Menu

5 Alasan Rasisme Adalah Konyol

Ateisme tidak memiliki dasar rasional untuk secara objektif menyebut sesuatu adil atau tidak adil, termasuk rasisme. Jika umat manusia hanyalah hasil dari milyaran tahun evolusi tanpa akal dan tidak lebih daripada binatang (seperti yang dinyatakan oleh evolusi ateistik; Marchant, 2008), maka manusia dapat secara logis membuat pernyataan rasis berbasis evolusi yang konsisten dengan Teori Umum Evolusi yang tidak bertuhan. Faktanya, “Anjing Penjaga” Charles Darwin, Thomas Huxley, melakukan hal itu dalam esainya pada tahun 1865, “Emancipation—Black and White.” Ia menyatakan, misalnya, “tidak ada manusia yang rasional, yang sadar akan fakta, percaya bahwa rata-rata orang Negro adalah sama, apalagi lebih unggul, dari orang kulit putih.” Sebenarnya, jika Allah tidak ada, umat manusia dapat dengan mudah memandang rendah dan menganiaya orang lain (yang ia anggap kurang berevolusi), seperti yang ia dapat lakukan terhadap kecoak, tikus, dan orangutan (Lyons, 2011; Lyons and Butt, 2009). Namun begitu, orang-orang beragama Kristen berpendapat bahwa karena (1) Allah ada, dan (2) Alkitab adalah Firman Allah, maka rasisme salah secara moral—dan sepenuhnya konyol karena lima alasan berikut ini.

# 1—SEMUA MANUSIA DIBUAT MENURUT GAMBAR ALLAH

Allah tidak hanya secara khusus menciptakan Adam dan Hawa menurut gambar-Nya dan sangat berbeda dari semua makhluk hidup lainnya di Bumi (Kejadian 1:26-27), namun sejak itu, setiap manusia telah dibuat menurut rupa Allah. Ketika berkhotbah kepada orang-orang bukan Yahudi di Atena ribuan tahun setelah Penciptaan, Paulus, seorang Yahudi, tidak menentang bahwa manusia dulunya adalah keturunan Allah; ia berkata, “Kita adalah” keturunan Allah (Kisah 17:28-29). [Kata Yunani esmen dalam 17:28 adalah bentuk jamak orang pertama eimi (menjadi). Pengakuan sebagai keturunan Allah ini berfungsi sebagai dasar bagi argumennya, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikutnya: “Keturunan Allah.…”]

Yakobus menulis, “Tetapi lidah tidak dapat dijinakkan manusia; lidah merupakan kejahatan yang gelisah, penuh dengan racun mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan dan Bapa; dan dengan lidah kita mengutuk manusia, yang diciptakan menurut 2

rupa Allah: dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk. Saudara-saudaraku hal-hal ini seharusnya tidak boleh demikian” (3 8-9, ASV, huruf tebal ditambahkan). [Kata kerja “diciptakan” (ASV) berasal dari bahasa Yunani gegonotas, yang merupakan perfect parti-ciple dari kata kerja ginomai. Perfect tense dalam bahasa Yunani digunakan untuk meng-gambarkan tindakan yang sudah selesai di masa lalu, tetapi efeknya dirasakan di masa kini (Mounce, 1993, p. 219).] Inti ungkapan, “yang diciptakan menurut rupa Allah” (Yunani kath’ homoisosin theou gegonotas), adalah bahwa manusia di masa lalu telah dibuat sesuai dengan rupa Allah, dan mereka masih memiliki keserupaan itu. Karena alasan ini, memuji Sang Pencipta pada suatu waktu, tetapi juga melontarkan ucapan rasis yang tidak baik di waktu lain, adalah sangat tidak konsisten sebab sangat tidak seperti Kristus. Semua manusia (dari segala warna dan etnis) memiliki gambar ilahi.

#2—ALLAH HANYA MEMBUAT SATU RAS—RAS MANUSIA

Meski manusia berasal dalam warna, bentuk, dan ukuran yang berbeda, dan meski mereka sering bergaul lebih dekat dengan orang-orang yang mereka temukan lebih mirip dalam beberapa hal dengan mereka sendiri, kenyataannya, hanya ada satu ras manusia. Rasisme adalah konyol karena kita semua terkait, bukan melalui evolusi natu-ralistik, tetapi oleh Penciptaan khusus. Tidak ada satu orang pun yang secara inheren bernilai lebih daripada orang lain. Kita semua adalah putra dan putri Adam dan Hawa—pasangan yang diciptakan secara khusus yang Allah buat ribuan tahun yang lalu di Taman Eden (Kejadian 3:20). Terlebih lagi, kita juga adalah putra dan putri Nuh dan istrinya, yang melalui dia Bumi dihuni kembali setelah Banjir di seluruh dunia dalam Kejadian 6—8.

Sebagaimana yang rasul Paulus beritahukan kepada orang-orang Atena penyem-bah berhala 2.000 tahun yang lalu, Allah “dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi” (Kisah 17:26). Adam dan Hawa memiliki anak-anak, yang memiliki anak-anak, yang memiliki anak-anak … yang memiliki Anda dan saya. Kita semua berhubungan secara fisik. Kita semua adalah satu ras—satu ras manusia. Kita semua (sebagaimana ilmu pengetahuan modern mengklasifikasikan kita) dari spesies manusia yang sama—Homo sapiens. Kita semua dapat menelusuri kembali nenek moyang kita hingga ke Nuh, dan kemudian kembali ke Adam. Kita mungkin memiliki warna kulit, fitur wajah, tekstur rambut, dan hal-hal lain yang berbeda, tetapi kita semua adalah saudara dan saudari! Kita adalah keluarga—bagian dari ras manusia yang sama. 3

#3—ALLAH TIDAK PANDANG BULU … DAN KITA JUGA TIDAK

Meski Allah itu mahakuasa, Ia sebenarnya buta warna. Sifat-Nya yang mahakasih, dan adil secara sempurna tidak akan membolehkan Dia mengasihi seseorang lebih daripada yang lain berdasarkan warna kulit seseorang atau kebangsaan tempat seseo-rang dilahirkan. Mirip dengan bagaimana Allah tidak dapat berdusta (Titus 1:2), Allah juga tidak pandang bulu.

Musa menulis: “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap; yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian. Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Ulangan 10:17-19). Petrus berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya” (Kisah 10:34-35, huruf tebal ditambahkan). Menurut Paulus, Allah “tidak meneri-ma wajah” (Galatia 2:6, terjemahan harfiah dalam catatan kaki NASB); yaitu, “Allah tidak menghakimi berdasarkan tampilan lahiriah” (Galata 2:6, NIV).

Singkatnya, tidak mungkin mengamalkan “iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus, (Tuhan) kemuliaan, dengan memandang orang” (Yakobus 2:1, ASV). Kepedulian dan perhatian orang Kristen terhadap sesama saudara seiman oleh Penciptaan dan oleh Kristus harus buta warna.

#4—KASIH TIDAK RASIS

Sementara rasisme didorong oleh kebodohan dan kebencian duniawi, orang Kris-ten dipenuhi dengan buah Roh Sorgawi (Galatia 5:22-23). Anak Allah diarahkan oleh Bapa yang mahatahu dan mahapemurah yang mengharapkan anak-anak-Nya untuk “bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan tentang Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2Petrus 3:18). Kepada gereja Filipi Paulus menulis, “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (1:9-11, huruf tebal ditambahkan).

Dalam dua bagian Kitab Suci yang lebih menantang, Paulus menulis, ”Kasih itu sabar; dan murah hati; kasih tidak cemburu; kasih tidak arogan dan tidak kasar. Kasih 4

tidak memaksakan kehendaknya; kasih tidak cepat jengkel atau sebal; kasih tidak suka berbuat salah, tetapi bersukacita terhadap kebenaran” (1Korintus 13:4-6, ESV). “Hendak-lah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hor-mat.… Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! … Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; … Sedapat-dapatnya, kalau hal itu ber-gantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:9-18).

Tidak ada orang Kristen yang boleh menjadi rasis, dan setiap rasis yang mengaku orang Kristen, sebenarnya, adalah pembohong. Seperti yang rasul Yohanes jelaskan, “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yohanes 4:20-21).

“[Apa pun perintah lain yang diperintahkan, diringkas dalam satu aturan ini: ‘Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.’ Kasih tidak mencelakakan sesamanya [terlepas dari warna dan etnisnya—EL]. Karena itu kasih adalah penggenapan hukum Taurat” (Roma 13:9-10, NIV).

#5—YESUS ADALAH JURUSELAMAT SEMUA ORANG

Dalam salah satu nubuat tentang Mesias yang paling awal, Allah berjanji kepada Abraham bahwa melalui Seorang dari para keturunannya “semua bangsa” dan “semua kaum di bumi akan diberkati” (Kejadian 22:18; 12:3, huruf tebal ditambahkan). Tentu merupakan suatu kehormatan bagi keluarga Abraham untuk dipilih sebagai keluarga yang melalui mereka Juruselamat dunia akan datang, tetapi Yesus tidak datang hanya untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi. Allah tidak menetapkan rencana keselamat-an untuk menyelamatkan satu kaum berwarna tertentu. Ia tidak mengirim Yesus untuk menghapus dosa-dosa dari kelompok etnis atau bangsa tertentu. Yesus adalah jawaban untuk masalah dosa seluruh dunia; Ia adalah “Juruselamat dunia” (1Yohanes 4:14). “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melain-kan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan [dunia] oleh Dia” (Yohanes 3: 6-17, huruf tebal ditambahkan).

“Allah… menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1Timotius 2:3-4, huruf tebal ditambahkan). Karena itu, 5

“dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa” (Lukas 24:47, huruf tebal ditambahkan)—kepada orang-orang dari semua warna, dalam semua budaya, di negara mana pun.

Injil “adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Roma 1:16, huruf tebal ditambahkan). Dan ketika individu-individu di dunia “menaati injil” (2 Tesalonika 1: 8; lihat Lyons and Butt, nd) dan ditambahkan kepada Gereja Tuhan oleh Allah Sendiri (Kisah 2:47), kita semua menjadi satu di dalam Kristus Yesus. “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).

KESIMPULAN

Saya tidak mengklaim sebagai ahli hubungan ras, tetapi saya tahu bahwa beberapa orang benar-benar berjuang melawan dosa rasisme. Beberapa berjuang karena menjadi korban rasisme, yang pada gilirannya dapat menyebabkan mereka tergoda untuk bereaksi secara rasis juga. Yang lain berjuang dalam kebisuan yang pengecut ketika mereka menoleransi dosa rasisme di rumah, gereja, sekolah, bisnis, dan komunitas mereka. Yang lain lagi tampak begitu sibuk dengan memajukan agenda rasial mereka sendiri sehingga mereka tampaknya dengan tergesa-gesa menafsirkan hampir semua hal sebagai masalah rasial, ketika kebanyakan hal adalah tidak demikian.

Yesus pernah mengajar orang-orang munafik pada zaman-Nya, dengan mengata-kan, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil” (Yohanes 7:24). Semoga Allah menolong kita untuk melihat seperti yang Ia lihat: “manu-sia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1Samuel 16: 7). Betapa dunia ini akan menjadi lebih baik jika semua orang menyadari kebodohan menilai sebuah buku melalui sampulnya. Rasisme memang benar-benar konyol.

REFERENSI

Huxley, Thomas (1865), “Emancipation—Black and White,” http://aleph0.clarku.edu/huxley/CE3/B& W.html.

Lyons, Eric (2011), “The Moral Argument for the Existence of God,” Apologetics Press, https://apologeticspress.org/APContent.aspx?category=12&article=4101&topic=95.

Lyons, Eric and Kyle Butt (no date), Receiving the Gift of Salvation (Montgomery, AL: Apologetics Press), https://apologeticspress.org/pdfs/e-books_pdf/Receiving%20the%20Gift%20of%20Salvation.pdf. 6

Lyons, Eric and Kyle Butt (2009), “Darwin, Evolution, and Racism,” Apologetics Press, https://apologeticspress.org/apcontent.aspx?category=9&article=2654.

Marchant, Jo (2008), “We Should Act Like the Animals We Are,” New Scientist, 200[2678]:44-45, October 18-24.

Mounce, William D. (1993), Basics of Biblical Greek (Grand Rapids, MI: Zondervan).

Copyright © 2015 Apologetics Press, Inc. All rights reserved.

Apologetics Press. 230 Landmark Drive Montgomery, Alabama 36117. U.S.A. Phone (334) 272-8558 https://www.apologeticspress.org


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→