Menu

“Jangan Menjadi Pasangan Yang Tidak Seimbang”

Paulus menasihati umat Kristen Korintus, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2Korintus 6:14). Pernyataan ini sering diterapkan kepada masalah perkawinan, dengan kesimpulan selanjutnya bahwa orang Kristen diperintahkan untuk jangan kawin dengan orang non-Kristen. Namun begitu, interpretasi ini menimbulkan beberapa masalah.

Pertama, konteksnya tidak sedang membahas perkawinan. Kita harus sangat berhati-hati untuk tidak salah menerapkan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam nas ini. Penerapan suatu nas harus akurat. Misalnya, menerapkan perintah “jangan kecap” (Kolose 2:21) kepada makan cokelat akan menjadi penerapan yang salah dalam dua hal. Pertama, coklat diasumsikan termasuk dalam kategori bahan-bahan yang dilarang dalam konteks itu. Kedua, itu gagal memahami fakta bahwa “jangan kecap” adalah apa yang diperintahkan oleh lawanlawan Paulus. Mereka salah dalam membuat hukum yang tidak dibuat oleh Allah. Demikian juga, larangan untuk jangan menjadi pasangan yang tidak seimbang harus diperlihatkan berlaku kepada perkawinan.  

Kedua, jika yang dilarang adalah membentuk perkawinan antara orang Kristen dan non-Kristen, satu-satunya cara untuk bertobat dari tindakan seperti itu adalah dengan memutuskan perkawinan. Satu-satunya cara untuk bertobat dari hubungan terlarang itu adalah dengan mengakhiri hubungan itu (bdk. Ezra 10:11; Markus 6:18; 1 Korintus 6:9–11). Paulus dalam konteks itu secara eksplisit menyatakan untuk “keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka” (2 Korintus 6:17). Tetapi kesimpulan yang tak terhindarkan ini akan bertentangan dengan Matius 19:9, di mana Yesus menyatakan bahwa ada satu dan hanya satu alasan perceraian, yaitu percabulan— bukan perkawinan dengan orang non- Kristen. 

Ketiga, jika perkawinan dengan orang non-Kristen dilarang, maka orang nonKristen berdosa ketika mereka kawin dengan satu sama lain. Orang non-Kristen yang mengawini orang non-Kristen bersalah karena tidak kawin dengan orang Kristen.

Keempat, jika orang Kristen berbuat dosa ketika kawin dengan orang non- Kristen, bagaimanakah dengan orang non-Kristen yang mengawini orang Kristen? Orang non-Kristen itu tidak akan berdosa karena ia kawin dengan orang Kristen. Oleh karena itu,tindakan yang merupakan dosa untuk satu (orang Kristen) adalah benar dan pantas untuk yang lain (non-Kristen)!

Kelima, penafsiran 2 Korintus 6:14 yang demikian menyiratkan bahwa perkawinan adalah institusi “Kristen.” Namun ikatan perkawinan dibentuk oleh Allah pada waktu Penciptaan ribuan tahun sebelum agama Kristen diperkenalkan kepada planet ini (Kejadian 2:24). Hukum perkawinan dari Allah berlaku sama bagi semua orang dalam semua periode sejarah Alkitab. Tidak ada seorang pun sebelum salib Kristus kawin dengan orang Kristen! Namun perkawinan yang dilakukan sebelum agama Kristen sah jika dilakukan selaras dengan hukum-hukum perkawinan dari Allah (yaitu, sesuai dengan Kejadian 1:27, 2:24, Matius 19:3–12, Roma 7:1–3, dan 1Korintus 7:1–40).      

Semua orang yang memilih untuk menikah diwajibkan oleh Allah untuk “menikah dalam Tuhan” (1 Korintus 7:39; KJV). Artinya, orang itu harus menikah selaras dengan hukum-hukum Allah, sebagaimana anak-anak harus mematuhi orang tua mereka “di dalam Tuhan” (Efesus 6:1), yaitu, sesuai dengan instruksi orang tua yang selaras dengan kehendak Kristus. Perkawinan orang Kristen dengan orang non-Kristen bisa jadi penuh dengan bahaya. Mungkin kadang-kadang tidak bermanfaat, tidak bijaksana, atau sangat berbahaya secara rohani. Namun begitu, Alkitab tidak mengajarkan bahwa perkawinan itu berdosa.

Jadi apakah makna nas ini? Ini berarti bahwa orang Kristen tidak boleh terlibat dalam kesepakatan sosial apa saja (misalnya, bisnis) dengan orang lain yang mengharuskan orang Kristen untuk melanggar hukum Allah. Sebagai contoh, misalkan Anda membentuk kemitraan bisnis dengan orang non-Kristen dengan membuka sebuah restoran. Setelah itu, Anda mengetahui bahwa mitra Anda berniat menyajikan alkohol dan menjual rokok kepada para pelanggan. Atau mungkin Anda mendapatkan dia menipu pelanggan dengan menagih mereka terlalu mahal. Atau Anda menemukan bahwa ia tidak melaporkan keuntungan kepada Kantor Pajak. Dalam setiap kasus ini, Anda sebagai orang Kristen akan mendapatkan diri Anda dalam “pasangan yang tidak seimbang,” yaitu, suatu hubungan yang akan mengharuskan Anda terlibat dalam perbuatan yang salah. Apakah yang harus dilakukan orang Kristen dalam kasus seperti itu? ”Keluarlah kamu dari antara mereka,” yaitu, mengakhiri kemitraan bisnis dengan dia.


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→