Menu

13 Keberatan Terhadap Baptisan

Beberapa gereja secara historis telah mengajarkan bahwa penyelaman dalam air adalah garis pemisah antara yang orang sesat dan orang selamat. Ini berarti orang percaya yang menyesal tetap belum diampuni dosanya sampai ia dikuburkan di dalam air baptisan (Roma 6:4). Banyak dari dunia denominasi tidak setuju dengan analisis ajaran Alkitab ini, sebaliknya mereka berpendapat bahwa orang diselamatkan pada saat “percaya,” sebelum dan tanpa baptisan air. Pertimbangkanlah beberapa poin yang diajukan dalam upaya untuk meminimalkan esensi baptisan untuk keselamatan.

KEBERATAN #1: “YESUS DIBAPTIS TIDAK UNTUK PENGAMPUNAN DOSA KARENA IA TANPA DOSA; OLEH KARENA ITU, ORANG-ORANG SEKARANG INI TIDAK DIBAPTIS AGAR DIAMPUNI. MEREKA SEKADAR MENIRU TELADAN YESUS.”

Baptisan yang terhadapnya Yesus menyerahkan diri-Nya adalah baptisan Yohanes (Matius 3:13; Markus 1:9). Baptisan Yohanes adalah untuk pengampunan dosa (Markus 1:4; Lukas 3:3). Kebenaran ini secara khusus terbukti dari fakta bahwa ketika Yesus menyerahkan diri-Nya kepada Yohanes untuk dibaptis, Yohanes berusaha menghalangi Dia, dengan mengatakan bawah, jika perlu, malah Yesus yang perlu membaptis Yohanes

(Matius 3:14). Yesus tidak mengoreksi Yohanes, sebagaimana banyak orang berusaha untuk lakukan sekarang ini, dengan mendebat secara salah bahwa baptisan bukan untuk pengampunan dosa. Sebaliknya, Yesus, pada dasarnya, setuju dengan Yohanes, tetapi Ia memperjelas bahwa baptisan-Nya adalah pengecualian dari peraturan itu.

 Baptisan Yesus adalah unik dan tidak bisa dibandingkan dengan baptisan orang lain. Baptisan Yesus memiliki tujuan unik untuk “menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Matius 3:15). Dengan kata lain, penting bagi Yesus untuk tunduk kepada baptisan Yohanes (1) untuk menunjukkan kepada orang-orang sezaman-Nya bahwa tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari ketundukan kepada kehendak Allah dan (2) lebih khusus, baptisan Kristus adalah cara yang Allah tetapkan untuk menunjukkan dengan tepat kepada dunia identitas Anak-Nya. Baru setelah Yohanes melihat Roh Allah turun ke atas Yesus dan mendengar suara (“Inilah Anak-Ku…”) ia tahu bahwa “Ia ini adalah Anak Allah” (Yohanes 1:31-34; Matius 3:16-17). 

Tentu saja, baptisan Yohanes tidak lagi berlaku (Kisah 18:24—19:5). Baptisan Yohanes sejajar dengan baptisan Perjanjian Baru dalam arti bahwa keduanya adalah untuk pengampunan dosa. Tetapi baptisan Yohanes bersifat transisi, mempersiapkan orangorang Yahudi bagi Mesias mereka. Baptisan setelah salib adalah untuk semua orang (Matius 28:19), dalam nama Yesus (Lukas 24:47; Kisah 2:38; 19:5), ke dalam kematianNya (Roma 6:3), dengan tujuan untuk mengenakan Dia (Galatia 3:27), dan ditambahkan kepada gereja-Nya (Kisah 2:47; 1Korintus 12:13). Kita tidak boleh menggunakan baptisan Yesus untuk menyarankan bahwa keselamatan diperoleh sebelum baptisan.

KEBERATAN #2: “PENCURI DI KAYU SALIB TIDAK DIBAPTIS,  DAN IA DISELAMATKAN.”

Ketika kita “menangani dengan benar firman kebenaran” (2Timotius 2:15; NASV), kita melihat bahwa pencuri itu tidak tunduk kepada perintah Perjanjian Baru tentang penyelaman dalam air karena perintah itu belum diberikan sampai setelah pencuri itu mati.1 “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Markus 16:16) tidak diperintahkan sampai setelah kebangkitan Kristus. Perjanjian Lama berhenti berfungsi, ditandai dengan terbelahnya tabir Bait Suci (Matius 27:51) setelah Yesus mati. Ketika Yesus mati, Ia meniadakan Perjanjian Lama, “dengan memakukannya pada kayu salib” (Kolose

2:14).

 Kata “perjanjian” berarti “wasiat” atau “kehendak.” Kehendak dan perjanjian terakhir Kristus adalah Perjanjian Baru, yang terdiri dari ajaran-ajaran yang berlaku untuk orang-orang setelah kematian Kristus. Jika kita berharap menerima pelbagai manfaat dari Perjanjian Baru (keselamatan, pengampunan dosa, hidup yang kekal), kita harus tunduk kepada persyaratan kehendak itu yang untuknya Kristus menjadi pengantara (Ibrani 9:15), sebab “di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup“ (Ibrani 9:16-17).

Jadi sebelum Tuhan mati dan Perjanjian Baru dimeteraikan, baptisan untuk pengampunan dosa yang akan berlaku setelah penyaliban bukan persyaratan bagi mereka yang berusaha untuk dapat diterima oleh Allah. Memang, ketika Yesus berada di Bumi secara pribadi, Ia menggunakan otoritas-Nya untuk mengampuni dosa (Matius 9:6). Orang-orang sekarang ini, bagaimanapun, hidup di era Kristen dalam sejarah agama. Sebelum Kristus mati, tidak ada orang Kristen (Kisah 11:26). Orang yang menolak baptisan air sebagai syarat untuk keselamatan atas dasar apa yang pencuri itu lakukan atau tidak lakukan, dapat dibandingkan dengan Abraham yang mencari keselamatan dengan membangun bahtera—karena itu adalah apa yang Nuh lakukan untuk berkenan kepada Allah. Ini akan seperti penguasa muda yang kaya (Matius 19) yang menolak perintah Kristus untuk menjual semua harta miliknya—karena Raja Daud yang kaya tidak harus menjual harta miliknya untuk berkenan kepada Allah.

 Pencuri di kayu salib tidak mungkin dibaptis seperti cara perjanjian baru menetapkan Anda dan saya harus dibaptis. Mengapa? Roma 6:3-4 mengajarkan bahwa jika kita ingin memperoleh “hidup baru,” kita harus dibaptis dalam kematian Kristus, dikuburkan bersama Kristus dalam baptisan, dan kemudian dibangkitkan dari antara orang mati. Tidak ada cara bagi pencuri itu untuk menaati baptisan Perjanjian Baru ini—Kristus belum mati! Kristus belum dikuburkan! Kristus belum dibangkitkan! Faktanya, tidak satu pun ajaran Allah yang ditetapkan yang berkaitan dengan keselamatan di dalam Kristus (2Timotius 2:10), dan di dalam tubuh-Nya Gereja (Kisah 2:47; Efesus 1:22-23), telah diberikan. Gereja, yang dibeli oleh darah Kristus yang ditumpahkan (Kisah 20:28), belum didirikan, dan baru didirikan beberapa minggu kemudian (Kisah 2).2

 Kita harus jangan melihat kepada pencuri itu sebagai contoh keselamatan. Sebaliknya, kita harus menaati “dari hati bentuk doktrin itu” (Roma 6:17; NASV)— bentuk kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus melalui baptisan (Roma 6:34). Hanya dengan demikian kita dapat “dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Roma 6:18).

KEBERATAN #3: “ALKITAB MENGATAKAN, ‘KRISTUS BERDIRI DI PINTU HATIMU,’ DAN YANG HARUS KITA LAKUKAN AGAR DOSA KITA DIAMPUNI DAN MENJADI ORANG KRISTEN ADALAH DENGAN MENGUNDANG DIA MASUK KE DALAM HATI KITA.”

Tidak diragukan lagi memang mengejutkan untuk mengetahui bahwa Alkitab sama sekali tidak mengatakan hal seperti itu. Ungkapan ini mengingatkan kita kepada Wahyu 3: 20—nas yang biasanya digunakan untuk mendukung gagasan itu. Tetapi periksalah apa yang sebenarnya diajarkan oleh Wahyu 3:20. Wahyu pasal 2 dan 3 terdiri dari tujuh pesan khusus yang ditujukan kepada tujuh gereja Kristus di Asia Kecil pada abad pertama. Jadi, dari awalnya, kita harus menyadari bahwa Wahyu 3:20 ditujukan kepada orang Kristen—bukan orang non-Kristen yang mencari perubahan hidup kepada Kristus.

 Kedua, Wahyu 3:20 ditemukan di antara pernyataan Kristus kepada gereja di Laodikia. Yesus menjelaskan bahwa gereja itu telah berubah menjadi sesat. Para anggotanya tidak dapat diterima oleh Allah karena mereka “suam-suam kuku” (3:16). Mereka menjadi tidak selamat karena kondisi rohani mereka “melarat, dan malang, miskin” (3:17). Jadi, dalam arti yang sangat nyata, Yesus telah meninggalkan mereka dengan melenyapkan kehadiran-Nya dari tengah-tengah mereka. Sekarang Ia berada di luar melihat ke dalam. Ia masih ingin berada di tengah-tengah mereka, tetapi keputusan ada di tangan mereka. Mereka harus mengenali ketidakhadiran-Nya, mendengar Dia mengetuk untuk masuk, dan membuka pintu—yang semuanya adalah bahasa kiasan yang menunjukkan perlunya mereka bertobat (3:19). Mereka perlu kembali kepada cara hidup yang taat yang penting untuk mempertahankan anugerah Allah (Yohanes 14:21,23).

 Perhatikanlah bahwa Wahyu 3:20 sama sekali tidak mendukung gagasan bahwa orang non-Kristen hanya harus “membuka pintu hati mereka” dan “mengundang Yesus masuk” dengan jaminan bahwa saat mereka secara mental/verbal melakukannya, Yesus masuk ke dalam hati mereka dan secara bersamaan mereka diselamatkan dari semua dosa masa lalu dan telah menjadi orang Kristen. Konteks Wahyu 3:20 menunjukkan bahwa Yesus sedang berusaha untuk diterima kembali ke dalam gereja yang murtad.

 Apakah Alkitab mengajarkan bahwa Kristus masuk ke dalam hati seseorang? Ya, tapi tidak dengan cara yang disarankan oleh dunia keagamaan. Misalnya, Efesus 3:17 menyatakan bahwa Kristus diam di dalam hati melalui iman. Iman dapat diperoleh hanya dengan mendengarkan kebenaran Alkitab (Roma 10:17). Ketika kebenaran Alkitab dipatuhi, orang itu “diselamatkan oleh iman” (Ibrani 5:9; Yakobus 2:22; 1Petrus 1:22). Demikianlah Kristus memasuki hidup kita ketika kita “mendekat dengan hati yang tulus dengan keyakinan iman yang penuh, setelah hati kita dibersihkan dari hati nurani yang jahat [yaitu, pertobatan—DM] dan tubuh kita dibasuh dengan air yang murni [yaitu, baptisan—DM]” (Ibrani 10:22; NASV).

KEBERATAN #4: “ORANG DISELAMATKAN SAAT IA MENERIMA KRISTUS SEBAGAI JURUSELAMAT PRIBADINYA—YANG MENDAHULUI DAN  KARENA ITU MENGECUALIKAN BAPTISAN AIR.”

Menyarankan bahwa yang harus orang lakukan untuk menerima pengampunan dari Allah dan menjadi orang Kristen adalah dengan menerima Yesus secara mental ke dalam hatinya dan membuat pernyataan verbal mengenai hal itu, adalah sama dengan membantah pernyataan Yesus dalam Matius 7:21—“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.“ Yang pasti, pengakuan lisan tentang Kristus adalah salah satu prasyarat kepada keselamatan (Roma 10:10). Tetapi Yesus berkata bahwa untuk menjadi pengikut-Nya yang dibeli oleh darah ada lebih banyak hal untuk dilakukan daripada secara verbal “menyeru nama-Nya”3 atau “secara batin menerima Dia sebagai Juruselamat.” Ia menyatakan bahwa bahkan sebelum kita dapat menganggap diri kita sebagai anak Allah (orang Kristen), kita harus menunjukkan penerimaan kita terhadap karunia-Nya melalui ketaatan lahiriah—“Yang melakukan kehendak Bapa-Ku.” Perhatikanlah perbedaan signifikan yang Yesus buat: perbedaan antara tekad mental/verbal untuk menerima dan mengikut Tuhan, versus pengakuan lisan ditambah dengan tindakan atau ketaatan (lih. Yakobus 2:14, 17). Inilah sebabnya kita harus melakukan semua yang Tuhan tunjukkan harus dilakukan sebelum keselamatan. Yesus memberitahu kita bahwa adalah mungkin untuk membuat kesalahan dengan mengklaim bahwa kita telah menemukan Tuhan, ketika nyatanya kita belum melakukan apa yang Ia katakan dengan jelas untuk kita lakukan.

 Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5). Yesus juga menyatakan, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Markus 16:16). Jujur saja, sudahkah Anda menerima Kristus sebagai juruselamat pribadi Anda—dengan cara yang Ia katakan itu harus dilakukan? Ia bertanya, “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46, huruf tebal ditambahkan).

KEBERATAN #5: “KITA MENGENAKAN KRISTUS DAN MENJADI ANAKANAK-NYA KETIKA KITA BERIMAN KEPADA DIA.”

Baca Galatia 3:26-27: “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.” Kata “mengenakan” (NKJV) adalah terjemahan dari kata kerja bahasa Yunani enduo yang berarti “masuk ke dalam, ke dalam, seperti ke dalam pakaian, mengenakan.” Bisakah kita diselamatkan sebelum “mengenakan Kristus” atau “bersalut” dengan Kristus? Tentu saja tidak. Tetapi kapan dan bagaimanakah orang mengenakan Kristus—menurut Paulus? Ketika orang dibaptis dalam air. Mereka yang mengajarkan kita dapat diselamatkan sebelum baptisan, pada kenyataannya, mengajarkan bahwa kita dapat diselamatkan ketika secara rohani kita telanjang dan tanpa Kristus! Paulus menegaskan bahwa kita “mengenakan” Kristus pada saat baptisan kita—bukan sebelumnya.

 Paulus menuliskan kata-kata ini kepada orang-orang yang sudah diselamatkan. Mereka telah dijadikan “anak-anak Allah oleh iman.” Tetapi bagaimana? Pada saat apakah mereka telah “bersalut dengan Kristus”? Kapan mereka dijadikan “anak-anak Allah oleh iman”? Kapankah mereka diselamatkan? Paulus membuat sangat jelas jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini: mereka dipersatukan dengan Kristus, telah mengenakan Kristus, dan bersalut dengan Kristus—ketika mereka dibaptiskan. Tanyakanlah diri Anda sendiri apakah Anda telah bersalut dengan Kristus.

KEBERATAN #6: “BAPTISAN ADALAH SEPERTI LENCANA PADA SERAGAM YANG SEMATA MEMBERI BUKTI BUKTI BAHWA ORANG ITU  SUDAH DISELAMATKAN.”

Perjanjian Baru tidak di mana pun menguraikan gagasan bahwa baptisan sekadar sebuah “lencana” atau “tanda lahiriah dari anugerah batiniah.” Ya, baptisan secara Alkitabiah memang dapat diacukan sebagai tindakan simbolis; tetapi apakah yang disimbolkan? Pengampunan sebelumnya? Tidak! Roma 6 menunjukkan bahwa baptisan melambangkan kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus sebelumnya. Dengan demikian manfaat kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus (ingat, darah Yesus, yang menghapus dosa, ditumpahkan dalam konteks kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya) direalisasikan dan diterima oleh manusia ketika ia dengan taat (dalam iman yang penuh penyesalan) berserah kepada kesengsaraan yang sama, yaitu, kematian “manusia lama” atau “tubuh dosa” nya sendiri (Roma 6: 6), penguburan (penyelaman ke dalam kubur berair), dan kebangkitan (bangkit dari kubur berair). 

Doktrin denominasi menyatakan bahwa pengampunan dosa diterima sebelum baptisan. Jika demikian, “hidup baru” orang yang diselamatkan juga akan dimulai sebelum baptisan. Namun Paulus mengatakan “hidup baru” terjadi setelah baptisan. Ia menegaskan hal ini kepada gereja di Kolose. “Sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa” (Kolose 2:11) diperoleh dalam konteks penyelaman dalam air dan “dibangkitkan bersama Dia” (Kolose 2:12). Pasal 3:1 lalu menarik ulasan penting ini: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus [acuan yang tidak dapat disangkal tentang baptisan—DM], carilah perkara yang di atas [acuan yang tidak dapat disangkal tentang hidup baru yang mengikuti—bukan mendahului—baptisan].

KEBERATAN #7: “BAPTISAN ADALAH PERBUATAN AMALIAH,  TETAPI KITA DISELAMATKAN OLEH KASIH KARUNIA,  BUKAN OLEH PERBUATAN.”

“Perbuatan-perbuatan” atau “langkah-langkah” keselamatan tidak menyiratkan manusia “patut mendapatkan” keselamatannya atas kepatuhannya yang sesuai dengan perbuatannya. Sebaliknya, “langkah-langkah” atau “suatu proses” menandakan konsep Alkitab tentang prasyarat, ketetapan iman, atau tindakan kepatuhan—apa yang Yakobus sebut “perbuatan” (Yakobus 2:17). Yakobus tidak sedang mengatakan bahwa manusia dapat mengupayakan sendiri pembenarannya (Yakobus 2:24). Sebaliknya, ia sedang menggambarkan sifat aktif iman, menunjukkan bahwa iman yang menyelamatkan, iman yang hidup—yang berbeda dengan iman yang mati dan karena itu sama sekali tidak berguna (2:20)—adalah satu-satunya jenis iman yang dapat diterima oleh Allah, iman yang mematuhi tindakan apa pun yang Allah telah tunjukkan harus dilakukan. Ketaatan Abraham dan Rahab ditampilkan sebagai ilustrasi dari jenis iman yang Yakobus katakan dapat diterima. Mereka memanifestasikan kepercayaan mereka dengan secara aktif melakukan apa yang Allah ingin mereka lakukan. Ketaatan atau kepercayaan aktif seperti itu adalah satu-satunya jenis iman yang bermanfaat. Karena itu, respons yang taat sangat penting.

Pelbagai perbuatan itu sendiri merupakan manifestasi kepercayaan ini yang membenarkan, bukannya kepercayaan itu sendiri. Tetapi perhatikanlah bahwa menurut Yakobus, Anda tidak dapat memiliki yang satu tanpa yang lainnya. Kepercayaan, atau iman, adalah mati, sampai iman itu menuntun orang itu untuk mematuhi spesifikasi yang diberikan Allah. Inilah esensi keselamatan yang memisahkan mereka yang menganut ajaran Alkitab dari mereka yang sayangnya telah dipengaruhi oleh para reformator

Protestan. Para reformis bereaksi terhadap konsep non-Alkitabiah tentang menumpuk perbuatan baik versus perbuatan buruk dalam upaya untuk mengimbangi yang buruk dengan yang baik (bdk. Islam). Sayangnya, reaksi para reformator melangkah ke sisi ekstrem yang sama yang tidak dapat diterima, sikap ekstrem yang berlawanan dengan menyatakan bahwa manusia butuh “percaya saja” (Luther) atau manusia tidak dapat berbuat apa-apa (Calvin). Kebenarannya adalah di antara kedua ekstrem yang tidak Alkitabiah ini.

 Dari Kejadian hingga Wahyu, iman adalah reaksi penuh percaya dan ketaatan yang manusia perlihatkan sebagai respons terhadap apa yang Allah tawarkan. Ini adalah jenis “pembenaran oleh iman” yang Paulus jelaskan dalam kitab Roma. Seperti bendera merah di titik awal (1:5) dan di titik akhir (16:26) risalahnya yang diilhami secara ilahi, ia mendefinisikan apa yang ia maksudkan dengan perkataan “iman” dengan kata-kata “ketaatan iman” (hupakoeinpisteos), yaitu iman yang taat, kepatuhan yang muncul dari iman.4 Fakta ini secara tepat menunjukkan mengapa Allah menyatakan kesediaan-Nya untuk memenuhi janji-janji yang Ia buat kepada Abraham: “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku” (Kejadian 26:5). Karena itu, dalam kitab Roma, Paulus dapat bicara tentang perlunya hidup “mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita” (Roma 4:12). Sampai iman itu taat, iman itu tidak berguna dan tidak bisa membenarkan. 

Penulis kitab Ibrani membuat poin yang sama dalam Ibrani 11. Iman yang kita lihat dalam “orang-orang beriman” Perjanjian Lama hanya bermanfat setelah mereka mematuhi ketentuan yang diberikan Allah. Allah mengupahi mereka yang “dengan sungguhsungguh mencari Dia” dalam iman (ayat 6). Nuh “menerima kebenaran, sesuai dengan imannya” ketika ia “mempersiapkan bahtera.” Jika ia tidak mematuhi instruksi ilahi, ia akan dicap sebagai “tidak setia.” Hal yang membuat perbedaan, yang membentuk garis pemisah antara iman dan kurangnya iman, adalah tindakan yang taat—apa yang Yakobus sebut “perbuatan,” dan Paulus menyebutnya “iman yang bekerja oleh kasih”

(Galatia 5:6). Dalam pengertian ini, bahkan iman adalah “perbuatan” (Yohanes 6:29). Ibrani 11 berulang kali memperkuat prinsip kekal ini: (1) Allah menawarkan kasih karunia (yang mungkin pada titik mana pun dalam sejarah terdiri dari berkat fisik, mis. penyembuhan, keselamatan dari musuh, tanah atau harta benda, dll., atau berkat rohani, mis., pembenaran, pengampunan, keselamatan dari dosa, dijadikan orang benar, dll.); (2) manusia merespons dalam kepercayaan yang taat (yaitu, “iman”) dengan mematuhi syarat-syarat yang ditetapkan; dan (3) Tuhan melimpahkan berkat. 

Adalah keliru jika menganggap respons taat manusia menghasilkan atau kepantasan untuk mendapat berkat berikutnya. Yang seperti itu secara logis tidak terjadi. Semua berkat yang Allah berikan kepada manusia tidak patut manusia terima (Lukas 17:10). Rahmat-Nya yang melimpah dan kasih karunia-Nya yang pengasih ditawarkan dan disediakan secara cuma-cuma—meski manusia tidak pernah pantas menerima kebaikan seperti itu (Titus 2:11). Namun, perbuatan non-amaliah secara mutlak penting dilakukan jika manusia yang tidak layak harus menerima berkat-berkat tertentu.

KEBERATAN #8: “BAPTISAN BUKAN HANYA TIDAK PENTING BAGI KESELAMATAN, BAHKAN IMAN ADALAH KARUNIA DARI ALLAH  KEPADA SESEORANG. MANUSIA SANGAT BEJAT SEHINGGA  IA TIDAK DAPAT PERCAYA.“

Tentunya, keadilan Allah yang tak terbatas tidak akan mengizinkan Dia memaksa manusia untuk menginginkan berkat Allah. Campur tangan Allah ke dalam kondisi menyedihkan manusia adalah bukan dengan menyebabkan manusia menginginkan bantuan atau secara mujizatiah menghasilkan iman di dalam dirinya. Allah campur tangan dengan memberikan Firman-Nya yang terilham, yang memberitahukan bagaimana Ia memberikan Anak-Nya untuk membuka jalan bagi manusia untuk lolos dari malapetaka kekal. Iman kemudian tumbuh dalam diri manusia melalui perkataan Allah yang harus dibaca dan dipahami oleh orang itu (Roma 10:17; Kisah 8:30). Orang itu kemudian menunjukkan imannya dalam kepatuhan. 

Apakah tembok Yerikho runtuh “karena iman” (Ibrani 11:30)? Tentu saja. Tetapi pertanyaan utamanya adalah: “Kapan?” Apakah tembok itu runtuh pada saat bangsa Israel hanya “percaya” bahwa tembok itu akan runtuh? Tidak! Sebaliknya, ketika umat itu mematuhi arahan ilahi. Tembok itu runtuh “oleh iman” setelah orang-orang itu memenuhi persyaratan Allah. Jika persyaratannya tidak terpenuhi, tembok itu tidak akan runtuh “dengan iman.” Bangsa Israel tidak dapat mengklaim bahwa tembok itu runtuh karena usaha mereka sendiri, atau bahwa mereka menghasilkan keruntuhan tembok itu. Kota itu diberikan kepada mereka oleh Allah sebagai tindakan kasih karunia-Nya yang tidak patut mereka terima (Yosua 6:2). Untuk menerima karunia kota itu dengan cuma-cuma, umat itu harus mematuhi prasyarat yang ditentukan oleh Allah. 

Perhatikanlah sifat dasar Ibrani 11:6. Iman atau kepercayaan tidak diberikan oleh Allah. Itu adalah sesuatu yang manusia lakukan untuk menyukakan Allah. Seluruh pasal itu didasarkan pada gagasan mendasar bahwa manusia secara pribadi bertanggung jawab untuk menghayati kepercayaan yang taat. Allah tidak “memperbaharui manusia oleh panggilan-Nya, sehingga memampukan manusia untuk merespons.” Allah “memanggil” manusia melalui, oleh, Firman-Nya yang tertulis (2Tesalonika

2:14). Pada gilirannya, Firman tertulis itu dapat menumbuhkan iman dalam diri orang itu (Roma 10:17). Betapa tidak Alkitabiah untuk menyatakan bahwa manusia sangat “bejat sepenuhnya” sehingga ia bahkan tidak bisa percaya, dengan demikian menempatkan Allah pada posisi menuntut sesuatu dari manusia (Yohanes 8:24) yang mana manusia itu secara inheren tidak mampu. Tetapi Allah Alkitab tidak akan bersalah atas ketidakadilan seperti itu. 

Beberapa orang mendekati ayat-ayat seperti Roma 10:17 dengan cara ini: (1) Allah memilih untuk menyelamatkan seseorang; (2) Allah memberi dia karunia iman cumacuma; dan (3) Allah menggunakan Injil untuk membangkitkan iman yang telah Ia berikan kepada orang itu. Namun, baik Roma 10:17, maupun nas lainnya, bahkan tidak mengisyaratkan gagasan seperti itu. Teks itu menyatakan secara eksplisit bahwa iman berasal dari mendengar Firman Kristus. Perhatikan ayat 14, di mana urutan yang benar diberikan: (1) pengkhotbah berkhotbah; (2) manusia mendengar firman yang dikhotbahkan; dan (3) ia percaya. Urutan ini jauh dari menyarankan bahwa Allah secara ajaib memberikan iman kepada seseorang, dan kemudian Roh Kudus “membangkitkan” iman itu. Gagasan seperti itu membuat Allah memberi manusia iman yang cacat yang kemudian perlu dibangkitkan. Teks itu membuat jelas bahwa Allah telah menyediakan bagi iman untuk dihasilkan (yaitu, berasal) oleh Firman yang diberitakan. Allah tidak secara sewenang-wenang mengintervensi dan memaksakan iman kepada hati sekelompok individu tertentu. 

Menurut 1 Korintus 1:21, umat manusia tidak mengenal Allah, jadi Allah mengirimkan pesan-Nya melalui para pengkhotbah yang diilhami sehingga mereka yang merespons dengan iman akan diselamatkan. Paulus menulis dalam Roma 1:16 bahwa pesan injil ini adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Perhatikan bahwa Injil itu adalah apa yang Paulus beritakan (ay. 15). Dengan demikian pesan yang diberitakan dari Allah membangkitkan iman dan memampukan manusia untuk diselamatkan. 

Kita melihat hal yang sama dalam Kisah Para Rasul 2:37. Hal apakah yang menusuk hati para pendengar? Jelas sekali, khotbah itu. Kisah Para Rasul 2:37 adalah demonstrasi dari Roma 10:17—“iman timbul dari pendengaran… firman Allah.” Allah tidak mengubah hati manusia secara mujizatiah; kata-kata Petrus yang mengubah mereka. Jika doktrin denominasi itu benar, ketika orang-orang Yahudi menanya para rasul apa yang harus mereka lakukan, Petrus seharusnya mengatakan: “Tidak ada yang dapat kalian lakukan. Kalian benar-benar bejat, kalian tidak bisa berbuat apa-apa. Allah akan memperbaharui kalian; Ia akan membuat kalian percaya (karena iman adalah ‘hadiah gratis’Nya).“ Namun, malah sebaliknya, Petrus memberitahu mereka bahwa mereka perlu melakukan beberapa hal. Dan itu adalah hal-hal yang Allah tidak bisa lakukan untuk mereka.

Pertama, mereka diminta “bertobat.” Pertobatan Alkitabiah adalah perubahan pikiran (Matius 21:29). Sikap “berbalik” yang mengikuti pertobatan (Kisah 3:19) dan terdiri dari beberapa tindakan tertentu setelah perubahan pikiran. Yohanes Pembaptis menyebut aktivitas berbalik ini, yang mengikuti pertobatan dan berfungsi sebagai bukti bahwa pertobatan telah terjadi, “buah-buah” pertobatan (Matius 3:8). Setelah dinyatakan bersalah (Kisah 2:37—yaitu, memercayai kebenaran pandangan Petrus), mereka diminta “bertobat,” untuk mengubah pikiran mereka tentang jalan hidup mereka sebelumnya. Apa lagikah yang harus mereka lakukan? 

Petrus tidak memberitahu mereka untuk “bertobat dan percaya.” Kepercayaan mereka sudah sangat jelas dalam hati mereka yang tertusuk dan permohonan keras mereka yang minta instruksi. Apakah yang kurang? Petrus berkata (yaitu, Tuhan berfirman) mereka masih kurang baptisan. Ingat, satu-satunya perbedaan antara iman yang mati dan iman yang menyelamatkan adalah tindakan lahiriah—kepatuhan terhadap semua tindakan yang Allah tetapkan sebagai penting sebelum Ia akan dengan cumacuma memberikan bantuan yang tidak berbentuk upah dalam bentuk pengampunan. 

Dengan demikian baptisan menandai titik di mana Allah akan menganggap mereka benar jika mereka pertama kali percaya dan bertobat. Baptisan menjadi garis batas antara yang diselamatkan dan yang sesat. Darah Yesus hanya bisa membasuh dosa-dosa mereka pada saat dibaptis.

KEBERATAN #9: “KATA DEPAN ‘UNTUK’ DALAM KALIMAT ‘UNTUK PENGAMPUNAN DOSA’ DALAM KISAH 2:38 BERARTI ‘OLEH KARENA.’ KARENA ITU, MEREKA DIBAPTIS OLEH KARENA  DOSA-DOSA MEREKA TELAH DIAMPUNI KETIKA MEREKA PERCAYA.“

Kata bahasa Inggris “untuk” berarti, sebagai salah satu artinya, “oleh karena.” Namun begitu, preposisi bahasa Yunani eis yang mendasari kata Inggris “untuk” tidak pernah memiliki fungsi sebab akibat. Kata itu selalu memiliki dorongan utama, dasar, akusatifnya: untuk, ke dalam, kepada, ke arah. Kita harus jangan mengotak-atik teks itu, memutuskan apa yang kita anggap sebagai artinya, dan menetapkan arti gramatikal yang berbetulan dengan pemahaman kita sebelumnya. Kita harus mulai dengan tata bahasa yang diilhami dan berusaha memahami setiap teks dengan mengingat artinya yang normal, alami, umum dari konstruksi gramatikal dan leksikal. Konstruksi gramatikal yang sama dari Kisah Para Rasul 2:38 ditemukan dalam Matius 26:28—“untuk pengampunan dosa” (eisaphesin hamartion). Darah Yesus, darah perjanjian, tidak dapat disangkal lagi telah ditumpahkan bagi banyak orang “untuk memperoleh pengampunan dosa.” Ini adalah makna alami dan normal dari preposisi Yunani itu—menuju, ke arah. Seandainya Roh Kudus bermaksud mengatakan bahwa baptisan adalah “oleh karena” atau “sebagai akibat” pengampunan yang telah terjadi, Ia akan sudah menggunakan preposisi Yunani yang menyampaikan gagasan itu: dia dengan akusatif. 

Demikian pula, dalam Kisah Para Rasul 2:38, jika pertobatan bukan “oleh karena” pengampunan dosa, demikian pula baptisan. Terlepas dari pertimbangan orang dan jumlah, Petrus mengatakan kepada para pendengarnya untuk melakukan kedua hal tersebut. Tindakan baptisan (yang dikaitkan dengan tindakan pertobatan oleh kata hubung) tidak dapat dilepaskan dari konteks pengampunan dosa dengan cara apa pun.

KEBERATAN #10: “KETIKA KEPALA PENJARA FILIPI BERTANYA APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DISELAMATKAN, IA HANYA DIBERITAHU UNTUK PERCAYA KEPADA TUHAN YESUS KRISTUS.”

Sebagai bukti lebih lanjut bahwa Allah tidak secara mujizatiah memberikan iman kepada seseorang melalui Roh Kudus, amatilah bahwa Paulus memberitahu kepala penjara itu bahwa ia (kepala penjara) harus percaya; Paulus tidak menjawab pertanyaan kepala penjara itu dengan: “Engkau tidak perlu melakukan apa-apa. Allah akan memberi engkau iman.“ Sebaliknya, Paulus dan Silas memberitahu dia bahwa ia harus memperlihatkan iman kepada Yesus. Tetapi apakah pada saat itu kepala penjara yang pagan ini dalam posisi untuk melakukan itu? Tidak, ia harus diajar tentang Siapa, bagaimana, dan apa yang harus ia percaya. Tidak heran, jika begitu, Lukas segera mencatat: “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya” (Kisah 16:32). Jika Roma 10:17 dapat dipercaya, firman yang diberitakan oleh Paulus dan Silas menghasilkan iman dalam diri kepala penjara itu. Dan firman yang sama itu pasti mencakup perlunya pertobatan dan baptisan, karena kepala penjara itu segera memperlihatkan buah pertobatan (dengan membasuh bilur-bilur mereka), dan juga segera minta dibaptiskan (tidak menunggu sampai pagi atau akhir pekan). Perhatikan dengan cermat dokumentasi Lukas yang cermat, bahwa hanya setelah kepala penjara itu percaya, bertobat, dan dibaptiskan, kepala penjara itu bisa bersukacita. Hanya setelah itu Lukas menggambarkan kepala penjara itu sebagai “telah menjadi percaya kepada Allah” (ay. 34), yaitu, sekarang berdiri dalam keadaan percaya yang sempurna.5

KEBERATAN #11: “SAULUS DISELAMATKAN SEBELUM DAN TANPA BAPTISAN SEWAKTU DI JALAN MENUJU DAMSYIK KETIKA YESUS MENAMPAKKAN DIRI KEPADA DIA.”

Urutan peristiwa aktual yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa Saulus tidak diselamatkan saat berada di jalan menuju Damsyik. Yesus mengidentifikasi diri-Nya dan kemudian menuduh Saulus sebagai seorang penganiaya (Kisah 9:5). Saulus “gemetar” dan “terkejut” (bukan gambaran tentang orang yang diselamatkan), dan dengan memelas bertanya apa yang harus ia lakukan—indikasi yang jelas bahwa ia baru saja dihajar dengan kondisinya yang kalah dan hancur.

 Pertanyaan ini memiliki kekuatan yang sama persis dengan pertanyaan pada hari Pentakosta (Kisah 2:37) dan pertanyaan kepala penjara (Kisah 16:30). Ketiga nas ini mirip dalam menyifatkan orang-orang yang telah berbuat salah (yaitu, peserta Pentakosta telah menyalibkan Yesus, Saulus menganiaya umat Kristen, dan kepala penjara memenjarakan orang-orang Kristen yang tidak bersalah). Demikian pula, dalam setiap contoh, para calon perubahan hidup digambarkan sebagai orang yang tidak bahagia (yaitu, peserta Pentakosta “tertusuk hatinya,” Saulus “gemetar” dan “terkejut”, dan kepala penjara itu “datang dengan gemetar”—yaitu, ia ketakutan). Mereka adalah orang-orang yang ketakutan dan menderita, tiba-tiba berhadapan muka dengan status mengerikan mereka yang tidak dapat diterima di hadapan Allah. Yang demikian itu bukan gambaran yang tepat untuk orang yang diselamatkan. Di manakah muncul sukacita, kedamaian, dan kegembiraan ketika dosa-dosa seseorang telah dihapuskan? 

Saulus tidak diampuni di jalan menuju Damsyik—ia masih perlu diberitahu apa yang “harus ia perbuat” (Kisah 9:6). Ia masih kurang “mendengarkan firman Tuhan.” Satu-satunya cara bagi Saulus untuk mendengar Injil adalah melalui perantaraan seorang pengkhotbah (Roma 10:14; 1Korintus 1:21). Demikian pula, seorang malaikat memberitahu Kornelius (Kisah 10:4) bahwa doa dan amalnya telah naik ke hadirat Allah—namun ia belum diselamatkan. Ia perlu menghubungi seorang pengkhotbah terilham, Petrus, “yang akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu” (Kisah 11:14). Demikian juga, sebelum Saulus dapat mengetahui tentang rencana Allah bahwa ia menjadi “rasul orang-orang bukan Yahudi” yang agung ia pertama-tama perlu mendengar Injil yang diuraikan dan diberitahu bagaimana merespons apa yang Allah tawarkan dalam Kristus. 

Alih-alih memberitahu dia apa yang perlu ia lakukan untuk diselamatkan, Yesus memberitahu dia untuk pergi ke dalam kota itu, di mana seorang pengkhotbah (Ananias) akan menjelaskan kepada dia perlunya keselamatan. Perhatikan: Saulus menunggu di Damsyik selama tiga hari tanpa makan dan minum, dan masih buta. Inilah individu yang masih sengsara, tidak bahagia, dan belum diselamatkan, menunggu instruksi tentang bagaimana mengubah statusnya yang malang itu. Kisah Para Rasul 9:18 mempersingkat respons Saulus terhadap Firman yang diberitakan, sementara Kisah Para Rasul 22 menguraikan lebih jauh tentang pentingnya respons Saulus. Ananias berkata, “Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!” (Kisah 22:16). 

Perhatikanlah hubungan terilham dari Ananias antara baptisan dan dosa-dosa yang disucikan. Jika Saulus diselamatkan sebelum dibaptiskan, maka Ananias salah dalam mengatakan bahwa Saulus masih memiliki dosa yang perlu disucikan. Ananias tidak memberi selamat kepada Saulus karena dosa-dosanya sudah dibasuh, dan memberitahu dia bahwa ia perlu dibaptis hanya sebagai “lencana” atau “simbol lahiriah” atau “gambaran” dari apa yang sudah terjadi. Ananias dengan jelas mengatakan dosa-dosa Saulus masih perlu disucikan. Itu dapat dicapai hanya dengan darah Yesus dalam tindakan baptisan. Air tidak membersihkan jiwa yang ternoda dosa—Yesus yang membersihkannya. Dan Ananias dengan jelas menyatakan kapan (bukan bagaimana atau oleh siapa) itu terjadi. Jika iman Saulus yang menyesal tidak menuntun dia kepada penyelaman dalam air, dosa-dosanya tidak bisa disucikan oleh Yesus. Sebaliknya, ia akan tetap menentang Yesus. Ingat, Alkitab tidak pernah menggambarkan baptisan sebagai simbol penghapusan dosa sebelumnya. Satu-satunya simbolisme yang pernah dilekatkan pada tindakan baptisan adalah (1) kemiripannya dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus (Roma 6:3-5); (2) perbandingannya dengan penghapusan dosa seperti sunat menanggalkan kulit (Kolose 2:12); dan (3) kemiripannya dengan kemunculan Nuh dari dunia yang penuh dosa (1Petrus 3:20-21). Allah secara literal (tidak secara simbolis) menghapus dosa dan membenarkan orang itu dengan kasih karunia, melalui iman, pada titik baptisan.

KEBERATAN #12: “JIKA BAPTISAN PENTING BAGI KESELAMATAN, YESUS AKAN SUDAH BERKATA, ‘TETAPI YANG TIDAK PERCAYA DAN TIDAK DIBAPTIS AKAN DIHUKUM’ DALAM MARKUS 16:16. SELAIN ITU, DUA BELAS AYAT TERAKHIR DALAM MARKUS 16 TIDAK TERDAPAT DI DALAM NASKAH YUNANI YANG TERTUA DAN TERBAIK.“

Tidak adanya kalimat “dan tidak dibaptis” dalam Markus 16:16 sepenuhnya logis dan perlu. Ungkapan pertama (“siapa yang percaya dan dibaptis”) menggambarkan respons lengkap manusia yang diharuskan oleh pemberitaan Injil: Iman harus mendahului baptisan, karena jelas orang tidak akan tunduk kepada baptisan jika ia tidak percaya lebih dahulu. Tidak penting untuk memasukkan penghukuman dalam klausa kedua kepada orang yang tidak dibaptis, karena orang yang dihukum adalah orang yang pada awalnya tidak percaya. Orang yang menolak untuk percaya “sudah dihukum” (Yohanes 3:18) dan tentu saja tidak akan tertarik pada hal berikutnya untuk dipatuhi—baptisan. Siapa yang tidak percaya jelas tidak akan dibaptis—dan bahkan jika ia mau, ketidakmauannya untuk lebih dulu percaya mendiskualifikasi dia untuk diselamkan dalam air. Hanya orang percaya yang menyesal yang menjadi calon untuk dibaptis. Kesamaan gramatikal yang tepat adalah: “Siapa yang pergi ke toko dan membeli kopi untuk ayahnya akan menerima $ 5,00. Siapa yang tidak pergi ke toko akan dipukul.“ Jelas, jika anak itu menolak pergi ke toko, ia tidak akan dapat membeli kopi, dan itu akan berlebihan—bahkan tidak tepat secara tata bahasa dan linguistik—memasukkan kegagalan membeli kopi dalam pemberitahuan tentang pukulan yang menanti. 

Apakah 12 ayat terakhir dalam Markus 16 tidak terilham? Bukti tekstual yang mendukung keaslian Markus 16:9-20 adalah luar biasa mengingat sangat banyaknya sumber yang tersedia untuk membangun teks asli. Meski benar bahwa naskah Vaticanus dan naskah Sinaiticus tidak memuat 12 ayat terakhir, tapi sangat menyesatkan untuk mengasumsikan bahwa “ keabsahan ayat-ayat ini lemah.” Faktanya, sejumlah besar saksi mendukung keaslian ayat 9-20. Penolakan Vaticanus kurang berbobot dengan mengingat bahwa naskah itu juga tidak memuat Epistel Pastoral, bagian terakhir kitab Ibrani, dan Wahyu. Penolakan Sinaiticus juga sama tidak meyakinkannya, karena naskah itu memasukkan beberapa kitab Apokrifa.6

KEBERATAN #13: “ROMA 10:9-10 MENUNJUKKAN BAHWA YANG SEMUA ORANG PERLU LAKUKAN ADALAH PERCAYA DAN MENGAKUI YESUS.”

Penggunaan eis dalam Roma 10:10 tidak dapat berarti “oleh karena.” Ayat sembilan secara eksplisit mengatakan manusia akan diselamatkan “jika” ia mengaku dan percaya dalam hatinya. Karena itu pengakuan dan iman adalah prasyarat bagi pengampunan. Keduanya adalah “respons” yang ditetapkan oleh Allah terhadap Firman yang diberitakan (ay. 8) dan harus terjadi sebelum keselamatan diberikan oleh Allah. Dengan kata lain, jiwa seseorang dimurnikan ketika ia menaati kebenaran (1Petrus 1:22). Yesus menyediakan keselamatan kekal kepada mereka yang menaati Dia (Ibrani 5:9).

 Tetapi apakah baptisan dikecualikan dari keselamatan karena hanya iman dan pengakuan yang disebutkan dalam Roma 10:9-10? Perhatikanlah, empat pasal sebelumnya, susunan Roma 6:17-18: (1) hamba dosa; (2) orang patuh; (3) dibebaskan dari dosa (hamba kebenaran). Poin (3) tidak dapat terjadi kecuali poin (2) terjadi terlebih dahulu.

”Segenap” manusia harus menghormati Allah dan menaati perintah-perintah-Nya (Pengkhotbah 12:13). Kepada siapakah Allah memberikan Roh Kudus? Kepada orangorang yang Ia pilih sesukanya, tanpa mempertimbangkan respons yang diharuskan dari orang-orang tersebut? Tidak. Kisah 5:32 mengatakan bahwa Allah memberikan Roh Kudus kepada mereka yang menaati Dia. Allah selalu mensyaratkan pemberian berkat rohani di atas respons taat lebih dulu (Yeremia 7:23; Kejadian 26:4-5). Ulangan 5:10 mengatakan Allah menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang mengasihi Dia dan menaati segala perintah-Nya. 

Dalam Roma 10, Paulus tidak sedang menekankan aspek-aspek khusus dari proses perubahan hidup. Itu bukan konteksnya. Sebaliknya, konteksnya membahas apakah orang berkenan kepada Allah dalam dispensasi Kristen oleh karena warisan fisik (yaitu ras/etnis), versus apakah orang diselamatkan ketika ia mematuhi instruksi Allah. Paulus sedang menekankan bahwa kewarganegaraan mereka tidak dapat membawa orang Yahudi ke dalam kebaikan Allah. Sebaliknya, orang-orang diselamatkan ketika mereka memberikan ketaatan Injil. Ia mengutip Yoel 2:32, di mana penekanannya adalah pada kata “barangsiapa” berbeda dengan “orang Yahudi saja.” Ayat 12 berpendapat bahwa Allah tidak membuat perbedaan berdasarkan ras. Respons individu terhadap Firman yang diberitakan adalah faktor penentu. Namun begitu, Roma 10 tidak mengungkapkan semua perincian tentang respons yang taat itu. Orang harus rela mencari seluruh kebenaran tentang hal semacam itu. 

Jika pertobatan penting bagi keselamatan, orang harus mengakui bahwa pengajaran seperti itu harus berasal dari beberapa nas selain dari Roma 10. Apakah Roma 10:10 berarti pertobatan tidak perlu, hanya karena hal itu tidak disebutkan dalam teks itu? Tidak, karena pertobatan diperlukan dalam pasal 2:4. Jika tidak, lalu mengapa menganggap baptisan tidak penting hanya karena tidak disebutkan dalam teks khusus ini? Itu diperintahkan dalam pasal 6:3-4. Untuk memastikan pentingnya baptisan di hadapan Allah, orang harus pergi ke nas-nas lain yang membahas masalah itu, daripada mengabaikan nas-nas itu untuk mengutamakan ayat-ayat tentang iman. Jika Allah berkata, “iman menyelamatkan” (Roma 5:1), mari kita menerima kebenaran itu. Jika Allah berkata, “baptisan menyelamatkan” (1Petrus 3:21), marilah kita menerima kebenaran itu juga! Yesus sendiri berkata: percaya + baptisan = keselamatan (Markus 16:16), tidak percaya = keselamatan + baptisan.

Perhatikan juga, Roma 10:10, 13 tidak mengatakan bahwa keselamatan dapat diperoleh hanya dengan pengakuan verbal (misalnya, “Saya menerima Yesus ke dalam hati saya sebagai Juruselamat pribadi saya”). Mengapa?

  • Tidak ada pernyataan, “Terimalah Yesus sebagai Juru Selamat pribadi Anda,” ditemukan dalam Alkitab. 
  • Yesus selamanya menghancurkan gagasan keselamatan dengan penerimaan mental/pengakuan lisan saja dalam Matius 7:21 dan Lukas 6:46, di mana Ia menunjukkan bahwa pengakuan lisan saja tidak dapat diterima. Di setiap zaman, telah ada tindakan ketaatan yang ditentukan oleh Allah sebelum Ia akan memperhitungkan orang-orang itu menyukakan atau dapat diterima. Bahkan, jika iman tidak disertai dengan tindakan ketaatan yang tepat (seperti baptisan), maka iman seperti itu tidak dapat dibenarkan. Iman seperti itu tidak sempurna (Yakobus 2:17, 20, 26) dan karena itu tidak dapat menyelamatkan! 
  • Ungkapan “menyeru nama Tuhan” adalah cara idiomatis untuk mengatakan: “merespons dengan tindakan patuh yang tepat.” Ini adalah kiasan yang dikenal sebagai sinekdoke (yaitu, sebagian mewakili keseluruhan). “Menyeru” nama Allah adalah sama dengan mengatakan, “Lakukanlah apa yang Ia perintahkan untuk kamu lakukan.” Yesaya 55:6 memberitahu orang-orang Yahudi pada zaman Yesaya untuk menyeru Allah. Ayat 7 menjelaskan caranya: (1) meninggalkan cara-cara yang jahat, (2) meninggalkan pikiran-pikiran yang jahat, (3) kembali kepada Tuhan. Mematuhi tiga ketentuan ini merupakan “menyeru kepada Allah.”

 Demikian juga, orang-orang di Yerusalem yang “menyeru nama Tuhan” (Kisah 9:14, 21) telah melakukan itu, tidak hanya dengan pengakuan lisan, tetapi dengan pertobatan dan baptisan untuk pengampunan dosa (Kisah 2:38). Demikian pula, Paulus sendiri menjadi orang Kristen, yaitu, ia “menyeru nama Tuhan”—bukan dengan mengakui Kristus secara verbal—tetapi dengan dibaptis (Kisah 22:16). Bagi Paulus, “menyeru nama Tuhan” adalah sama dengan (bukan sebelum) dibaptis. Allah membasuh dosadosanya dengan darah Yesus pada saat dibaptis.

KESIMPULAN

Meski sebagian besar dunia Kristen selama berabad-abad telah berbelok ke dalam Calvinisme dan pemikiran teologis pasca-abad pertama lainnya, namun makna dan rancangan baptisan ditentukan oleh Perjanjian Baru. Ayat-ayat dalam Perjanjian Baru yang bicara tentang baptisan adalah definitif. Mereka menunjukkan bahwa penyelaman dalam air mendahului keselamatan—bersama dengan iman, pertobatan, dan pengakuan tentang keilahan Kristus. Tidak ada keberatan yang pernah membatalkan fungsi yang dimaksudkan oleh Allah ini.

Catatan Akhir

1 Meski pencuri itu mungkin telah menyerahkan diri kepada sang perintis kepada baptisan PB, yaitu baptisan Yohanes, itu juga “untuk pengampunan dosa” (Markus 1:4; Lukas 3:3).

2 Lihat juga Dave Miller (2003), “The Thief on the Cross,” Apologetics Press, http://www. Apologeticspress.org/ APContent.aspx?category=11&article=1274&topic=86.

3 Cf. Eric Lyons (2004), “Calling on the Name of the Lord,” https://www.apologeticspress.org/articles/ 597.

4 Rudolf Bultmann (1968), “πιστεύω,” Theological Dictionary of the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1982 reprint), 6:206; Fredrick William Danker (2000), “ὑπακοη,” A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (Chicago, IL: University of Chicago), third edition, p. 1028; James Denny (no date), “St. Paul’s Epistles to the Romans” in The Expositor’s Greek Testament, ed. W. Robertson Nicoll (Grand Rapids, MI: Eerdmans), 2:587; J.B. Lightfoot (1895), Notes on Epistles of St. Paul (London: Macmillan), p. 246; H.P.V. Nunn (1912), A Short Syntax of New Testament Greek (Cambridge: Cambridge University Press), p. 42; Geoffrey H. Parke-Taylor (1944), “A Note on ‘είς ὑπακοὴν πίστεως’ in Romans 1.5 and xvi.26,” The Expository Times, 55:305-306; A.T. Robertson (1931), Word Pictures in the New Testament (Nashville, TN: Broadman Press), 4:324; Marvin Vincent (1946), Word Studies in the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans), 3:5; W.E. Vine (1966), An Expository Dictionary of New Testament Words (Old Tappan, NJ: Fleming H. Revell), p. 123.

5 W.M. Ramsay (1915), The Bearing of Recent Discovery on the Trustworthiness of the New Testament (London: Houghton and Stoughton), p. 165.

6 Untuk diskusi menyeluruh masalah ini, lihat Dave Miller (2005), “Is Mark 16:9-20 Inspired?” Reason & Revelation, 25[12]:89-95, December, https://www.apologeticspress.org/articles/2780.


Published

A copied sheet of paper

REPRODUCTION & DISCLAIMERS: We are happy to grant permission for this article to be reproduced in part or in its entirety, as long as our stipulations are observed.

Reproduction Stipulations→