Menu

Distorsi “Radikal” Kitab Suci

Alkitab versi As Good As New, yang diterjemahkan oleh mantan pendeta Baptis John Henson, dan diberi judul “Penceritaan Radikal Kitab Suci,” yang dirilis pada Juni 2004 oleh sekelompok orang Inggris yang mengaku radikal yang menyebut diri mereka “One.” Alkitab versi As Good As New, mungkin menyebar luas dengan tidak diketahui oleh komunitas agama, seandainya Uskup Agung Canterbury di Inggris, Dr. Rowan Williams (pemimpin gereja Anglikan) tidak memberikan restunya yang antusias terhadap terjemahan itu (lihat “New Bible Translation…,” 2004). Siaran pers dari “Ekklesia,” sebuah komite teologis yang berbasis di London yang mendukung terjemahan “One”, mengungkapkan hal berikut ini:    

Terjemahan oleh John Henson dari organisasi “One” bertujuan menghasilkan terjemahan yang “baru, segar dan penuh petualangan” atas kitab-kitab suci Kristen. Ini dirancang untuk orang-orang Kristen yang dewasa dan bagi mereka yang memiliki pengalaman terbatas tentang agama Kristen tradisional atau “yang mungkin merasakan itu sebagai penghalang bagi penghargaan tentang Yesus” (“The One Translation,” 2004).

Namun begitu, jelas terlihat bahwa fokus Henson bukan untuk memberi para pembacanya terjemahan yang akurat, tetapi untuk membuat para pembacanya yang radikal merasa nyaman, bahkan jika itu mengompromikan arti sebenarnya dari Kitab Suci. Satu pengecer menulis tentang As Good As New

Terjemahan itu juga mengikuti terjemahan budaya, di mana misalnya “kerasukan roh jahat” menjadi apa yang dipahami sekarang ini sebagai, “penyakit mental.” Terjemahan itu mengikuti “terjemahan kontekstual,” mengikuti pengertiannya akan bagian-bagian yang panjang. Itu juga bersifat “inklusif,” mengikuti prinsip-prinsip yang Yesus adopsi terkait dengan budayanya. Terjemahan itu bersahabat dengan kaum perempuan, gay, dan pendosa. Penyimpangan radikal lainnya mencerminkan perlunya demitologisasi untuk menerjemahkan secara memadai ke dalam budaya kita sendiri. Misalnya “Kerajaan Allah” dengan demikian menjadi “Dunia Baru Allah” (“A Radical and Readable …,” 2004).

Uskup Agung itu memuji Henson karena mengganti “kata-kata dan kebijakankebijakan” Alkitab “yang pengap, teknikal, yang eksklusif tanpa disadari” dengan ungkapan modern (belum lagi ajaran-ajaran modern, yang berbeda dari ajaran sederhana dari para penulis Alkitab asli) [“New Bible Translation…, “2004]. Hanya sedikit yang memiliki masalah dengan mereka yang hanya ingin Alkitab untuk dapat dimengerti (meski itu tentunya dapat dimengerti dalam versi yang lebih tradisional), tetapi setelah mempertimbangkan sejauh mana Henson mengubah morfologi Alkitab menjadi sesuatu yang ia anggap “dapat dibaca,” para pembaca yang rasional akan menolak itu. Ingatlah bahwa “komunitas” dari beragam penganut agama, yang tertarik dengan proses penerjemahan Henson, memberikan sumbangan kepada karya ini. Rupanya, kelompok penyumbang dalam terjemahan tidak secara ketat hanya terdiri dari para sarjana Yunani atau Ibrani, tetapi dari “siapa saja” yang mau menyumbang.

Henson dan kawan-kawan tidak memberi para pembaca sekadar “terjemahan” bahasa Inggris dari bahasa asli Alkitab. (As Good As New adalah terjemahan hanya dalam pengertian bahwa “One” menyebut itu terjemahan. Henson tampaknya tidak peduli dengan kata-kata asli yang sebenarnya [lihat “The One Translation,” 2004], tetapi hanya “pengertian” dari berbagai kumpulan kata-kata itu, sehingga “pengalihan bahasa” akan lebih baik menggambarkan apa yang “One” telah hasilkan.) Singkatnya, Henson telah berupaya untuk menulis ulang Alkitab.   

Sebagai contoh, dalam upaya untuk memasukkan hanya apa yang “One” anggap sebagai “pemilihan kitab-kitab yang dihargai paling tinggi oleh Gereja mula-mula dalam dua abad pertama,” kitab Wahyu telah dikecualikan, dan telah digantikan oleh Injil Thomas yang apokrifa (“A Radical and Readable …”, 2004). Dalam upaya mereka untuk menghilangkan semua “kata-kata besar” dari tulisan suci, kelompok penerjemah yang samar-samar ini telah memberikan nama panggilan modern kepada banyak tokoh Alkitab. Misalnya, rasul Petrus adalah “Rokcy,” Maria Magdalena adalah “Maggie,” Yohanes Pembaptis adalah “Yohanes Pencelup,” Nama Harun disingkat menjadi “Ron,” dan Nikodemus hanya menjadi, “Nick.”

“One” telah mengkudeta teks-teks Alkitab yang sederhana untuk membuat Injil lebih benar secara politik. Menurut koresponden agama London Times, Ruth Gledhill, “Alih-alih mengutuk para pesundal, pezina, dan ‘penyalahgunaan diri sendiri dengan umat manusia’ [seperti yang Paulus lakukan, melalui pewahyuan, ketika ia menulis

1Korintus 6:9—CC], versi baru surat pertama Paulus kepada gereja Korintus berisi nasihat Paulus kepada orang Kristen untuk jangan hidup tanpa seks terlalu lama, agar mereka tidak ‘frustrasi’“ (seperti dikutip dalam “New Bible Translation…,” 2004). Alihalih menerjemahkan dengan benar perintah Paulus itu (dicatat dalam 1 Korintus 7:1–2) bahwa, untuk menghindari percabulan, setiap laki-laki harus memiliki istrinya sendiri, dan setiap perempuan harus memiliki suaminya sendiri, As Good As New  membuat Paulus menulis: “Saran saya untuk setiap orang adalah milikilah pasangan yang tetap “(dikutip dalam “New Bible Translation,” 2004).

Penyimpangan tidak berhenti di situ. ”Sorga” dalam terjemahan baru, menjadi “dunia tanpa ruang dan waktu.” “Perumpamaan” disebut “teka-teki.” Dalam upaya untuk mendapatkan dukungan dari kaum perempuan, para kontributor As Good As New memilih untuk menerjemahkan “Anak Manusia,“ sebutan yang Yesus sering gunakan untuk diri-Nya, sebagai ”Orang Yang Sempurna,“ dan ”Bapa,“ salah satu gelar Alkitabiah Allah, sebagai “Allah Paling Pengasih.“ Juga untuk menyenangkan kaum perempuan, Yesus tidak disebut “Anak Allah,” melainkan “Keserupaan Allah.”  

Penyimpangan semacam itu adalah apa yang memang bisa diantisipasi dari sebuah organisasi yang dalam lima prioritas utamanya mencantumkan, tidak mengajarkan atau membela kebenaran, tetapi “menantang penindasan, ketidakadilan, pengucilan, dan diskriminasi,” untuk “menerima satu sama lain, menghargai keragaman dan pengalaman mereka” (“Who We Are,” 2003). Para anggota “One” berkomitmen untuk saling menerima “di dalam Kristus,” untuk “mendukung secara aktif mereka yang melakukan pekerjaan Kristus di dalam atau di luar gereja institusi ini,” dan untuk memerangi “kemiskinan, rasisme, dan penindasan melalui tindakan sosial dan politik” (“Who We Are, “2003, huruf tebal ditambahkan). Orang tidak perlu banyak memeriksa materi yang “One” terbitkan sebelum ia sadar bahwa tujuan utama kelompok itu bukan untuk mengajar orang bagaimana diselamatkan, tetapi lebih untuk mendorong agenda kelompok kiri ke dalam tenggorokan orang-orang beragama. Bagi “One,” satu langkah utama menuju pencapaian tujuan itu akan berupa penerimaan secara luas As Good As New.     

Karena itu, Uskup Agung Williams berharap terjemahan baru itu akan menyebar “dalam jumlah banyak seperti wabah melalui [saluran] keagamaan dan juga bukan keagamaan.” Namun begitu, orang-orang yang berakal akan menyadari apa itu As Good As New sebenarnya: penyimpangan yang memutarbalikkan Kitab Suci. Henson, Williams, dan para anggota “One” dan “Ekklesia” seharusnya takut akan jiwa mereka, karena mereka tidak hanya mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Alkitab yang sederhana (meski mereka melakukannya dengan berusaha menipu orang agar berpikir sebaliknya), tetapi juga mempromosikan dengan tepat apa yang dilarang oleh rasul terilham Yohanes: “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetakamalapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini” (Wahyu 22:18–19 ).  

Yang benar adalah bahwa kita dapat mengetahui, dengan pasti, kitab-kitab apa saja yang termasuk di dalam Alkitab (lihat A. P. Staff , 2003) dan bahwa Alkitab dapat dimengerti. Oleh karena karya para sarjana Yunani dan Ibrani yang terhormat, kita dapat mengerti, dalam bahasa Inggris/Indonesia, apa yang Tuhan inginkan untuk kita ketahui. Sebagai contoh, King James Version berada pada tingkat baca kelas 12, Alkitab New American Standard Bible kelas 10 atau 11, dan Alkitab New King James Version pada kelas 8  atau 9  (“English Bible Translation…,” 2004; “Reading Levels of Various…,” n.d.). Umat beragama tidak butuh Alkitab berbahaya yang menyimpang untuk mengatasi masalah yang mereka rasakan dalam memahami Injil. Manusia telah membaca, memahami, dan menaati Alkitab selama hampir 2.000 tahun, tanpa bantuan dari John Henson atau kelompok penerjemah yang plin-plan.        

REFERENSI

“A Radical and Readable New Translation” (2004), John Hunt Publications, [On-line], URL: http://www.o-books.net/goodasnew.htm.

“English Bible Translation Comparison” (2004), International Bible Society, [On-line], URL: http://www.gospelcom.net/ibs/bibles/translations/index.php.

“New Bible Translation Promotes Fornication” (2004), [On-line], URL: http://www.worldnetdaily. com/ news/ article.asp?ARTICLE_ID=39114.

“Reading Levels of Various Bible Translations,” (n.d.), [On-line], URL: http://www.bridgebuilders. 4mg. com/ bibles_reading_levels.htm.

A.P. Staff (2003), “The Canon and Non-Canonical Writings,” [On-line], URL: http://www.

Apologeticspress.org/articles/1972.

“The One Translation” (2004), [On-line], URL: http://one.gn.apc.org/Translation.htm.

“Who We Are” (2004), The “One” Council, [On-line], URL: http://one.gn.apc.org/whoweare.htm.


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→