tulis—bahwa “Yesus adalah Kristus, Anak Allah” (20:31). ”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Matius 13:9). Tetapi tidak hanya “mendengar,” hendaklah ia “percaya.” Tetapi apakah artinya “percaya”?      

BIARKAN ALKITAB MENJELASKAN “PERCAYA”

Menurut Anda apakah arti “percaya”? Dalam satu pengertian yang sangat nyata, tidak masalah apa yang Anda atau saya pikirkan;  yang penting hanya apa yang Allah katakan dan apa yang Allah maksudkan. Penjelasan yang sebenarnya dan sesungguhnya atas teks itu pada akhirnya adalah yang terpenting. Jika ada interpretasi yang benar, maka penjelasan yang khusus dan benar itu harus menjadi satu-satunya interpretasi yang kita cari. Dan pemahaman yang benar seperti itu bukan tanpa harapan. Serupa dengan kebanyakan percakapan sehari-hari yang kita lakukan dengan para anggota keluarga, para rekan kerja, teman-teman sekelas, dan pegawai toko, di mana kita biasanya dengan mudah memahami apa arti kata-kata dalam percakapan itu, kita pun dapat dengan benar memahami kata-kata dari Kitab Suci (terutama ketika kita dengan rajin dan cermat menafsirkannya). Tetapi sekali lagi, kita harus membiarkan Kitab Suci menafsirkan dirinya sendiri (sebanyak mungkin) dan tidak ditipu oleh preferensi kita sendiri dan ide-ide yang telah terbentuk sebelumnya.         

Seperti sebagian besar kata, kata benda “iman”/“kepercayaan” (dari bahasa Yunani pistis) dan kata kerja “percaya” (dari bahasa Yunani pisteuo) digunakan dalam Kitab Suci dalam pengertian yang berbeda. Kata “percaya” dan “tidak percaya” tentunya bisa mengacu hanya untuk mengakui sesuatu sebagai benar (terbukti) atau tidak benar. Dalam Roma 14:2, dalam sebuah diskusi tentang kebebasan dan hal-hal yang bersifat pendapat, Paulus mengacu kepada orang yang “percaya ia boleh makan segala jenis makanan.” “Iman” atau “kepercayaan” khusus ini adalah pemahaman tentang fakta bahwa orang Kristen tidak terikat oleh hukum makanan Perjanjian Lama. Rasul Yohanes memerinci interogasi orang-orang Farisi terhadap orang buta yang Yesus sembuhkan dan mencatat bahwa “orang-orang Yahudi itu tidak percaya tentang Dia … sampai mereka memanggil orang tuanya” (Yohanes 9:18). Para interogator ini tidak berpikir atau beranggapan bahwa ia sedang mengatakan yang sebenarnya atau bahwa hal itu adalah memungkinkan. Ingatlah bahwa ketika Saulus pergi ke Yerusalem setelah menjadi orang Kristen dan “mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid,” tetapi “semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid” (Kisah 9:26). Orang-orang ini tidak berpikir bahwa gembong penganiaya atas umat Kristen telah benar-benar menjadi orang Kristen.               

Yakobus 2:19 mungkin memberikan contoh yang paling jelas tentang perlunya untuk secara hati-hati mempertimbangkan istilah “kepercayaan” (pistis) dan “percaya” (pisteuo), dan tidak berasumsi bahwa “kepercayaan” yang nyata dan menyelamatkan di dalam Yesus adalah sekadar “pemahaman” atau ”pengakuan“ tentang Dia. Yakobus menulis, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setansetanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.“ Perhatikanlah bahwa Yakobus menyejajarkan ”kepercayaan“ setan-setan dengan ”iman“ beberapa ”orang percaya.“ Orang-orang yang mengakui fakta bahwa ”hanya ada satu Allah … itu baik,“ karena pengakuan seperti itu adalah pilar paling utama agama Kristen.18 Namun begitu, pengakuan intelektual belaka tentang keberadaan satu-satunya Allah sejati adalah iman yang tidak memadai. (Jenis “iman” yang “iman saja” tidak akan menyelamatkan.) Markus mencatat satu roh najis yang bahkan mengakui bahwa Yesus adalah “Yang Kudus dari Allah” (Markus 1:24). Memang, ia mengakui kebenaran tentang Yesus. Ia memiliki satu tipe  “iman,” tetapi pastinya bukan iman yang menyelamatkan. Karena itu, seperti yang secara efektif Yakobus perlihatkan, siapa saja yang membenarkan keberadaan Allah dan Yesus maka orang itu “percaya” dalam satu pengertian—tetapi hanya dalam pengertian bahwa “setan-setan juga percaya.” Namun setan tidak selamat. Dengan demikian, secara logika, orang yang “sekadar percaya” (yaitu, yang “mempertimbangkan” atau “berpikir”) bahwa Yesus adalah Anak Allah adalah tidak selamat.             

Ingatlah juga bahwa banyak pemimpin Yahudi “percaya” kepada Yesus, “tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah”(Yohanes 12:42–43). Apakah orang-orang ini “percaya”? Di satu sisi, ya: mereka menganggap Yesus sebagai Mesias. Tetapi apakah mereka memiliki iman menyelamatkan yang nyata, yang Allah restui? Tentunya tidak, karena Yesus sebelumnya bertanya, “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?(Yohanes 5:44). ”Orang-orang percaya” yang lebih menyukai restu dan pujian manusia adalah para penipu yang pamer, bukan orang percaya yang setia kepada Kristus (Matius 23:5; 6:1–4). ”Kepercayaan” kepada Yesus yang tidak diakui adalah “iman” yang dangkal dan memalukan, bukan iman yang terpuji dari orang yang diselamatkan.19 

IZINKAN YOHANES PASAL 3 MENJELASKAN “PERCAYA” DALAM YOHANES 3:16

Jika orang berkata “Tembak!” apakah ia sedang menggunakan kata itu sebagai pernyataan imperatif (perintah) atau sebagai seruan frustrasi? Jika kita temukan bahwa itu adalah perintah, apakah maksudnya? Apakah ia bermaksud menembakkan senjata, atau menyuntikkan heroin, atau melempar bola? Dan bahkan jika kita temukan bahwa perintah itu lebih spesifik: “Tembakkan/lemparkan bola itu!” apakah itu berarti melemparkan bola basket, bola sepak, atau menyodok bola biliar? Jika pernyataan itu masih lebih spesifik, “Tembakkan bola itu ke arah sasaran yang benar,” kita masih tidak tahu apakah instruksi itu ada hubungannya dengan bola basket atau bola sepak. Tanpa informasi tambahan, tanpa konteks, kita benar-benar tidak bisa tahu. 

John McCloskey, penulis dan ilustrator buku anak-anak Amerika abad ke-20, pernah berkata, “Saya tahu Anda percaya bahwa Anda paham apa yang Anda pikir saya katakan, tetapi saya tidak yakin Anda sadar bahwa apa yang Anda dengar bukan apa yang saya maksudkan.”20 Banyak orang berasumsi bahwa apa yang Allah maksudkan selalu apa yang mereka pikir Ia maksudkan daripada apa yang Ia maksudkan lewat apa yang Ia katakan (dan jelaskan). Secara khusus, tampaknya banyak orang dalam Kekristenan menganggap “percaya” dalam Yohanes 3:16 yang menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya hanya penerimaan fakta bahwa Yesus adalah Anak Allah dan “Juruselamat pribadi saya.” Namun, tanpa informasi lebih lanjut daripada yang diberikan dalam satu kalimat ini, dan terutama tanpa konteks, orang benar-benar tidak dapat tahu dengan pasti.      

Tempat terbaik untuk mulai memastikan bahwa kita memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh dan tepat tentang istilah “percaya” dalam Yohanes 3:16 adalah Yohanes pasal 3. Semua 36 ayat dalam pasal ini dapat dibaca dalam tiga menit, namun pelbagai kebenaran yang mendalam, merubah kehidupan, dan menggetarkan jiwa yang ditemukan di dalamnya dapat direnungkan seumur hidup.

Yohanes 3:14–15

Dalam pernyataan terdekat sebelumnya kepada Yohanes 3:16, Yesus mengacu kembali kepada suatu saat dalam sejarah Israel ketika Allah menghukum orang Israel yang tidak tahu berterima kasih dan mengeluh dengan ular berbisa (Bilangan 21). Setelah banyak yang mati karena digigit ular itu, umat Israel mengakui dosa-dosa mereka dan meminta Musa untuk berdoa kepada Allah dan bersyafaat untuk mereka. “Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup” (Bilangan 21:8–9).

Yesus membandingkan Musa yang meninggikan ular tembaga dalam Bilangan 21 dengan Anak Manusia “yang ditinggikan,” dengan menambahkan bahwa “barangsiapa percaya kepada Dia boleh memiliki hidup yang kekal” (Yohanes 3:14–15, ESV). Pertimbangkan dengan saksama bahwa kaum Israel yang tertimpa bencana dalam Bilangan 21 dapat belajar tentang kebenaran yang sangat penting, yang menyelamatkan nyawa dari ular tembaga itu namun begitu mereka masih belum disembuhkan. Mereka bahkan dapat “ percaya ” (dalam arti secara mental menyetujui kebenaran itu) bahwa jika mereka melihat ular tembaga itu mereka dapat disembuhkan, namun begitu mereka masih belum disembuhkan. Kecuali jika mereka percaya dalam pengertian yang lebih dalam, dan (a) benar-benar meninggalkan kenyamanan kemah tempat tinggal mereka, (b) berjalan (atau digotong) melewati (setidaknya sebagian dari) pekermahan yang luas (yang terdiri dari ratusan ribu orang Israel—bdk. Bilangan 1:46), (c) membuka mata mereka, dan (d) melihat ke arah dan secara harfiah kepada ular tembaga itu, maka mereka tidak akan secara fisik disembuhkan oleh Penyembuh Agung dari kondisi mereka yang mematikan itu.     

Demikian pula, siapa pun yang “sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” secara rohani (Efesus 2:1) dan yang “tanpa Kristus” (2:12), harus melihat kepada Anak Manusia dan “percaya” kepada Dia. “Kepercayaan” ini tidak lebih daripada sekadar pengakuan mental bahwa Yesus adalah satu-satunya jawaban untuk masalah dosa, sebagaimana juga orang-orang Israel itu mengakui dan dengan tulus percaya bahwa ular tembaga itu adalah jawaban bagi penyakit fisik mereka yang mematikan. Allah adalah Penyembuh, tetapi Ia hanya yang menyembuhkan mereka yang dengan setia mengikuti resep kesembuhan yang Ia setujui.

Yohanes 3:5

Menariknya, dalam percakapan yang sama dengan Nikodemus, hanya 10 ayat singkat sebelumnya, Yesus menyatakan, “Kecuali orang dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5; KJV). Perhatikanlah bahwa Yesus menuntut sesuatu dari mereka yang ingin masuk ke dalam kerajaan Allah rohani yang menyelamatkan jiwa (lih. Mat. 25:34): mereka harus dilahirkan kembali—dari air dan Roh. Yesus tidak mengatakan bahwa orang hanya secara mental “memercayai” kebenaran penting untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Ia pastinya tidak mengatakan untuk mengulang-ulang “doa orang berdosa” untuk masuk ke dalam kerajaan sorga. Yesus menekankan satu persyaratan serius: “kecuali” orang mengikuti petunjuk-Nya, “ia tidak dapat memasuki kerajaan Allah.”   

Jadi apakah artinya “dilahirkan dari air dan Roh”? Mungkin pertanyaan yang lebih baik untuk ditanyakan adalah, “Apakah Allah memberi kita indikator apa saja dalam Kitab Suci untuk menjelaskan lebih lanjut instruksi Yesus kepada Nikodemus?” Mungkinkah rasul Yohanes yang terilham sedang mengacu kepada baptisan air? Ia sebelumnya menulis tiga kali bahwa Yohanes Pembaptis membenamkan orang-orang berdosa ke dalam air (Yohanes 1:26, 31, 33) ketika ia memberitakan tentang kedatangan Kerajaan (Matius 3:2). Yohanes menyoroti fakta bahwa, setelah percakapan Yesus dengan Nikodemus dalam Yohanes 3:1–21, Yesus dan para murid-Nya pergi ke Yudea dan “dibaptis” (3:22). Yohanes lalu segera mengacukan Yohanes pembaptis lagi, kali ini menuliskan bahwa ia “membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air” (3:23). Akhirnya, rasul Yohanes mengatakan di awal pasal berikutnya bahwa “Yesus mendapatkan dan membaptis lebih banyak murid daripada Yohanes (meski Yesus sendiri tidak membaptis, tetapi murid-murid-Nya)” (4:1–2, KJV). Mengingat fakta bahwa begitu banyak orang Yahudi di Yerusalem dan di “seluruh tanah Yudea” dibaptis oleh Yohanes pembaptis (Markus 1:5), serta oleh para murid Yesus (Yohanes 4:26), dan mempertimbangkan seringnya rasul Yohanes menyebutkan penyelaman dalam air, belum lagi puluhan kali baptisan air disebutkan di tempat lain dalam Perjanjian Baru, bukankah masuk akal bahwa Yesus sedang mengacu kepada baptisan air dalam Yohanes 3:5? Tindakan lain apakah dalam Perjanjian Baru yang melibatkan air yang dikaitkan dengan memasuki Kerajaan Allah?      

Paulus menunjukkan bahwa orang Kristen telah dikuduskan dan disucikan “dengan memandikannya dengan air dan firman” (Efesus 5:26). Ia juga mengajarkan bahwa “dalam satu Roh kita semua, … telah dibaptis menjadi satu tubuh” (1Korintus 12:13). Petrus menulis bahwa kita telah “dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah” (1Petrus 1:23). Yakobus menulis bahwa Allah “ memperanakkan ” (KJV) atau “menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya” (1:18). Dan Yesus berkata kita harus “dilahirkan dari air dan roh” (Yohanes 3:5). Tampaknya memang konsisten secara Alkitabiah untuk menyimpulkan bahwa ”benih” ilahi dari Roh Kudus (yaitu, Firman/Injil-Nya—Lukas 8:11) ditanamkan ke dalam pikiran manusia dan bekerja dengan kuat di dalam hati mereka untuk menghasilkan pemahaman tentang Kristus yang mengubah hidup, serta kehidupannya sendiri, yang menuntun kepada penyelaman ke dalam air untuk memasuki kerajaan Allah .       

Tetap saja, bahkan jika orang menyimpulkan bahwa ia sama sekali tidak memahami pernyataan Yesus kepada Nikodemus, ia pasti harus mengakui bahwa instruksi Yesus dalam Yohanes 3:5 tidak benar-benar selaras dengan pandangan “percaya” yang dangkal, tidak mengubah kehidupan, sekadar seperti pengakuan dalam Yohanes 3:16.

Yohanes 3:36

Dalam ayat terakhir pasal ini, Yohanes membuat suatu kontras yang sangat jelas yang membantu untuk menjelaskan lebih lanjut tentang iman yang menyelamatkan dari Yohanes 3:16. Sayangnya, kontras yang spesifik itu tidak jelas dalam beberapa versi Alkitab. Sebagai contoh, Alkitab NKJV berbunyi: “Barangsiapa percaya kepada Anak memiliki hidup yang kekal; dan ia yang tidak percaya kepadaAnak tidak akan melihat kehidupan, tetapi murka Allah tetap ada padanya” (Yohanes 3:36). Alkitab KJV juga mengontraskan “percaya” dengan “tidak percaya.” Bagaimanapun, istilah-istilah Yunani yang mendasari itu sebenarnya berbeda. Yohanes tidak membandingkan pisteuo dan ouk pisteuo—“percaya” dan “tidak percaya” (bdk. Yoh 9:18). Sebaliknya, Yohanes justru mengontraskan pisteuo dan apeitheo—orang yang “percaya” kepada Yesus dengan orang yang “tidak menaati” Dia (ESV, ASV, NASB, RSV). Jadi, benar-benar “percaya” kepada Yesus berarti tunduk sepenuhnya kepada Dia—menaati Dia. Ahli kamus Yunani Joseph Thayer dengan tepat mengomentari kata kerja pisteuo (“percaya”) dan menjelaskan bahwa ketika kata itu digunakan “terutama tentang iman yang dengannya orang menganut Yesus” itu berarti “keyakinan, kepercayaan yang penuh sukacita, bahwa Yesus adalah Mesias—sumber keselamatan kekal yang ditetapkan secara ilahi dalam kerajaanAllah, digabungkan dengan kepatuhan kepada Kristus.“21 

Rasul Petrus juga mengontraskan “percaya” dengan “tidak taat,” dengan mengatakan, “Jadi bagi kamu yang percaya (pisteuo), batu itu mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya (apisteo), ‘Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru’, dan ‘Batu sandungan dan batu kehinaan;’ karena mereka tersandung sebab mereka tidak taat (apeitheo) kepada firman itu, dan malapetaka itu telah disediakan untuk mereka“ (1Petrus 2:7–8, NASB). Penulis Ibrani juga menggunakan istilah-istilah ini (atau turunannya) dengan cara yang mencerahkan ketika menjelaskan bahwa bangsa Israel tidak diizinkan masuk ke dalam Tanah Perjanjian karena mereka “ tidak taat ” (3:18; apeitheo ). Namun ayat berikutnya menyatakan: “Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka” (3:19; apistia). Dan kemudian enam ayat kemudian, dalam Ibrani 4:6, penulis menyatakan bahwa mereka “tidak masuk karena ketidaktaatan” (apeitheia). Ketika Alkitab diizinkan untuk menjelaskan sendiri (baik dalam Yohanes 3 dan di tempat lain),22 kita ketahui bahwa iman kepada Allah yang nyata, percaya, dan menyelamatkan adalah iman yang taat.23 

Yohanes 3:18–21

Indikator keempat dalam Yohanes 3 bahwa “percaya” dan “menaati” terkait erat (dan bahwa yang dimaksudkan bukan keyakinan internal semata) ditemukan dalam ayat 18–21:

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatanperbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. 

Orang yang “tidak percaya” kepada Yesus menyukai kegelapan dan melakukan kejahatan dan tidak mengikuti terang. Orang yang benar-benar “percaya,” di sisi lain, “ melakukan yang benar” dan dengan begitu “datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Di tempat lain rasul Yohanes menulis: “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia [Allah], tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran” (1Yohanes 2:3, 4).       

Ketidakrasionalan pendapat bahwa orang diselamatkan dari dosa-dosanya hanya oleh “iman saja” (tanpa tindakan ketaatan apa saja) terlihat jelas dalam kenyataan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk percaya kepada Dia. Dan dengan demikian percaya kepada Allah berarti taat pada perintah Allah. Seperti yang Yohanes tulis dalam 1 Yohanes 3:23: “Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” Jadi, tidak percaya berarti tidak taat kepada Allah, dan percaya adalah taat kepada Allah. Faktanya, Yesus menyatakan dalam Yohanes 6:29, “percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” adalah “pekerjaan yang dikendakiAllah.”24 

MEMPERTIMBANGKAN PENTINGNYA GAYA BAHASA

Jika siswa Alkitab gagal mengenali penggunaan beragam gaya bahasa oleh para penulis yang terilham, maka akan mustahil untuk memahami dengan benar banyak bagian Kitab Suci. Sama seperti orang Indonesia diharapkan untuk menafsirkan dengan benar bahasa kiasan (“Hidup dengan membanting tulang”), sarkasme (“Jangan bicara”), dan ekspresi hiperbolik (“Saya sangat lapar sekali sehingga saya bisa habiskan nasi sebakul”), siswa Alkitab juga harus sadar bahwa Kitab Suci mengandung banyak kiasan—“Mereka ada di mana-mana!”25 

Satu kiasan umum (yang memiliki nama yang tidak terlalu umum) dikenal sebagai sinekdoke: di mana sebagian mewakili keseluruhan, atau keseluruhan mewakili sebagian. Orang yang memamerkan mobilnya mungkin berkata, “Periksa saja bannya.” “Ban” adalah bagian mobil yang relatif kecil namun istilah ini digunakan untuk mengacukan keseluruhan mobil itu. Seorang pemimpin militer mungkin mengacu kepada berapa banyak “sepatu bot yang mereka miliki,” ketika sebenarnya ia sedang menekankan para prajurit yang mengenakan sepatu bot itu.

Para penulis Alkitab juga menggunakan sinekdoke. Misalnya, “memecahkan roti” adalah sinekdoke kuno yang umum, di mana “roti” (“sebagian”) mewakili semua makanan dan minuman yang akan dikonsumsi pada perjamuan makan biasa (“keseluruhan”).26 Setelah berdirinya Gereja, “pemecahan roti” juga akhirnya mewakili keseluruhan Perjamuan Tuhan (di mana yang sebenarnya dimaksudkan adalah konsumsi roti tidak beragi dan buah anggur—Kisah 2:42; 20:7).      

Jadi apakah hubungannya semua ini dengan “percaya”? Semata-mata bahwa kata kerja “percaya” dan kata benda “kepercayaan” dan “orang percaya” sering digunakan sebagai sinekdoke. Iman yang nyata dan menyelamatkan tentu saja dimulai dengan langkah yang sangat penting untuk “mempertimbangkan” atau “memikirkan” (yaitu, “untuk percaya”)27 Yesus adalah benar-benar Anak Allah, tetapi “kepercayaan” kepada Yesus yang lengkap yang Allah restui dan Alkitabiah berarti jauh lebih banyak daripada sekadar tiba pada kesimpulan mental bahwa Yesus adalah Juruselamat Ilahi. Seorang percaya yang Alkitabiah mengakui kepercayaan-Nya kepada Yesus (Roma 10:9– 10; 1Yohanes 4:15). Ia bertobat dari dosa-dosanya (Lukas 13:3; Kisah 2:38; 22:16). Ia dibaptis ke dalam Kristus (Yohanes 3:5; Kisah 2:38; 22:16). Seorang percaya sejati

“menaati”—baik dalam prosesnya untuk menjadi seorang “percaya” yang lengkap (yaitu, seorang Kristen) dan setelah ia menjadi anak Allah (Yohanes 3:36; Ibrani 5:9; 11:6; 1Yohanes 2:3–5; 5:1–5; Wahyu 2:10). Meski semua unsur ini terlibat dalam mengikuti Yesus dengan setia, para pengikut Kristus sejati sering disebut hanya sebagai “orang percaya.”   

Ketika ribuan orang non-Kristen dalam Kisah Para Rasul 2 mendengar Injil yang dikhotbahkan oleh para rasul dan “hati mereka terharu,” mereka bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” (Kisah 2:37). “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus’” (ay. 38). ”Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis … Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (2:41–42). Kata apakah yang penulis Alkitab gunakan untuk menggambarkan orang-orang yang (a) bertobat, (b) dibaptis, dan (c) bertekun dalam doktrin para rasul, dll.? Disebut apakah para pengikut Kristus yang taat ini? Mereka disebut sebagai semua orang “yang telah menjadi percaya” (2:44). Apakah mereka hanya “setuju” dengan Kristus? Tidak. Mereka menjadi ”orang percaya,” dan “terus” tetap menjadi “orang percaya” (2:42–47). Yaitu, mereka secara aktif mengikut Kristus. Mereka patuh kepada Dia.   

Ketika seorang penjaga penjara Filipi yang tidak percaya bertanya kepada Paulus dan Silas, “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” (Kisah 16:30), juru bicara Allah menjawab, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu“ (ay. 31). Apakah menjadi “percaya” (yaitu, “tahu tentang”) Yesus adalah perlu? Mutlak perlu. Tidak ada hal lain yang penting jika orang tidak lebih dulu mengakui siapa Yesus itu dan apa yang telah Ia lakukan untuk dia. Karena itu, para rasul kemudian “memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya” (ay. 32). Lalu, “ia dan keluarganya memberi diri dibaptis” (ay. 33). Menariknya, seperti dalam Kisah Para Rasul 2, Alkitab tidak mengacukan mereka sebagai benar-benar “percaya kepada Allah” sampai setelah mereka dibaptiskan (ay. 34).   

Sinedoke adalah kiasan yang sangat nyata yang telah digunakan di sepanjang sejarah, termasuk di zaman Alkitab. Faktanya adalah, mengenai keselamatan orang berdosa, jumlah total persyaratan yang Allah berikan agar diselamatkan seringkali ditunjukkan dengan penggunaan satu atau dua persyaratan.28 Dan, sebagaimana dicatat oleh D. R. Dungan, “Pada umumnya yang pertama disebutkan—yaitu iman—karena tanpanya tidak ada hal lain yang dapat diikuti.”29 Para penulis Alkitab bisa saja mengacu kepada anak-anak Allah sebagai “orang-orang yang bertobat,” “orang-orang yang mengaku,” atau “orang-orang yang diselamatkan,” tetapi seringkali mereka secara wajar mengacukan mereka itu hanya sebagai orang “percaya”30 

KESIMPULAN

Dalam satu hal—dalam pengertian dasar kata itu—“percaya” kepada Yesus berarti secara mental mengakui bahwa Ia adalah Anak Allah dan satu-satunya Juruselamat manusia. Jenis iman yang menyelamatkan dalam Yohanes 3:16 tentu saja mencakup pengertian percaya ini, tetapi itu juga terdiri lebih daripada itu. Itu mencakup percaya kepada Juruselamat yang ditinggikan (3:14–15), menolak kegelapan, datang kepada terang, dan melakukan pekerjaan kebenaran (3:19–21), “dilahirkan kembali dari air dan Roh” (3:3, 5), dan menaati Anak (3:36). Menjadi “orang percaya” dalam pengertian penuh kata itu adalah menaruh sepenuhnya kepercayaan kepada Juruselamat: tidak hanya “mengakui” Dia, tetapi juga mengikut Dia ke mana pun Ia pimpin—termasuk mengakui Dia di depan umum, bertobat dari dosa, diselamkan ke dalam air, dan kemudian hidup setiap hari sebagai hamba Raja yang taat, “bahkan sampai mati” (Wahyu 2:10, NIV). Seperti yang Yesus katakan dalam Yohanes 12:25–26: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” 

CATATAN AKHIR

1Kita tidak dapat katakan dengan pasti apakah Yohanes 3:16 adalah kutipan langsung dari Yesus atau komentar oleh Yohanes. Hebatnya, kita tidak harus mengetahui hal ini untuk mengetahui ajaran Allah. Apakah Yohanes 3:16 itu kutipan langsung dari Yesus atau bukan, itu berasal dari Allah, dan dengan demikian berkuasa secara ilahi. Kita harus berhati-hati untuk tidak menganggap Alkitab berhuruf-merah berisi semua (dan hanya) kutipan langsung Yesus yang dicetak dengan warna merah. Penerbit Alkitab pasti melakukan penilaian tentang kata-kata apa yang mereka beri warna merah dan kata-kata mana yang tidak. Faktanya adalah, warna apa pun yang penerbit itu gunakan untuk katakata Yesus dan para penulis Alkitab, semuanya itu pantas mendapatkan hormat yang mendalam darikita karena semuanya itu berasal dari Allah.    

2Pertimbangkanlah: Akankah Allah berkenan dengan orang Israel mana saja yang menalar bahwa “saya hanya butuh Ulangan 6:4–5. Saya tidak perlu tahu lebih daripada itu”? Shema, sebagaimana orang Yahudi menyebutnya, tentu saja meringkas salah satu tema utama Kitab Suci, tetapi menghargai nas ini saja tapi mengabaikan semua nas lainnya akan sudah berbahaya bagi bangsa Israel itu, seperti halnya bagi kita—apakah tentang ayat ini atau aya lain mana saja. 

3Tergantung pada kamus Inggris apa yang orang itu buka, kata “run,” “go,” “take,” dan “stand” masing-masing mungkin memiliki 100 atau lebih definisi (yaitu, arti yang dengannya kata-kata itu dapat dipahami). 

4Lihat www.guinnessworldrecords.com/worldrecords/englishwordwiththemostmeanings/(penekanan ditambahkan), dan secara khusus acuannya kepada Edisi Kedua Oxford English Dictionary cetakan 1989.  

5Contoh: “Saya keberatan [object] dengan benda [object] yang tergantung di ruang sidang.” 

6Contoh: “Ketika saya memeriksa [overlooked] makalah penelitian saya terakhir kalinya, saya memutuskan untuk mengabaikan [overlook] catatan akhirnya, karena catatan itu terkadang membosankan untuk dibaca.”  7Atau turunannya (mis. sudah tahu [knew], diketahui [known], mengetahui [knowing]). 

8E.g., Keluaran 6:3; 1 Samuel 3:7. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Eric Lyons (2006), “Did the Patriarchs Know Jehovah By Name?” Apologetics Press, apologeticspress.org/apcontent.aspx?category=6&article=1051. 

9Interpretasi yang didasarkan pada satu kata tanpa sandaran apa saja pada konteks terdekatnya atau jauhnya. 

10Matius 7:1; Filipi 4:13; Matius 7:7. 

11Lihat Eric Lyons (2003), “To Judge, or Not to Judge,” www.apologeticspress.org/AP Content.aspx?category=11 &article=1197. 

12Lihat Kyle Butt (2010), “Defending the Bible’s Position on Prayer,” www.apologeticspress.org/APContent.aspx?

category=13&article=3483. 

13”Believe” (2019), Merriam-Webster, www.merriam-webster.com/dictionary/believe.  

14Contoh: “Memiliki keyakinan atau kepercayaan agama yang teguh atau sepenuh hati” (www.merriamwebster.com/dictionary/believe). 

15Yohanes 14:6; Efesus 2:12–13; 2 Tesalonika 1:8–9. 

16Yohanes 1:1; 1:29; 6:49; 8:12; 10:9,11,14; 11:25; 14:6; 15:1; 20:31  17Yohanes 2:1–11; 4:46–54; 5:1–9; 6:1–14; 6:16–21; 9:1–41; 11:1–44. 

18Jika orang tidak lebih dulu percaya kepada Allah Alkitab yang sejati dan esa, maka tidak ada hal lain yang penting. Segala  sesuatu lainnya yang orang itu akhirnya pelajari dan percayai secara logis mengikuti penerimaan keberadaan Allah.   

19Matius 10:32–33; Roma 10:9–10; 1 Yohanes 4:15; 1 Timotius 6:12. 

20”Berasal dari Robert McCloskey, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, oleh Marvin Kalb, reporter CBS, dalam TV Guide, 31 Maret 1984, dengan mengutip keterangan pers yang tidak disebutkan waktunya pada waktu perang Vietnam,” http://quotes.yourdictionary.com/author/ kutipan / 601648, penekanan ditambahkan.  

21J. H. Thayer (1977 reprint), Greek-English Lexicon of the New Testament (Grand Rapids, MI: Baker), p. 511, penekanan ditambahkan.   

22Lihat khususnya Yakobus 2:14–26 dan Ibrani 11. 

23Bdk. Roma 1:5; 16:26, ESV. 

24”Iman …adalah karya Allah dalam pengertian itu adalah apa yang Allah telah perintahkan kepada manusia untuk dilakukan”—Guy N. Woods (1989), A Commentary on The Gospel of John (Nashville: Gospel Advocate Company), p. 125. Frasa ini tidak berarti pekerjaan yang dilakukan oleh Allah; melainkan, maksudnya adalah “pekerjaan yang diminta dan disetujui oleh Allah” (Thayer, p. 248). bdk Wayne Jackson (1997), “The Role of ‘Works’ in the Plan of Salvation,” Christian Courier, 32:47, April.    

25Hanya contoh lain dari hiperbola, yaitu melebih-lebihkan dengan sengaja. 

26Yeremia 16:7; Kisah Para Rasul 2:46; 27:34–35. 

27”Believe” (2019), Merriam-Webster , www.merriam-webster.com/dictionary/believe.  

28Di manakah pengakuan dan pertobatan yang disebutkan dalam Markus 16:16? Di manakah kepercayaan dan pengakuan dalam Kisah Para Rasul 2:38? Di manakah kepercayaan yang disebutkan dalam 1 Yohanes 4:15? Dll. 29D. R. Dungan (1888), Hermeneutics (Delight, AR: Gospel Light, reprint), p. 305. 

30Kisah Para Rasul 4:32; 5:14; 9:42; 10:45; 18:8; 1 Timotius 4:12; 6:2.  


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→