Menu

“Hari Pertama Dalam Minggu Itu”

Keempat catatan Injil mengungkapkan bagaimana Yesus bangkit (dan kubur-Nya ditemukan kosong) “pada hari pertama minggu itu” (Matius 28:1; Markus 16:2, 9; Lukas 24:1; Yohanes 20:1; bdk. 20:19). Bertahun-tahun kemudian, Paulus menyurati gereja Korintus memerintahkan mereka untuk memberikan kontribusi secara teratur “pada hari pertama dari tiap-tiap minggu” (1Korintus 16:2; atau “pada hari pertama setiap minggu”—NASB, NIV, RSV). Lukas mencatat dalam kitab Kisah Para Rasul bagaimana Paulus, ketika dalam perjalanan misinya yang ketiga, berhimpun dengan orang-orang Kristen di Troas “pada hari pertama dalam minggu itu” (20:7). Ungkapan “hari pertama dalam minggu itu” muncul delapan kali dalam terjemahan bahasa Indonesia yang paling banyak digunakan dalam Perjanjian Baru. Berdasarkan bacaan teks ini, bersama dengan berbagai nas tambahan (misalnya, Wahyu 1:10), orang Kristen berhimpun untuk menyembah Allah pada hari Minggu. Namun begitu, setelah melihat teks Yunani, beberapa orang mempertanyakan integritas terjemahan “hari pertama dalam minggu itu,” dengan bertanya-tanya apakah kata yang lebih baik adalah “hari Sabat.”

Diakui, bentuk kata Yunani untuk sabat (sabbaton atau sabbatou) memang muncul di masing-masing nas dari delapan nas yang diterjemahkan “hari pertama dalam minggu itu.” Misalnya, dalam Kisah Para Rasul 20:7 frasa ini diterjemahkan dari mia ton sabbaton. Namun begitu, sabbaton (atau sabbatou) tidak pernah diterjemahkan sebagai “hari Sabat” dalam nas-nas ini. Mengapa? Karena kata tersebut digunakan dalam konteks ini (seperti yang sangat didukung oleh para sarjana bahasa Yunani) untuk menyatakan “seminggu” (Perschbacher, 1990, p. 364), “periode tujuh hari” (Danker, et al., 2000, p. 910; bdk. Thayer, 1962, p. 566). Yesus pernah menggunakan istilah “Sabat” dalam pengertian ini ketika mengajar tentang dosa membenarkan diri sendiri (Lukas 18:9). Ia menyampaikan perumpamaan tentang orang Farisi yang suci dan berdoa: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (18:11-12, huruf tebal ditambahkan). Ungkapan “dua kali seminggu” berasal dari bahasa Yunani dis tou sabbatou. Jelas Yesus tidak sedang mengatakan bahwa orang Farisi itu membual puasa dua kali pada hari Sabat, tetapi dua kali (dis) seminggu (tou sabbatou). 

Menurut R. C. H. Lenski, karena “Orang Yahudi tidak memiliki nama untuk harihari dalam minggu,” mereka “menyebut hari-hari itu dengan acuan kepada hari Sabat mereka” (1943, p. 1148). Jadi, mia ton sabbaton berarti “[hari] pertama yang terkait dengan hari Sabat,” yaitu hari pertama setelah hari Sabat (Lenski, p. 1148), atau, seperti yang akan kita katakan dalam bahasa Indonesia abad ke-21, “hari pertama dalam minggu itu.” 

Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun memeriksa tulisan-tulisan Yahudi dalam Babylonian Talmud, Hebraist John Lightfoot menulis A Commentary on the New Testament from the Talmud and Hebraica, di mana ia menguraikan metode orang Ibrani menghitung hari-hari dalam seminggu. Ia menulis: “orang Yahudi memperhitungkan hari-hari dalam seminggu seperti ini; Satu hari (atau hari pertama) dari sabat: dua (atau hari kedua) dari sabat;” dll. (1859, 2:375, huruf miring dari aslinya). Lightfoot lalu mengutip dari dua traktat Talmud yang berbeda. Maccoth menyinggung orang-orang yang bersaksi pada “hari pertama dari sabat” tentang orang yang mencuri seekor lembu. Pengadilan lalu digelar pada hari berikutnya—”pada hari kedua dari sabat” (Lightfoot, 2:375, huruf miring dari aslinya; Maccoth, Pasal 1). Bava Kama menguraikan sepuluh undang-undang yang ditetapkan oleh orang bernama Ezra, termasuk pembacaan kitab Taurat secara terbuka” pada hari kedua dan kelima dari hari sabat,” dan pembasuhan pakaian “pada hari kelima dari sabat” (Lightfoot, 2:375; Bava Kama, Chapter 7). Dalam terjemahan Michael Rodkinson tahun 1918 tentang karya Maccoth dan Bava Kama, ia secara akurat menerjemahkan “hari kedua dari sabat” sebagai Senin, “hari kelima dari sabat” sebagai Kamis, dan “hari pertama dari sabat” sebagai hari Minggu

Jika kata sabbaton dalam bagian-bagian seperti Matius 28:1, Markus 16:2, dan Kisah 20:7 sebenarnya menunjukkan “hari Sabat,” ketimbang “periode tujuh hari,” maka orang akan mengharapkan beberapa terjemahan Alkitab yang terkemuka menerjemahkannya demikian. Namun begitu, setiap terjemahan utama Alkitab bahasa Inggris/Indonesia menerjemahkan mia ton sabbaton sebagai “hari pertama dalam minggu itu.” Mengapa? Karena para sarjana menyadari metode orang Yahudi dalam menghitung hari dalam seminggu dengan menggunakan hari Sabat sebagai titik acuan. 

Akhirnya, pertimbangkanlah kesulitan yang akan muncul dengan kisah kebangkitan Yesus jika sabbaton diterjemahkan Sabat. ”Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan pagi-pagi benar pada hari Sabbath (sabbaton) pertama, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur” (huruf tebal ditambahkan). Penerjemahan sabbaton seperti itu dalam Markus 16:2 akan menjadi tidak masuk akal. Sabat telah berakhir, dan mia ton sabbaton (“hari pertama dalam minggu itu”) telah dimulai. Nas ini dapat dipahami dengan benar hanya ketika orang mengakui metode perhitungan hari orang Yahudi. 

Sama seperti apologis abad kedua Justin Martyr (sekitar 150 M.) bicara tentang

Yesus yang bangkit dari antara orang mati “pada hari pertama setelah hari Sabat” (Dialog …, 41), dan menyamakan hari ini dengan “hari Minggu” (“First Apology,” 67), demikian pula seharusnya orang Kristen abad ke-21. Bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati “pada hari pertama dalam minggu itu” (Markus 16:9), dan umat Kristen berhimpun untuk beribadah pada hari ini (Kisah 20:7; 1Korintus 16:2; lih. Justin Martyr, “First Apology,” 67), adalah fakta yang mapan. Hari Minggu adalah hari pertama setelah Sabat Yahudi—“hari pertama dalam minggu itu.”

REFERENSI

Danker, Frederick William, William Arndt, and F.W. Gingrich, (2000), Greek-English Lexicon of the New Testament (Chicago, IL: University of Chicago Press).

Justin Martyr, (1973 reprint), Dialogue with Trypho, in The Ante-Nicene Fathers (Grand Rapids, MI: Eerdmans).

Justin Martyr (1973 reprint), First Apology, in The Ante-Nicene Fathers (Grand Rapids, MI: Eerdmans).

Lenski, R.C.H. (1943), The Interpretation of St. Matthew’s Gospel (Minneapolis, MN: Augsburg).

Lightfoot, John (1979 reprint), A Commentary on the New Testament from the Talmud and Hebraica (Grand Rapids, MI: Baker).

Perschbacher, Wesley J., ed. (1990), The New Analytical Greek Lexicon (Peabody, MA: Hendrickson).

Rodkinson, Michael, trans. (1918), The Babylonian Talmud, [On-line], URL: http://www.sacredtexts. com/jud/talmud.htm#t06.

Thayer, Joseph (1962 reprint), Greek-English Lexicon of the New Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan).


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→