Menu

“Dia Yang Di Atas”

Mungkin Anda pernah bercakap-cakap ketika seseorang menggunakan ungkapan “Yang Di Atas.” Bahkan, mungkin Anda sendiri pernah menggunakan ungkapan itu. Kebanyakan orang mengerti bahwa frasa ini seharusnya mengacu kepada Allah. Penyanyi country terkenal Garth Brooks membawakan sebuah lagu, berjudul “Unanswered Prayers,” di mana ia menyebut Allah sebagai “Yang Di Atas.” Mari kita pertimbangkan beberapa kemungkinan implikasi yang bisa terkandung dalam gagasan itu.

 Tampaknya ada kecenderungan manusia untuk memandang Allah sebagai “Orang Besar,” atau “Yang Di Atas,” dan mengaitkannya dengan sifat-sifat manusia. Seringkali, ketika orang menggunakan frasa seperti itu, orang itu menganggap Allah lebih berkuasa daripada orang lain, dan menempatkan Allah lebih tinggi (di atas) daripada orang lain, tetapi masih memandang Allah sebagai semacam raksasa, Orang yang sangat kuat. Faktanya, agama Yunani dan Romawi mengambil gagasan “Yang Di Atas” kepada kesimpulan logisnya dan mengaitkannya dengan kepribadian dewa-dewa mereka dan kekurangan karakter yang terlihat pada manusia biasa. Dewa-dewa pagan berbohong, menipu, mencuri, kawin, dan membunuh seperti manusia “kecil,” hanya perbuatan jahat mereka yang dianggap berada pada skala kosmik.

 Sebenarnya, Alkitab melukiskan gambaran yang sangat berbeda tentang Allah daripada yang terkandung dalam pemikiran “Yang Di Atas.” Alkitab berulang kali menegaskan bahwa Allah bukan manusia. Dalam Bilangan 23:19, dalam sebuah nubuat yang terilham, Balak menyatakan, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta.” Nabi Yesaya menulis: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (55:8-9). Allah sorga sejati tidak seperti ilah-ilah pagan kuno dengan kebohongan dan kemunafikan mereka. Allah sorga “tidak dapat berdusta” (Titus 1:2), bahkan Ia tidak dapat dicobai oleh kejahatan (Yakobus 1:13). Faktanya, Allah itu sempurna dalam segala hal, “Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia” (Ulangan 32:4).

 Walaupun benar bahwa Alkitab kadang-kadang menggambarkan Allah dengan sifat-sifat manusia (disebut antropomorfisme), seperti memiliki tangan atau mata, tapi tidak benar bahwa Allah hanya Manusia yang lebih besar, lebih tinggi. Ia sepenuhnya sempurna, “Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33). Marilah kita selalu ingat ketika kita menghampiri Allah kita dalam ibadah dan doa, bahwa kita sedang menghampiri Allah Sorgawi yang Sempurna “yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” (1Petrus 4:11).

[CATATAN: Tentu saja kita mengerti bahwa Yesus disebut Anak Manusia, dan menjadi Manusia. Namun, tidak seperti manusia lain, Yesus menjalani kehidupan yang sempurna dan tidak pernah berbuat dosa. Artikel singkat ini semata-mata dimaksudkan untuk mendorong kita agar tidak memandang Allah sebagai memiliki kelemahan, kegagalan, dan keterbatasan karakter yang sama seperti manusia dan untuk mengacukan Dia dengan cara yang akurat dan penuh hormat.]


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→